Menyambut sistem perdagangan pasar bebas atau ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada akhir 2015 mendatang, hal ini ternyata juga menarik perhatian berbagai perusahaan Amerika untuk melakukan bisnisnya di kawasan Asia Tenggara, khususnya Thailand.

Mengapa mereka memilih Thailand?

Sebuah survey yang dilakukan oleh Kamar Dagang AS dan American Chambers of Commerce kepada responden dari negara-negara anggota ASEAN, menunjukkan sebagian besar responden tidak yakin bahwa tujuan dari Asean Economic Community (AEC) atau disebut juga Masyarakat Ekonomi ASEAN bisa tercapai di tahun 2020. Sedangkan, responden di Thailand, lebih dari setengahnya mengindikasikan bahwa kemampuan bersaing dan investasi perusahaan mereka di ASEAN telah meningkat dalam dua tahun terakhir.

Namun demikian, secara keseluruhan 78 persen eksekutif bisnis yang berbasis di Thailand menganggap ASEAN sebagai bagian penting untuk membantu perusahaan mereka melakukan bisnisnya di wilayah tersebut.

“Fundamental ekonomi Thailand sangat kuat dan anggota kami melaporkan bahwa bagi mereka, integrasi bisnis di ASEAN ini sama seperti  kegiatan bisnis pada umumnya. Mereka sudah memiliki rencana bagaimana melakukan ekspansi pasar untuk menyambut AEC,” kata Darren Buckley, presiden AMCHAM, saat menghadiri rapat Menteri Ekonomi ASEAN, seperti dikutip industryweek.com.

“Dengan situasi politik yang stabil, bisnis jadi memiliki derajat yang lebih tinggi sehingga membawa optimisme dan kepercayaan investor asing,” tambah Darren.

Responden di Thailand juga memiliki pandangan positif terhadap iklim bisnis saat ini dengan mayoritas pengusaha tidak menghadapi kendala pembiayaan yang signifikan atau biaya yang lebih tinggi dari pinjaman.

Survey ini juga menunjukkan bahwa sebanyak 62 persen responden berharap ekspansi bisnis mereka bisa lebih luas dari tahun lalu, 75 persen ingin prospek laba tetap kuat dan 82 persen mengharapkan keuntungan yang meningkat.

Baca juga  Antara Lean dan Agile, Mana yang Lebih Efektif di Masa Kini?

Selain itu, tentu saja ada kekhawatiran tentang stabilitas pemerintahan dan sistem politik, yang menjadi kekhawatiran bagi 80 persen responden serta sebanyak 78 persen masih khawatir akan kasus korupsi.***

Sumber: Industryweek.com