Pemimpin yang sukses adalah orang-orang yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk timnya. Di dalam lingkungan tersebut, tim akan jauh lebih efisien karena setiap individu di dalamnya bersedia untuk bekerjasama dan berbagi satu sama lain.

Transisi terberat menjadi pemimpin adalah pergeseran dari seseorang yang biasa mengikuti kemudian dirinya harus menjadi seseorang yang harus bertanggung jawab terhadap kondusivitas lingkungan kerja dan tentu berhubungan erat dengan budaya kerja perusahaan. Lalu apa masalahnya? Ini tidak segampang yang kita pikirkan bahwa dengan “aturan baru” semua selesai.

Untuk mendapatkan lingkungan kerja yang kondusif, Anda tidak bisa mengatur bagaimana cara pikir atau perilaku seseorang. Sebagai gantinya, Anda perlu memberikan kesempatan kepada setiap karyawan untuk mendapatkan pembelajaran dan merasakan manfaat dari kolaborasi secara langsung. Dan ketika setiap orang terdorong untuk membagikan ide dan informasi, pembentukan silo di organisasi bisa dicegah. 

Silo merupakan sebuah pola pikir dimana orang-orang dalam satu atau beberapa departemen tidak ingin berbagi informasi dengan departemen lain meskipun berada di dalam perusahaan yang sama. Budaya silo ini akan menciptakan kolaborasi dari berbagai tim atau departemen menjadi terbatas, kecuali kolaborasi tersebut diyakini mampu memberikan sejumlah keuntungan tersendiri, terlebih bagi individu. Tipe mentalitas seperti inilah yang menyebabkan in-efisiensi dalam proses bisnis, mengurangi nilai-nilai moral anggota, dan dapat mengganggu budaya perusahaan yang produktif.

Mengatasi kondisi tersebut, para pemimpin perusahaan dari level manajerial sampai eksekutif akan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab. Mereka memiliki andil besar dalam menetapkan irama dan mengatur nilai-nilai budaya di organisasi. Dan jika mereka ingin memiliki budaya organisasi yang bebas silo, salah satu peran yang harus dilakukan adalah mempromosikan kolaborasi dengan gaya manajemen yang inklusif. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan kami berikut ini.

Baca juga  Inovasi, Jawaban atas Tantangan Zaman

Kolaborasi sebagai prioritas 

Kolaborasi tim yang kompleks menunjukkan produktivitas dan kebiasaan yang inovatif.  Peningkatan kolaborasi tidak akan terjadi sebelum kita membuat sesuatu yang baru. Kita bisa belajar dari siklus kehidupan yang mana akan berubah setelah melalui eksperimen yang berevolusi. Dari fakta ini bisa disimpulkan bahwa kita perlu melakukan eksperimen secara terus menurus untuk menemukan cara atau metode kolaborasi yang sesuai dengan tim. 

Kolaborasi tim selalu dimulai dari individu, artinya itu akan tumbuh ketika setiap individu di dalam organisasi mampu membangun kemitraan yang kuat dengan individu-individu lain dan puncaknya adalah ketika tim mampu menggunakan kemampuan dan kekuatan mereka untuk bekerja secara kolektif.

Untuk mengetahui apakah anggota di tim Anda memiliki kemitraan yang baik atau tidak, tanyakan kepada mereka tentang kemampuan apa saja yang dimiliki timnya, tanyakan apa saja kelebihan dan kekurangan setiap anggota tim. Jika mereka mampu mengenali kemampuan rekannya dengan baik dan mampu mengarahkannya ke dalam strategi, maka Anda tidak perlu lagi mencemaskan mereka. Ingat, tim terbaik selalu memiliki anggota yang bisa berbagi satu sama lain dan selalu menjaga nilai yang sama. Singkatnya, rasa peduli mengakar menjadi DNA di perusahaan. 

Michael Bush, penulis Great Place To Work For All kepada Forbes mengatakan bahwa kepedulian di tempat kerja memiliki kekuatan besar. Bush mendorong semua orang di perusahaan untuk berpikir tentang lingkungan kerja seperti apa yang telah mereka ciptakan setiap harinya, khususnya bagi mereka yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan.  Menurutnya, pemimpin atau manajer harus mampu bersikap dan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi lebih baik dan manajer dengan tingkat kepedulian yang tinggilah yang bisa melakukannya.

Rasa kepedulian tidak akan dimiliki begitu saja, melainkan harus dimulai dari diri sendiri. Perhatikan, kita bisa sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu menyelesaikan tugas, tidak melakukannya dengan cukup baik, atau merasa tidak baik karena merasa tidak cukup berpengaruh. Jadi, jika Anda ingin merawat tempat kerja yang baik maka Anda harus memulainya dengan merawat diri Anda dengan lebih baik. Sikap peduli terhadap diri sendiri adalah fondasi untuk bisa menjadi pemimpin yang peduli. Ada begitu banyak rekomendasi tentang bagaimana cara merawat diri, pilihlah satu yang paling sesuai dengan gaya Anda. 

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Mendengar secara aktif

Dalam membangun organisasi, pemimpin harus bisa membuat anggotanya mendengarkan rekan timnya secara aktif. Karena dengan mendengar, mencari sudut pandang dan pendapat yang berbeda akan membuka pintu kolaborasi yang lebih baik. Setiap anggota tim juga aktif untuk belajar dari satu sama lain sehingga tidak ada lagi gap antar divisi dan kepercayaan satu sama lain pun meningkat. 

Untuk itu, penting bagi meluangkan waktu khusus agar terhubung dengan tim. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Anda memiliki kepedulian tinggi terhadap karyawan. Ini juga akan membantu Anda lebih memahami harapan mereka, dan juga menjadi kesempatan bagi Anda untuk membagikan tujuan perusahaan sehingga semua orang bisa selaras. Oleh karena itu, maka kami sarankan untuk menjadwalkan pertemuan dengan setiap karyawan. Ada berbagai opsi yang bisa Anda pilih, misal menemui karyawan di shift mereka atau menjadwalkan pertemuan selama 30 menit dimulai dari karyawan senior.

Mark Whitten yang merupakan kontributor di Industryweek dalam artikelnya menyebut bahwa selain pertemuan grup, pertemuan one on one juga penting dilakukan. Seperti kita tahu, beberapa orang memiliki agenda masing-masing dan mendominasi pembicaraan sementara yang lain hanya diam. Salah satu cara agar setiap karyawan bisa nyaman berbicara secara terbuka yaitu dengan mengundang mereka berbicara sendiri tanpa harus dikelilingi rekannya.

Anda juga harus memberikan pesan yang konsisten kepada setiap karyawan. Pertemuan yang Anda lakukan adalah untuk menggali informasi dan pemikiran karyawan, maka pembicaraan itu harus fokus tentang mereka, bukan Anda. Tetapi Anda juga harus menyampaikan apa harapan Anda dengan jelas, seperti pentingnya kejujuran, integritas, dan loyalitas terhadap perusahaan. Setelah Anda membagikan harapan, kemudian giliran mereka untuk membagikan apa yang menjadi harapan mereka. Tanyakan kepada mereka apa yang mereka harapkan dari Anda, katakan bahwa Anda membutuhkan umpan balik dari mereka untuk menghindari kesalahpahaman. 

Baca juga  Efisiensi vs. Efektivitas: Prioritas Manakah yang Lebih Utama?

Tidak Terjebak dalam Micromanagement

Tidak ada satu orang pun karyawan yang menyukai “bos” yang terlalu berlebihan dalam mengamati dan memeriksa setiap pekerjaan. Bukan tanpa sebab, pasalnya selain dirasa mengganggu, perilaku ini juga dapat menghambat pertumbuhan profesionalitas dan kreativitas tim. 

Jika Anda ingin tim berkolaborasi, maka berikan mereka ruang yang cukup untuk melakukannya. Anda tidak harus mengawasi setiap langkah kecil dalam prosesnya, ada baiknya Anda lebih terlibat dalam peran yang lebih besar, yaitu dalam hal pembelajaran dan akuntabilitas. 

Dalam mengerjakan proyek, tim selalu bekerja berdasarkan tujuan dan tenggat waktu  yang telah disusun rapi. Agar berjalan sesuai rencana, hal ini harus terus dikomunikasikan dengan jelas. Tanpa komunikasi tim yang efektif, tenggat waktu dapat terlewat, dan tentu membuat karyawan frustasi. Agar terhindar dari semua kerugian ini, sebelum proyek dimulai pemimpin tim harus lebih dulu mencari tahu siapa yang akan terlibat dan siapa yang masih membutuhkan pengembangan. Lakukan komunikasi secara efektif dan efisien, serta hindari interaksi dan pertemuan yang tidak produktif, ini adalah salah satu cara terbaik bagi Anda untuk memastikan kemajuan yang dibutuhkan oleh semua orang.