Bagi para pelaku usaha perhotelan, bulan suci ramadhan merupakan tantangan yang mesti dihadapi tiap tahun. Menjelang Ramadhan pergerakan wisatawan nusantara dan mancanegara (wisman) kerap menunjukkan penurunan. Tingkat penurunan wisatawan bisa mencapai 40 persen, saat lebaran antara 10 -15 persen, terutama terjadi di kota-kota besar semisal Jakarta, Medan, Makassar dan Medan.

Dalam mengantisipasi penurunan wisatawan biasanya para pelaku usaha perhotelan membuat program khusus menjaga tingkat okupansi.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Mempertahankan tingkat okupansi sama halnya mempertahankan daya saing. Salah satu pendekatan untuk memetakan persoalan dalam alur proses bisnis bisa menggunakan model value stream mapping(VSM).

Survei terhadap hotel-hotel kecil dan menengah di 19 negara Eropa menggunakan variabel VSM menunjukkan bahwa deteksi pada setiap tahapan proses bisnis berdampak pada pengurangan pemborosan dalam supplay chain.

Dua prinsip proses bisnis yang berhasil diidentifikasi untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi ada pada tahap pemesanan dan pembelian.

Dalam bisnis perhotelan, tahap pemesanan meliputi alur proses yang saling berkaitan: pemesanan-transportasi-check in-houskeeping-check out-transportasi. Sementara tahap pembelian meliputi alur proses: merumuskan kebutuhan-penempatan pemesanan internal-pemesanan/pembelian-pengiriman ke hotel-pengiriman ke masing-masing segmen hotel.

Mempertahankan tingkat okupansi berarti mempertahankan jumlah unit hotel yang sudah dibooking dan dihuni. Menurut Vice Brand and Communication Panorama Groups, Sadewa, sebagaimana dikutip dalam Bisnis Indonesia, Kamis (12/5), tingkat kunjungan wisman selama Ramadhan berpotensi menurun, khususnya dari Malaysia dan Singapura sebagai penyumbang terbesar. Penyebabnya sederhana, kecenderungan wisman dua negara itu saat puasa dan Idul Fitri berkumpul dengan keluarga, mirip dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Akhirnya untuk mengantisipasi tren menurunnya wisman, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menargetkan penjualan 20 ribu kamar hotel di 20 destinasi wisata utama semisal Padang, Medan, Lombok, Makassar, Balikpapan, Yogyakarta dan sebagainya. Pun, PHRI bekerjasama dengan maskapai penerbangan, mendorong publik berwisata.

Baca juga  Inilah Pondasi Membangun Keunggulan Bisnis dari Marriot hingga Toyota

Untuk mempertahankan supplay chain dan daya saing di tengah tren menurunnya wisman dalam industri perhotelan,value stream mapping kiranya relevan untuk mengidentifikasi terjadinya pemborosan mencapai efesiensi. Tujuh prinsip pemetaan itu antara lain:

[cpm_adm id=”11002″ show_desc=”no” size=”medium” align=”none”]

  1. Pemetaan Aktivitas Proses, merupakan sebuah pendekatan tabulasi yang merinci proses secara detil. Masing-masing aktivitas dalam proses ditempatkan pada kertas kerja, dideskripsikan sesuai karakter, sehingga mampu menggambarkan seluruh proses. Pemetaan aktivitas proses menawarkan sudut pandang “dari atas” terhadap nilai tambah proses, membantu manajer mengidentifikasi proses yang tak efesien dan boros.
  2. Matriks Respon Supplay Chain, merupakan diagram yang menggambarkan total waktu keseluruhan proses. Dalam menyusun matriks respon supplay chain, catatan waktu dibutuhkan untuk menarik kesimpulan masing-masing proses produksi yang telah dikombinasikan, digambarkan dalam diagram matrik.
  3. Saluran Produksi, merupakan alat yang cara kerjanya mirip matriks respon supplay chain, kecuali dalam hal waktu, grafik menggambarkan dua variabel penting: urutan proses dibandingkan dengan jumlah inventaris pada setiap tahap. Dalam hal ini, beragam saluran produksi membantu mendeteksi dan mengurangi kelebihan inventaris.
  4. Pemetaan Kualitas Penyaringan, bertujuan memunculkan jumlah permasalahan dalam seluruh tahapan proses bisnis terkait produksi dan distribusi komoditas melalui identifikasi tiga jenis kerusakan: (a) kerusakan pada produk atau layanan akhir kepada konsumen (b) perbaikan kerusakan yang tak berkaitan dengan produksi barang dan (c) cacat produk atau layanan yang dideteksi sistem inspeksi internal dan bisa jadi berkaitan dengan pemborosan waktu, malfungsi produk atau halangan yang serupa. Tiap-tiap kerusakan mampu dipetakan bersamaan dengan target pengembangan aktivitas supplay chain.
  5. Pemetaan Penguatan Permintaan, memunculkan fluktuasi permintaan melalui kerangka waktu tertentu. Informasi dihasilkan melalui pemetaan penguatan permintaan yang bisa digunakan untuk mendesain ulang seluruh konfigurasi alur kerja berdasarkan permintaan aktual dari konsumen, mengurangi fluktuasi permintaan atau memberikan solusi permintaan khusus.
  6. Analisis Keputusan, merupakan perangkat yang memperkirakan apakah akhirnya produk dibuat sesuai permintaan dan apakah dibuat sebagai perkiraan saja. Mengetahui dimana akhir sebuah produk memungkinkan penilaian atas operasi bisnis mulai dari hulu sampai hilir.
  7. Struktur Fisik, merepresentasikan akhir dari value mapping stream(VMS) yang menunjukkan level supplay chain sebuah industri. Dalam hal ini, struktur fisik bisa membantu memahami bagaimana operasional industri dan konteks tertentu yang selama ini kurang diperhatikan.***
Baca juga  SDM yang kompeten dibutuhkan untuk menggerakkan industri sawit