SHIFT SSCX Pro kontra

Dibutuhkan orang yang kuat untuk berani mengungkapkan pendapat kepada para pemegang kekuasaan. Karena faktanya, sebuah kebenaran itu memang harus di utarakan. Jika Anda ingin menghilangkan budaya perusahaan “yes man” ini, maka semua itu kembali kepada upaya Anda menciptakan lingkungan kerja yang efektif dalam menerima perbedaan pendapat. Karena seorang pemimpin yang mampu menerima perbedaan pendapat dari para karyawannya, adalah seorang pemimpin sederhana yang mampu merangkul para karyawannya.

Menjadi seorang “yes man” sudah tentu akan memudahkan posisi seseorang dari pekerjaan yang mereka lakukan karena mereka tidak dipusingkan dengan risiko yang timbul akibat pendapat mereka yang melawan arus. Tapi, ini bukanlah pilihan yang diinginkan oleh para pemimpin perusahaan atau para eksekutif yang menjalankan sebuah bisnis. Mereka tentunya tidak ingin para karyawannya hanya ingin “mancari aman” saja sehingga tidak berani memiliki pendapat sendiri.

Hal ini dikarenakan banyak karyawan yang mengira bahwa memiliki pendapat dan pandangan berbeda dari kebanyakan orang dapat menyebabkan konflik kerja. Dan karyawan yang menolak adanya konflik dalam rutinitas pekerjaan mereka, itu hanya karena mereka melihat konflik tersebut dari sisi yang negatif.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sebenarnya konflik kerja itu adalah tools yang sangat efektif dalam memcahkan masalah dan membangun hubungan interpersonal yang baik.

Sehingga sangat penting bagi Anda, para pemimpin dan eksekutif perusahaan untuk melibatkan orang-orang yang berada di luar lingkungan eksekutif Anda sebagai bagian dari pengambilan keputusan yang efektif. Seperti yang dikatakan Gergen, seorang veteran dari White House dikutip dari businessweek.com.

Saran dari Geren ini juga sangat relevan untuk pemimpin manapun, baik pemimpin perusahaan, pemerintahan ataupun lembaga non profit. Tantangan bagi para pemimpin ini adalah memberikan tempat dan kesempatan untuk orang-orang yang tidak setuju dengan mereka, atau bahkan Anda bisa memberikan sebuah penghargaan kepada orang tersebut atas apa yang sudah ia lakukan. Eksekutif yang baik adalah ia yang berhasil menciptakan harapan kepada karyawan bahwa mereka menyambut baik adanya perbedaan pendapat.

Baca juga  5 Karakteristik Pemimpin Agile yang Perlu Kita Ketahui

Dan untuk bisa meciptakan iklim seperti ini, para pemimpin dapat melakukan hal-hal berikut ini:

Berikan Tantangan Dalam Kebijakan yang Anda Terapkan

Para pemimpin harus membuat aturan yang mewajibkan karyawannya untuk memberikan laporan nya langsung kepada mereka dan menginginkan mereka menjelaskan hasil laporan tersebut dengan singkat dan jelas. Dengan begini, Anda telah terbuka untuk berbagi wawasan dan pendapat dengan karyawan Anda.

Berinteraksi dengan Para Stakeholders

Pemimpin atau eksekutif yang baik selalu menjalin hubungan yang baik juga kepada para pelanggannya dengan cara bertemu dan melakukan percakapan kepada mereka secara teratur. Mereka juga sering menggunakan waktu mereka bersama dengan orang-orang yang berada di front line organisasi mereka. Mereka mahir mendengarkan keluhan yang jarang terucap dari para karyawan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak baik, pemimpin yang cerdas mampu merasakan gelagat tersebut dari ekspresi yang terpancar dari para karyawan mereka karena kurangnya antusias dan juga hasrat dari para karyawannya.

Berikan Pujian

Ketika seorang eksekutif tidak mendapatkan saran yang ia perlukan, maka saat ia mendapatkannya dari salah seorang karyawannya, jangan ragu untuk memberikan pujian kepada karyawan tersebut. Pujilah karyawan tersebut didepan karyawan-karyawan lainnya di dalam rapat yang Anda pimpin agar mereka tau bahwa hal tersebut sangat membantu seorang pemimpin dalam mengambil keputusan.

Tentu saja setelah melakukan cara-cara di atas, seorang pemimpin juga harus tau kalau keputusan akhir tetap berada di tangan mereka. Dan terkadang juga mereka harus menjadi seorang yang kontra di dalam ruangan.

Dibutuhkan orang yang kuat untuk berani mengungkapkan pendapat kepada para pemegang kekuasaan. Karena faktanya bahwa sebuah kebenaran itu memang harus di utarakan. Jika Anda ingin menghilangkan budaya perusahaan “yes man” ini, maka semua itu kembali kepada upaya Anda menciptakan lingkungan kerja yang efektif dalam menerima perbedaan pendapat. Karena seorang pemimpin yang mampu menerima perbedaan pendapat dari para karyawannya, adalah seorang pemimpin sederhana yang mampu merangkul para karyawannya.***