Pernahkah Anda mengalami kesalah pahaman di lingkungan kerja? Pastinya. Cerita berikut ini mungkin dapat sedikit memberikan inspirasi untuk Anda yang pernah atau saat ini sedang mengalami konflik kesalah pahaman di lingkungan kerja Anda.

Rebuild The ‘Burned Bridge’

Istilah ‘burning bridge’ ternyata telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Burning bridge adalah suatu istilah yang digunakan sebagai strategi di dunia militer, yang memiliki arti memutuskan rute antara pasukan dan musuh. Atau ada juga yang mengartikan istilah ini dengan tidak adanya jalan untuk kembali. Pada intinya, burning bridge memiliki makna untuk terus berkomitmen dan maju ke depan tanpa menoleh ke belakangan ataupun berjalan mundur kembali, tidak peduli apapun yang terjadi.

Dalam dunia bisnis atau lingkup pekerjaan, istilah burning bridge diartikan dengan melakukan atau mengatakan sesuatu – biasanya tidak baik – yang tidak mungkin ditarik kembali. Tidak ada pengertian khusus tentang apa sebenarnya arti burning bridge di lingkungan kerja, tetapi Anda bisa mengerti lebih jelas ketika mengalaminya sendiri.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Contoh sederhana yang dapat diambil untuk menggambarkan kondisi burning bridge ini misalnya persaingan dengan rekan kerja selama bertahun-tahun dan kemudian tidak hadir dalam acara perpisahan ketika mereka mengundurkan diri. Atau Anda tidak berhasil menyelesaikan tugas pertama yang diberikan kepada Anda, atau mengundurkan diri dari perusahaan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Burning bridge terkadang menjadi sesuatu yang bermakna positif pada situasi tertentu. Contohnya, saat kita hendak mengungkapkan kemarahan yang telah lama dipendam dan membiarkan emosi Anda memimpin selama beberapa saat. Akan tetapi, dampaknya akan terus mengikuti Anda baik secara pribadi dan profesional.

Lauren Bloom, penulis buku The Art of Apology: How, When, and Why to Give and Accept Apologies mengatakan bahwa burning bridge bisa datang dan menyerang balik kapan saja. Sehingga, akan lebih baik untuk mempelajari bagaimana memperbaikinya terlebih dahulu sebelum masalah tersebut menjadi penyebab rusaknya karir Anda di masa mendatang.

Baca juga  Tidak perlu bingung, ini beda value add dengan value enabler

Beth Weinstock, seorang ahli psikologi klinis, leadership coach sekaligus pendiri The Resilience Group menyarankan bahwa sebelum mengambil tindakan, alangkah lebih baik untuk memikirkan terlebih dahulu alasan mengapa Anda ingin memperbaiki keadaan dan apa yang Anda harapkan setelahnya. Karena terkadang, di beberapa situasi, ada orang-orang yang memang sulit untuk melepaskan diri dari masa lalu, dan lupa bahwa tidak semua orang akan menyukai Anda atau ingin menjalin kerja sama dengan Anda.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Perbaikan-perbaikan sederhana yang dapat kita lakukan misalnya dengan menjalin kembali komunikasi yang berujung pada pertemuan singkat. Ketika Anda tiba pada saat tersebut, pastikan Anda menjelaskan titik permasalahannya, dan dengarkan juga sudut pandang mereka. Bahkan meskipun Anda bukan sebagai penyebab terjadinya burning bridge tersebut, menjadi orang yang mengambil inisiatif pertama untuk memperbaiki keadaan dan rebuild the burning bridge bukan menjadi sesuatu yang salah.

Terkadang, sesuatu yang berlebihan dan keadaan yang tidak mendukung memang terjadi di luar kendali kita. Namun, memperbaiki kesalahan dan kesalahpahaman untuk membangun kembali burning bridge adalah langkah yang lebih baik daripada tidak berbuat apapun. Perlu diingat, Anda adalah makhluk sosial, yang akan terus-menerus berinteraksi dengan sesame manusia lainnya, dan Anda bukanlah pribadi yang mampu mengendalikan keadaan seperti yang Anda inginkan, dan dalam hidup, jalan yang Anda tempuh tidak selalu mulus dan lurus.***