Hampir semua orang terutama pria mengenal game yang satu ini. Clash of Clans yang biasa disebut CoC ini adalah online game yang sedang digandrungi banyak pria saat ini. Dikembangkan oleh Supercell yang cukup populer di kalangan pengguna Android atau iOS, game ini merupakan permainan strategi perang. Tapi ternyata, terdapat pelajaran yang sangat bagus mengenai strategi bisnis pada game ini. Ini buktinya.

Pelajaran #1: Investasi untuk Membangun Tim

Dalam permainan CoC, ketika kita bergabung dengan salah satu klan, kita mempunyai kesempatan untuk meminta tambahan pasukan dari rekan-rekan di klan tersebut. Sama halnya ketika kita punya pasukan yang sudah cukup bagus, maka kitapun bisa membantu kepada sesama anggota klan yang membutuhkan. Intinya adalah, kita ingin seluruh anggota klan kita berkembang sehingga cukup kuat untuk memenangkan perang.

Pernahkah Anda melihat serial TV “Wake Up Call” yang dipandu oleh Dwayne “The Rock” Johnson? Dalam suatu episodenya, ada sebuah restoran makanan Italia di Amerika.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Pada awalnya, banyak pengunjung datang ke restoran ini karena masakannya yang enak. Namun seiring waktu, ketika restoran mulai berkembang, pemilik restoran masih mengerjakan semua aktivtas sendiri, dari memilih bahan makanan, meracik, hingga memasak.

Para juru masaknya yang berkualitas tidak dimanfaatkan. Kebiasaan buruk pemilik restoran yang suka mengumpat dan mencaci tiap marah membuat para juru masaknya tidak betah. Akibatnya: pekerjaan banyak terbengkalai, pelanggan harus menunggu lama, kecewa dengan kualitas dan pelayanan. Pelanggan setia restoran ini hengkang, restoranpun sepi.

Pemasukan tak ada, meski sang pemilik sudah bekerja keras 70 jam seminggu. Anda sudah bisa melihat di mana kesalahannya, kan?

Ya, kesalahan besar yang dilakukan si pemilik restoran adalah menyimpan ilmunya untuk diri sendiri dan tidak memberi kepercayaan kepada tim untuk mengerjakan apa yang dia kerjakan.

Tim-nya hanya berperan sebatas helper yang disuruh mengambil ini dan itu. Inilah yang membuat lead time menjadi panjang dan tingkat kepuasan karyawan rendah.

Baca juga  Efisiensi vs. Efektivitas: Prioritas Manakah yang Lebih Utama?

Singkat cerita, sang host acara mendorong si pemilik restoran untuk mengubah mindset dan menghilangkan kebiasaan buruknya.Perubahan positif terjadi ketika si pemilik mulai melakukan apa yang harus dia lakukan: membangun timnya.

“Manusia adalah pemeran utama dalam keberhasilan transformasi, termasuk implementasi lean.”

Intinya, manusia adalah pemeran utama dalam keberhasilantransformasi, termasuk implementasi lean. Bagaimanapun bagusnya suatu sistem yang kita punyai, jika orang-orang dalam tim kita tidak pernah dilatih dan tidak ditingkatkan skill-nya, maka sistem tersebut dapat gagal. Contoh yang baik ditunjukkan oleh salah satu klien kami di SSCX. Mereka memiliki sistem development yang cukup bagus. Semua karyawan mulai dari operator sampai dengan manager di-training, mulai dari soft skill hingga hard skill.

Bahkan perusahaan menyediakan kelas kuliah dari salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung untuk karyawan level foreman dan operator terbaik yang belum pernah merasakan pendidikan tingkat tinggi. Klien kami ini menganggap bahwa karyawannya adalah salah satu aset yang sangat berharga.

Pelajaran #2: Bentuk Partnership dengan Tim yang Tangguh

Dalam permainan CoC, ketika sudah membangun kastil klan, kita bisa memilih di klan mana kita akan bergabung. Mungkin pada awalnya kita akan memilih klan secara acak. Tapi lama kelamaan, kita akan memiliki kriteria untuk memilih klan, misalnya orang-orangnya bersahabat (walaupun kita tidak kenal), sering berdonasi (memberikan tambahan pasukan), selalu menang pada saat perang dan lain-lain. Intinya kita bisa memilih bergabung dengan klan yang bagus dan kuat serta tim yang kompak.

Ketika akan berkolaborasi dengan pihak lain, tentu saja kita membutuhkan mitra atau partner yang baik, yang bisa membantu mengembangkan bisnis. Salah satu contohnya adalah dengan menerapkan supplier relationship management (SRM) dan customer relationship management (CRM).

Hubungan yang baik dengan supplier akan memastikan kebutuhan barang-barang yang dibutuhkan oleh kita terpenuhi sehingga kita tidak menghadapi masalah kekurangan material.

Begitu juga dengan menjaga hubungan dengan customer.

Saya memiliki pengalaman menarik saat bekerja di salah satu perusahaan manufaktur elektronik. Salah satu raw material yang diperlukan oleh kami adalah chasis. Kebetulan, chasis tersebut dipasok oleh satu supplier saja. Pada saat order dari pelanggan cukup tinggi, ternyata supplier tidak bisa memenuhi kebutuhan kami, ditambah lagi dengan banyaknya defect atau produk cacat yang mengakibatkan part tersebut harus disortir atau rework. Paling parah adalah ketika lini produksi harus berhenti selama beberapa hari. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang diakibatkan oleh kejadian tersebut! Belajar dari pengalaman tersebut, akhirnya timpurchasing melakukan pemilihan beberapa supplier baru untuk part tersebut,namun tetap mengikuti prosedur yang berlaku.

Baca juga  Mengantisipasi resistensi dalam proses transformasi

Hal penting yang harus diingat, pada saat melakukan kerja sama dengan pihak lain, prinsipnya adalah kerja sama simbiosis mutualisme, yakni saling menguntungkan.

Pelajaran #3: Mengejar Pertumbuhan yang Seimbang

Salah satu yang menarik dari game CoC ini adalah kita harus bisa mempertahankan markas kita dari serangan lawan dan pada saat pasukan kita ”keluar kandang” untuk menyerang. Sama halnya, ketika kita menyerang pihak lawan, kita harus mampu menghancurkan markas mereka. Artinya kita harus mempunya defense yang sangat bagus dan pasukan yang tangguh untuk offense. Apakah mudah? Tentu saja tidak, karena pada saat kita meng-upgrade defense dan troops, kita akan membutuhkan resources yang sangat banyak.

Productivity dan quality adalah dua hal yang sama pentingnya.

Banyak perusahaan saat ini hanya mementingkan output atau productivity dan mengabaikan masalah kualitas.

Akibatnya adalah banyak hidden cost yang muncul seperti biaya rework, lembur, biaya energi dan biaya-biaya overhead lainnya. Begitu juga jika kita hanya fokus dimasalah quality, masalah pengiriman barang kepada pelanggan akan terganggu.

“Banyak perusahaan saat ini hanya mementingkan output atau productivity dan mengabaikan masalah kualitas.”

Pengalaman saya saat menghadapi salah satu klien SSCX, terdapat tim produksi yang hanya fokus pada produktivitas; berapa banyak produk yang dihasilkan. Dalam satu bulan mereka bisa menghasilkan 20% lebih banyak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tapi apa yang terjadi? Lebih dari 60%  total output yang dihasilkan, harus dilakukan re-proses atau rework. Akibatnya, banyak pengiriman yang terlambat dan terjadi penumpukan WIP di area kerja.Tim lain, seperti tim marketing, jadi “tertiban sial”. Mereka harus melakukan negoisasi ulang dengan pelanggan untuk masalah pengiriman tersebut.

Berkaca dari pengalaman tersebut, ada baiknya lihat kembaliinternal proses kita, apakah adahambatan atau bottleneck yang bisa menghambat productivity? Apakah beban kerja di setiap area masih belum merata?

Baca juga  Ragam Manfaat dari OPEXCON Project Competition 2024

[cpm_adm id=”11002″ show_desc=”no” size=”medium” align=”none”]

Jika ya, maka kita harus melakukan line balancing sehingga bisa meningkatkan output dan produktivitas, karena yang menentukan produktivitas dari suatu proses adalah proses yang paling lama.

Lalu apa hubungannya dengan aktivitas continuous improvement?

Kerja sama antar bagian merupakan hal yang sangat penting pada saat kita melakukan transformasi atau improvement. Jika salah satu bagian masih merasa paling hebat, masih berpikir silo, maka improvement yang dilakukan tidak akan berjalan. Tidak ada individu yang super, tidak ada bagian yang super, yang ada adalah TIM yang SUPER. Yup, one man show sudah ketinggalan zaman. Superman is dead!***