Oleh Rifki Rizal Derrian – CEO SSCX International

Sahabat SHIFT, seiring perkembangan usia dan pembelajaran di bidang continuous improvement dan operational excellence yang saya mulai sejak tahun 2000, saya mengalami beberapa fase penting dalam pembelajaran.

1. Fase Belajar Teknis, Metode, dan Tool di Industri Manufaktur

Pada masa awal belajar, saya sangat fanatik dengan metode dan tool. Saat itu pembelajaran saya betul-betul lebih fokus kepada aspek teknis, bagaimana metode dan tool tersebut digunakan. Misalnya, dalam validasi sesuatu hal, bagaimana cara pengambilan datanya, cara mengolahnya, termasuk cara mengoperasikan software statistic untuk pengolahan data (saat itu menggunakan minitab versi jadul, dan juga SPC KISS, SPC XL, DOE KISS dan DOE Pro), lalu bagaimana cara interpretasinya dan bagaimana pengambilan keputusannya.

Saat itu, saya masih bekerja di sebuah pabrik multinasional yang beroperasi di Batam dan Singapura. Karena memang lingkup metode dan tool-nya lahir di industri manufaktur, maka saat itu terasa pas penggunaan dan peruntukannya. Ya, ini karena memang tool tersebut dibuat untuk analisa-analisa di kasus manufaktur.

Sebagai contoh saya ambil salah satu tool yang dinamakan MSA (Measurement System Analysis). Tool ini digunakan untuk memvalidasi seberapa mampu sistem pengukuran kita mendeteksi pengukuran dengan baik. Karena jika tidak mampu, maka bisa saja produk bagus dinilai jelek, atau sebaliknya produk jelek dinilai bagus. Jika tidak mampu, maka kita DILARANG mengotak-atik proses pembuatan produk tersebut. Kenapa? karena bisa saja data cacat yang tinggi itu akibat dari PROSES YANG SEBENARNYA BAIK TAPI SISTEM PENGUKURANNYA YANG JUSTRU JELEK.

2. Fase Kontekstualisasi dan Modifikasi Metode dan Tool ke Konteks atau Industri Lain

Seiring perkembangan waktu, saya bekerja menjadi seorang konsultan di mana klien-klien non-manufaktur cukup banyak dan bervariasi. Di sinilah saya mulai dipaksa untuk belajar bagaimana metode dan tool yang saya gunakan dalam industri manufaktur bisa digunakan dengan konteks yang tepat di kasus non-manufaktur. Agar konsisten, saya mengambil contoh tool yang sama yaitu MSA (Measurement System Analysis).

Baca juga  Inovasi, Jawaban atas Tantangan Zaman

Nah, disini saya sudah mulai memikirkan konteks yang berbeda namun dengan tool yang sama. Cukup membutuhkan perjuangan untuk bisa mengubah pemikiran dari konteks manufaktur ke non-manufaktur.

Di Human Capital misalnya, bagaimana MSA yang filosofinya adalah untuk memvalidasi sistem pengukuran yang ada (pengukur maupun alat ukurnya), maka dalam perjalanan saya dapat menemukan aplikasi lain dari MSA di bidang ini. Misalnya, dengan MSA saya bisa memvalidasi apakah para appraiser yang ditugaskan untuk menilai kinerja seseorang sudah memiliki persepsi penilaian yang standar atau belum terhadap kemampuan, kinerja, dan kompetensi seorang bawahan.

Lebih lanjut, di perusahan kebun sawit misalnya, bagaimana MSA ini bisa saya gunakan untuk memvalidasi apakah para grader vs para pemanen buah ini sudah mampu memvalidasi dengan benar apakah buah sawit yang dipanen ini matang, kurang matang, atau terlalu matang.

Kemudian di perusahaan keuangan, bagaimana MSA ini bisa saya gunakan untuk memvalidasi apakah para analis/ underwriter sudah memiliki kemampuan yang cukup baik dan merata untuk menilai seorang calon nasabah pengajuan kredit. Atau bagaimana para appraiser di bank sudah memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menilai sebuah jaminan kolateral calon nasabah yang akan diagunkan misalnya.

Demikian seterusnya, dan disinilah pembelajaran saya menjadi semakin berkembang, bagaimana sebuah tool atau metode yang orisinilnya berasal dan lahir di dunia manufaktur, namun dengan pemahaman filosofi dan purpose atau hakikat peruntukan tool atau metode tersebut, kita bisa memodifikasi penggunaan tool tersebut untuk berbagai keperluan di berbagai industri.

3. Lebih Jauh Lagi, Belajar Kontekstualisasi di Tingkat yang Lebih Tinggi – di level Framework

Di fase 1 dan 2, saya banyak belajar secara evolutive terkait dengan kontekstualisasi metode dan tool. Di fase berikutnya kita bisa mendorong pembelajaran di tingkat yang lebih “high level” yakni kontekstualisasi dari framework dan best practice-nya itu sendiri.

Baca juga  Inilah Pondasi Membangun Keunggulan Bisnis dari Marriot hingga Toyota

Sebagai contoh di dunia operational excellence, kita memiliki berbagai pilihan best practice seperti:

  1. Lean Manufacturing
  2. Lean Six Sigma
  3. Total Productive Maintenance

Atau di dunia project misalnya, kita mengenal yang namanya best practice: Project Management.

Nah, di fase 3 ini menurut pandangan saya akan lebih memantapkan pemahaman dan pembelajaran kita. Dengan memahami filosofi sebuah best practice kita dapat belajar untuk mengkontekstualisasikannya ke ranah berbeda. Sebagai contoh:

  1. Kita dapat memodifikasi best practice Lean Manufacturing untuk industri perbankan misalnya (Lean Manufacturing bertransformasi menjadi Lean Banking). Contoh lainnya: Lean IT, Lean Financing, Lean Service, Lean Hospital, dll
  2. Demikian juga untuk Lean Six Sigma dan Total Productive Maintenance yang bisa kita transformasikan menjadi Lean Six Sigma atau Total Productive Maintenance for Construction Industry, for Mining, for Energy, dll.

Sahabat SHIFT, dibutuhkan minat belajar dan praktik yang mendukung sehingga kita bisa mengaplikasikan knowledge yang telah kita pahami di konteks yang lebih luas baik di level metode, tool, bahkan framework.

Ini hanya contoh kecil saja. 3 Fase di atas rasanya bisa kita terapkan untuk ilmu-ilmu yang lain sehingga dapat melahirkan inovasi-inovasi baru baik di tingkatan metode, tool, bahkan framework.

Jika kita sekarang cukup sering mendengar dan familiar dengan Agile, maka ini adalah sebuah inovasi pengembangan dari Best Practice LEAN yang diadaptasi untuk kondisi environment external (customer, bahkan market) yang sangat dinamis dan cenderung lebih besar ketidakpastiannya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda!

Salam improvement,

SSCX International