Strategi dan perusahaan seringkali dipandang sebagai dua kutub yang berlawanan arah. Strategi dilihat sebagai berlari mengejar arah yang jelas – sesuatu yang secara sistematis diidentifikasikan di awal. Sementara itu, perusahaan dipandang sebagai lambing oportunisme – yang membutuhkan usaha untuk terporos kepada arah yang baru secara terus-menerus, sebagaimana informasi terus ada dan pasar bergerak dengan cepat. Namun, keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Strategi tanpa adanya tempat yang mewadahi hanya menjadi perencanaan terpusat, dan perusahaan tanpa strategi hanya berakhir dengan kekacauan.

Hal yang menjadi penyebab gagalnya perusahaan adalah salahnya pemahaman bahwa bukan untuk menekan, melainkan strategi yang efektif justru memberikan dukungan dengan mengidentifikasi batas dimana inovasi dan praktik harus dilaksanakan. Namun, para eksekutif yang menginginkan perusahaan mereka berada pada tingkat yang lebih baik, seringnya tidak menghargai bagaimana proses tahapan dan beberapa perencanaan dan tools lain untuk mengelola inisiatif pertumbuhan strategis dapat merusak inovasi.

Kenyataannya adalah, mengintegrasikan pendekatan permulaan lean dari bottom-up dengan orientasi manajemen strategis top-down masih menjadi hal yang sulit. Untuk itulah dibutuhkan sebuah pendekatan proses strategi lean, dimana strategi memberikan arahan dan keselarasan secara menyeluruh. Strategi di sini berfungsi baik sebagai tempat ide-ide baru ditampung dan tolok ukur untuk mengevaluasi keberhasilan praktik. Strategi memang sangat memungkinkan untuk menjadi pendukung karyawan untuk menjadi kreatif, dengan tetap memastikan bahwa mereka masih dan akan selalu berada pada satu fokus yang sama dengan seluruh organisasi.

Pada dasarnya, perusahaan mengalami tantangan yang hampir sama: masalah finansial, distribusi, sumber daya, dan lainnya. Selain itu, mereka pun diwajibkan untuk secara bijak mampu mengelola dan mengembangkan sumber daya yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya. Dan di sinilah strategi berperan dengan baik. Untuk memberikan arahan mana yang harus dan tidak harus dilakukan.

Baca juga  Lima Langkah Esensial Menjadi Profesional

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Peran Strategi

Seiring dengan persaingan bisnis yang semakin kuat, strategi yang mengartikulasikan keseluruhan arah perusahaan tentunya sangat diperlukan. Karena strategi akan membantu perusahaan untuk:

  1. Memilih Kesempatan yang Tepat

Analisis strategi yang ketat dapat membedakan pasar yang menjanjikan keuntungan besar dan mana yang hanya memberikan kerugian. Membuat strategi sejak awal dapat menyelamatkan perusahaan dari pasar yang salah.

  1. Tetap Fokus pada Tujuan Utama

Perusahaan yang tidak memiliki strategi akan mencoba dengan terlalu banyak – terlalu banyak cara, yang pada akhirnya akan terlalu banyak menghabiskan biaya. Hal tersebut disebabkan oleh gagalnya perusahaan untuk memusatkan dan mengelola semua sumber daya yang mereka miliki, sehingga mereka tidak mampu unggul dalam persaingan bisnis. Adanya strategi akan membantu perusahaan untuk tetap fokus pada tujuan utama yang mereka miliki.

  1. Menyelaraskan Seluruh Organisasi

Pada perusahaan yang baru berdiri, masih memungkinkan untuk mengkoordinir dan menyelaraskan kegiatan melalui interaksi dan komunikasi internal sehari-hari. Namun bagi perusahaan yang lebih besar dan telah berkembang atau bahkan telah maju, manajemen proyek mungkin dapat membantu, tetapi tidak banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya strategi yang utuh, karena hanya dengan strategi ini para pemimpin dapat memberdayakan seluruh karyawannya dan menghindari terjadinya konflik.

  1. Membuat Komitmen yang Diperlukan

Setelah menemukan peluang, perusahaan pastinya harus melakukan investasi terhadap semua hal yang menjadi kebutuhan untuk mencapainya. Pastinya harus dilakukan pengujian untuk meminimalkan terjadinya risiko kesalahan dan memaksimalkan nilai. Selain itu juga diperlukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan. Tentu saja, investasi tersebut harus selaras dengan strategi yang telah dibuat.

Sumber: hbr.org