Salah satu masalah yang kerap dihadapi industi manufaktur adalah pengurangan biaya operasional. Perusahaan bisa melakukan improvement mengurangi biaya dengan menghasilkan listrik, mengubah dan memanfaatkan limbah manufaktur. Namun sayangnya penggunaan energi berbasis bahan fosil memiliki keterbatasan.

Para peneliti mengembangkan sejumlah inovasi mengembangkan unit baterai yang digunakan sebagai sumber energi terbarukan. Korea menjadi salah satu negara yang memproduski energi alternatif ini. Baterai menyimpan tenaga angin dan matahari untuk beberapa waktu saat tak digunakan.

Melalui energi yang terbarukan, alat produksi mendapatkan pasokan energi yang membuatnya terus beroperasi, bahkan sampai 24 jam. Misalnya penggunaan listrik pada conveyor belt. Sayangnya turbin angin dan sel surya bisa menyediakan energi yang cukup pada cuaca tertentu. Perusahaan akhirnya terpaksa mengkonsumsi listrik dengan harga premium, dan sulit menghitung besarnya pengadaan energi.

Baterai penyimpan energi alam terbarukan merupakan solusi alternatif, menghemat biaya operasional industri, bahkan menghasilkan surplus listrik, mengubah limbah manufaktur melalui sistem photovoltaic atap.

Para peneliti di Institute for Factory Operation and Automation IFF di Magdeburg, Jerman, mengembangkan manajemen baterai melalui pengembangan subkomponen sitem penyimpanan. Penyimpanan energi memiliki peran penting mengoptimalisasi penggunaan grid, jaringan lisrik, menyuplai infrastruktur industri.

Tujuan dari manajemen baterai dan pengembangan subkomponen penyimpanan tenaga untuk mengatur kapasitas output dan teknologi kontrol grid elektrik. Pun, berupaya mencapai komunikasi efektif antara alat penyimpanan energi dan tenaga jaringan listrik, mampu menghasilkan suplai energi yang aman dan berkualitas. []

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement