Ilustrasi: hbr.org
Ilustrasi: hbr.org

Teori Kendala atau Theory of Constraints merupakan suatu metode perubahan organisasi yang terfokus pada peningkatan laba. Teori ini adalah suatu filosofi manajemen yang diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Elihayu M. Goldratt dalam buku best sellernya yang berjudul “The Goal” pada tahun 1984. Sejak saat itu, TOC terus berevolusi dan berkembang dan saat ini menjadi faktor yang signifikan dalam dunia praktek manajemen.

Konsep penting dari TOC adalah bahwa setiap organisasi harus memiliki paling tidak satu kendala. Sebuah kendala merupakan suatu faktor yang membatasi organisasi dari mendapatkan yang lebih dari apapun yang sedang diperjuangkan, yang biasanya adalah keuntungan. Tujuan ini berfokus pada kendala sebagai hambatan dari suatu proses dalam organisasi manufaktur. Namun, ada juga beberapa kendala non manufaktur, seperti permintaan pasar, atau kemampuan divisi sales untuk menerjemahkan permintaan pasar menjadi suatu order.

5 Tahap Dasar TOC

Teory of Constraints memberikan metode spesifik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kendala-kendala yang ada, yang dikenal dengan the Five Focusing Steps atau 5 Langkah Dasar. Kelima langkah tersebut yaitu:

  1. Mengidentifikasi Sistem Kendala, merupakan bagian dari sistem yang paling lemah, bisa berupa kendala fisik atau kebijakan.
  2. Memutuskan Bagaimana Mengeksploitasi Kendala, yaitu melakukan perbaikan cepat ke seluruh kendala dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
  3. Subordinasi dan Sinkronisasi Kendala, yaitu melakukan tinjauan terhadap semua kegiatan lain dalam proses untuk memastikan bahwa ada keselarasan.
  4. Meningkatkan Kinerja Kendala, berupa pertimbangan mengenai tindakan lanjutan yang harus dilakukan apabila kendala masih tetap ada.
  5. Hilangkan Kendala dan Melakukan Evaluasi Ulang terhadap Prosesnya. Langkah ini berupa pengingat untuk terus memperbaiki kendala yang ada dan kemudian segera beralih pada kendala berikutnya.
Baca juga  Efisiensi dan Revenue Enhancement, Strategi Pertamina Tingkatkan Kinerja

Apa Bedanya TOC dengan Lean Thinking?

Lean thinking adalah metode perubahan organisasi yang juga dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan. Metode ini berasal dari Jepang, dan telah dicontohkan dengan sangat sempurna oleh Perusahaan Automotif terbesar di Jepang, Toyota, yang dikenal dengan Toyota Production System (TPS).

TOC digunakan pada industri manufaktur Jepang setelah perang dunia II mengarahkan Taichii Ono dari Toyota untuk merintis sistem produksi baru yang sangat berbeda, dan jauh lebih baik dibandingkan dengan produksi massal untuk menjamin jenis manufaktur baru. Lean production adalah metode pengorganisasian produksi dengan hanya menggunakan separuh tenaga, ruang, persediaan, dan waktu pengembangan produk dibandingkan dengan mass production. Metode TOC juga menghasilkan kerusakan yang lebih sedikit dan variasi produk yang lebih besar.

Lean thinking mencapai tujuan pengurangan biaya dengan menggunakan sistem pandangan organisasi yang berpusat pada konsep nilai pelanggan. Upaya lean ditujukan untuk menghilangkan semua tahapan dalam produksi barang atau jasa yang tidak menambah nilai ke pelanggan. Ketika TOC memulai proses dengan mengidentifikasi kendala terlebih dahulu, lean thinking menginstruksikan untuk memikirkan kembali konsep nilai sebagai langkah awal.

Secara ringkas, perbandingan antara Lean Thinking dan TOC dijabarkan dalam tabel berikut.

Perbandingan Theory of Constraints (TOC) Lean Thinking
Tujuan Meningkatkan profit dengan meningkatkan throughput Meningkatkan profit dengan menambahkan nilai dari pandangan pelanggan
Ukuran -throughput

-inventaris

-biaya operasional

-biaya

-lead time

-persentase pertambahan nilai

Fokus Perubahan Kendala: link terlemah dalam sistem Menghilangkan waste dan pertimbangan penambahan nilai ke seluruh sistem