Heboh vaksin palsu bermula dari penangkapan pemalsu vaksin bayi di sebuah rumah mewah di Bekasi, Jawa Barat akhir Juni 2016. Pemalsu vaksin itu telah beroperasi selama 13 tahun
tanpa terusik. Kasus vaksin palsu terungkap setelah jatuh korban bayi 5 bulan pada Mei
lalu di Jakarta Timur, lantaran mendapatkan imunisasi DPT 3 oleh paramedis.

Vaksin pertamakali ditemukan Edward Jenner pada 1796 merupakan senyawa antigenik berguna menghasilkan kekebalan aktif, meningkatkan imunitas tubuh atas penyakit tertentu.
Manusia membutuhkan vaksinasi atau imunisasi sedari awal pertumbuhan untuk mampu
beradaptasi dengan kemungkinan-kemungkinan ekstrim alam. Salah satunya kemungkinan
menghadapi penyakit.

Vaksin palsu tentu mengganggu upaya manusia untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Di
sisi lain terdapat masalah dalam industri kesehatan di Indonesia. Masalah mulai dari
pembuatan obat-obatan resmi yang bisa dipalsukan, sampai manajemen pengelolaan limbah.

Hasil penelitian sebuah lembaga swasta di Jakarta pada 2011-2015 terhadap pengelolaan
limbah atau waste management menemukan kebocoran limbah botol bekas obat, jatuh ke
tangan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Limbah botol yang seharusnya dimusnahkan,
akhirnya diisi ulang dengan obat atau vaksin palsu. Vaksin palsu merupakan obat yang
dibuat secara melawan hukum, oleh pihak yang tak memiliki hak dan izin edar, meski
mutunya sama.

Munculnya vaksin palsu mengindikasikan lemahnya aspek manajerial dan pengawasan dalam
rantai pasok industri farmasi. Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) sebagai
lembaga yang memiliki otoritas terhadap keamanan, mutu obat dan makanan yang beredar di
masyarakat, melakukan sejumlah langkah antisipasi.

BPOM melakukan pengawasan pre-market dan postmarket terhadap vaksin yang diproduksi
industri farmasi resmi. Pun, bekerjasama dengan Kepolisian RI untuk mengawasi produksi
vaksin ilegal.

Lean Pharma

Meski telah mengantisipasi tindakan ilegal dan aspek produksi, vaksin palsu tetap saja
muncul. Solusi bukan hanya terletak pada penegakan hukum, namun secara kritis dan
analitis memeriksa rantai produksi dan rantai pasok industri obat-obatan.

Industri farmasi selama ini memiliki sejumlah kendala terkait assessment produk. Seperti
yang telah disampaikan sejumlah pengamat, bahwa modal atau capital expenditure sektor
farmasi termasuk tinggi.

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Di sisi lain produk baru yang dihasilkan dari proses riset mesti secepatnya menjadi pilot plant dengan proses produksi yang tepat. Umumnya, perusahaan farmasi tak memiliki waktu melakukan assessment dan menemukan metode manufaktur optimum dalam
berproduksi.

Industri farmasi, dalam hal ini perusahaan farmasi beserta pabriknya, mesti
mempersiapkan segala kemungkinan untuk memperpendek siaklus hidup produk. Seringnya,
perusahaan farmasi terhambat dalam proses produksi lantaran rumit di metode perencanaan. Mengurangi siklus perencanaan menjadi langkah efektif.

Selanjutnya, untuk tetap mengoptimalkan profitabilitas, perusahaan mesti melakukan
pemodelan ulang dan pengambilan keputusan penting di setiap siklus hidup produk.
Peluang-peluang perbaikan berkelanjutan itu terangkum dalam manajemen ramping (lean
management) yang biasa diterapkan dalam industri manufaktur, kemudian secara bertahap
diimplementasikan dalam industri farmasi (Lean Pharma).

Lean Pharma tak terbatas pada inisiatif penghematan biaya dari variasi dan repetisi proses produksi, namun ke depan kian berjalan efisien seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan teknologi dalam praktik Lean Pharma mampu memperbaiki metode reduksi waste. Hubungan pemasok-pelanggan kian bebas hambatan sehingga kemungkinan salah paham informasi dan ambiguitas komunikasi sangat kecil terjadi.

Melalui jaringan sosial, pelanggan berbicara langsung kepada perusahaan produsen obat
yang mereka konsumsi tanpa melalui dokter atau tenaga medis. Sehingga, kemungkinan
adanya vaksin palsu, ilegal, sangat mungkin untuk ditekan dan dihindari konsumsinya.

Lean Pharma memungkinkan pengurangan waktu dalam siklus produksi secara signifikan,
karena siklus produksi yang panjang tentunya mengganggu keseluruhan aliran produk.
Akhirnya perusahaan farmasi yang menggunakan manajemen ramping mampu membuat produk berkualitas dengan waktu produksi lebih singkat melalui perbaikan-perbaikan
berkelanjutan. Dan, selamat tinggal vaksin palsu. []