Jika kinerja perusahaan Anda ditopang oleh sistem kerja bergilir, bersiaplah membuat program kesehatan dan perbaikan-perbaikan baru. Berdasarkan International Labour Organisation (ILO) 2010, terdapat 106 jenis penyakit akibat kerja (PAK). Penyakit akibat kerja merupakan penyakit spesifik yang diderita pekerja terkait gangguan metabolik, kardiovaskular dan penyakit degeneratif.

Menurut sejumlah pengamat dan praktisi kesehatan, faktor dari dalam dan luar pekerjaan menjadi penyebab utama munculnya gangguan penyakit akibat kerja. Bahkan, sistem kerja bergilir disinyalir sebagai faktor penyebab gangguan metabolik seperti diabetes serta kolesterol tinggi akibat gangguan sistem endokrin, hormonal, lantaran gangguan pada pola tidur. Sistem kerja bergilir menjadi faktor dari dalam yang cukup signifikan berkontribusi pada kerawanan kesehatan karyawan.

Meski belum ada angka pasti yang menyebutkan jumlah tenaga kerja yang menderita penyakit akibat kerja, faktor luar pekerjaan seperti gaya hidup, pola makan, jarang olah raga, rokok dan alkohol menjadi pemicu tingginya PAK.

Survei yang dilakukan Virgin Pulse dan Workforce Magazine terhadap 3.822 karyawan mendapatkan sejumlah informasi terkait penawaran kesehatan yang diinginkan karyawan dan solusi yang diberikan perusahaan. Program aktivitas fisik menjadi penawaran kesehatan yang paling diminati, sebesar 72,4% dan sekitar 53,3% perusahaan merespon penawaran tersebut.

Sebanyak 62% karyawan menginginkan adanya kemudahan akses pada pusat kebugaran, namun hanya 36% perusahaan yang merespon. Survei penawaran program kesehatan memberikan gambaran bahwa dibutuhkan kesepahaman terkait risiko dalam pekerjaan dan bagaimana mengantisipasinya.

Hubungan perusahaan dan karyawan sudah seharusnya bersifat mutual. Hak pekerja atau buruh untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja diatur di dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 86 ayat 1.

Dalam hal ini perusahaan perlu melakukan perbaikan-perbaikan berkelanjutan terkait kinerja karyawan di tengah risiko gangguan kesehatan akibat kerja. Terlebih karena sistem kerja bergilir menjadi temuan baru, berisiko memicu penyakit akibat kerja. []

Baca juga  Mengantisipasi resistensi dalam proses transformasi