Beberapa minggu yang lalu, media dipenuhi dengan gambar kapal kontainer besar yang memblokir Terusan Suez seminggu lamanya. Banyak media internasional yang turut merespons hal ini, salah satunya adalah New York Times yang menyatakan bahwa dunia memiliki ketergantungan yang berlebihan pada Just in Time (JIT) sehingga mengakibatkan kerentanan dalam rantai pasok. Mereka juga menyalahkan sistem JIT sebagai penyebab kekurangan peralatan medis secara global selama gelombang pertama Covid-19 terjadi. Pemberitaan ini kemudian menuai banyak tanggapan, pasalnya JIT bukanlah hanya tentang sistem produksi.

Ken Eakin, penulis Office Lean: Understanding and Implementing Flow in Administrative and Professional Environments dalam artikelnya yang dirilis di lean.org mengatakan penting  untuk diperhatikan bahwa JIT bukan hanya sistem produksi tetapi juga sebagai sistem penyediaan. Dengan kata lain, JIT adalah tentang menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pengguna akhir dengan tingkat kualitas dan fitur yang tepat, jumlah yang tepat, dan harga yang tepat. Sistem ini tentu dimulai dari proses produksi namun tidak berakhir disana melainkan konsumen yang jauh dari pabrik.

Sistem JIT

Jika dilakukan dengan tepat, JIT dan lean manufacturing dapat memberikan banyak manfaat kepada bisnis secara keseluruhan, artinya bukan hanya pemiliki bisnis tetapi juga para pekerja dan pelanggan. JIT mampu melakukan penyeimbangan dan koordinasi jalur produksi sehingga dapat meminimalkan pekerjaan dalam proses. Penghematan biaya pun bisa dilakukan karena sistem ini mengatur operasi yang efisien tanpa adanya persediaan atau bahan mentah yang berlebihan.

Sayangnya, seringkali terjadi kesalahan dalam menilai sistem produksi JIT dengan menilai JIT sebagai sistem inventori minim yang mengandalkan efisiensi sehingga menyebabkan rantai supply chain menjadi rentan terhadap kondisi darurat.

Baca juga  Mengenal Pareto Chart

Menurut Eakin, alasan yang lebih masuk akal atas kekurangan pasokan adalah karena supply chain global kita masih panjang dan rumit. Jaringan yang panjang dan melibatkan banyak perusahaan dengan kapasitas dan sistem produksi yang berbeda maka kemungkinan terjadi suatu penundaan sangat tinggi terutama ketika permintaan tinggi. Tentu ketika media menyebut supply chain kita rentan adalah benar, namun menjadi salah jika mengarahkan strategi JIT sebagai penyebab utamanya. Karena supply chain yang panjang dan kompleks adalah kebalikan dari JIT. Dan menimbun barang tidak menggaransi kita akan menjadi baik-baik saja.

JIT merupakan metode yang berlawanan dengan push system pada manajemen supply chain. Dalam push system, produksi dijadwalkan untuk memenuhi permintaan yang diprediksi, atau dikenal sebagai produksi massal. Sistem ini mungkin bisa saja tepat, tetapi ketika prediksi yang dilakukan tidak akurat maka strategi ini akan menjadi sia-sia. Pertengahan tahun lalu banyak yang memproduksi masker dan hand sanitizer dalam jumlah besar-besaran, apakah semua habis diserap oleh pasar? Apakah mereka tidak mengalami masalah penyimpanan? Tanpa adanya batasan WIP dan produksi dalam jumlah besar dapat meningkatkan inventaris dan waktu siklus, artinya pemborosan terus berjalan.

JIT dan Lean Adalah Solusi

Konsep  JIT yaitu memproduksi sesuatu hanya sesuai kebutuhan saja dengan tujuan mencapai 3 elemen R, yaitu right product, right quantity, at the right time. Meski demikian, konsep ini juga memiliki keterbatasan yaitu karena menggunakan stok level sebagai pemicunya maka variasi pada permintaan akan difaktorkan dalam safety level. Jika variasinya sangat tinggi maka konsekuensi yang akan diterima adalah jumlah safety stock yang sangat tinggi.

Prinsipnya adalah pengadaan barang akan selalu dibedakan berdasarkan skala prioritas. Untuk barang yang kurang penting (dalam hal risiko), JIT dapat digunakan sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas produksi, fleksibilitas, dan daya tanggap terhadap fluktuasi permintaan konsumen. Ketika produksi Anda menggunakan sistem JIT dan mengikuti prinsip-prinsip Lean dengan benar, maka Anda akan menemukan bahwa sistem Anda akan menjadi jauh lebih fleksibel. Bahkan ketika permintaan berfluktuasi atau kondisi pasar berubah secara tidak terduga, itu tidak akan menjadi masalah, karena Anda mudah menyesuaikan produksi.

Baca juga  Memiliki Perusahaan yang Masih Kecil? 3 Hal tentang Six Sigma ini Kamu Wajib Tahu

Ingat, yang paling penting untuk disikapi adalah situasi bisnis hari ini menjadi semakin tidak terprediksi sehingga bisnis harus bisa lincah menghadapi setiap perubahan yang ada. Bahkan untuk barang-barang tertentu yang sangat kritikal, memiliki dampak severity besar, berisiko tinggi terhadap sistem utama dari pasokan produksi maka kita bisa mengkombinasikan dengan system redundant atau konsep JIC (Just in Case).

JIT dan Lean adalah bagian dari solusi, bukan sebagai penyebab masalah. Dengan menggunakan sistem manajemen lean dan JIT, kita bisa biaya operasi menjadi berkurang ketika biaya tenaga kerja semakin meninggi. Tentu saja sistem ini tidak dapat berjalan dengan sendirinya, sistem ini akan efektif ketika jaringan supply chain mendukung dan juga memiliki fokus yang sama yaitu konsumen.

Sumber: industryweek, lean.org, nytimes