Site icon SHIFT Indonesia

Ketika Musik Menjadi Personal: Kisah Design Thinking di Spotify

Sumber Gambar: www.newsroom.spotify.com

Spotify merupakan aplikasi pemutar audio berupa lagu, podcast, dan media lainnya yang terkenal di dunia. Hal ini terlihat dari jumlah pengguna aktif bulanannya yang mencapai sebanyak 713 juta pada 2025. Jumlah ini semakin naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan trafik tertinggi penggunanya bersumber dari AS sebesar 24,86%. Tak hanya itu, kesuksesan Spotify juga bisa dilihat dari pendapatan kuartal ketiga tahun 2025 mereka, yaitu sebesar €4,3 miliar. 

Popularitas yang Spotify miliki tentunya bukan tanpa alasan. Design Thinking membantu Spotify memahami apa yang pengguna butuhkan untuk kemudian dikembangkan, hingga akhirnya tercipta ruang personal bagi pendengar musik. Spotify juga menerapkan “empati teknologi” untuk memahami teknologi ketika hendak merancang rekomendasi program mereka. 

Profil dan Sejarah Spotify

Spotify merupakan perusahaan publik yang didirikan oleh Daniel Ek dan Martin Lorentzon, seorang pengusaha Swedia. Perusahaan tersebut berdiri pada tahun 2006 dan memiliki kantor pusat di Stockholm. Ide pendirian Spotify bermula ketika pembajakan musik merajalela di tahun 2000-an melalui layanan Napster. Napster merupakan platform akses dan berbagi secara online yang akhirnya ditutup pada tahun 2001 karena perselisihan hukum. Padahal, aplikasi tersebut sukses mengantongi lebih dari 24,6 juta pengguna terverifikasi. Keberadaan aplikasi ini memunculkan hasrat publik akan hadirnya aplikasi pemutar musik serupa yang legal tanpa melanggar hak cipta 

Hal inilah yang melatarbelakangi ide Ek untuk menghadirkan sebuah platform tersebut dan menawarkan fitur berbagi file serta berinteraksi dengan pengguna lain di platform yang sama. Ek sebelumnya telah mendirikan perusahaan rintisan bersama Lorentzon yang diakuisisi Tradedoubler. Karena pernah bekerjasama dengan Lorentzon, Ek pun menceritakan visinya tentang layanan streaming pada Lorentzon. 

Nama Spotify pun muncul secara tidak sengaja ketika Ek dan Lorentzon sedang memikirkan nama usaha mereka. Saat itu, Ek salah mendengar perkataan Lorentzon dengan “Spotify” dan akhirnya memutuskan nama tersebut sebagai nama perusahaan mereka. Hingga akhirnya terciptalah Spotify di tahun 2006. Dua tahun kemudian, perusahaan tersebut resmi diluncurkan. 

Masa Awal Pendirian

Pada masa awal pertumbuhannya, Ek dan Lorentzon memberikan penawaran kepada label musik untuk mengizinkan musik milik artisnya diakses secara legal di platform mereka tanpa bisa diunduh. Spotify juga menawarkan adanya iklan selama jeda pemutaran musik untuk model gratis. Selain itu, Spotify juga menawarkan langganan berbayar untuk mengakses penuh konten tanpa iklan dan mengunduhnya. 

Spotify pertama kali diluncurkan di Inggris pada tahun 2009. Dua tahun setelahnya, perusahaan tersebut telah mendapatkan satu juta pelanggan berbayar di seluruh Eropa. Di waktu yang sama, Spotify diluncurkan di Amerika Serikat. Tak hanya menawarkan akses lagu, Spotify memperkenalkan algoritma yang memungkinkan pengguna membuat daftar putar khusus. Hingga setahun setelahnya, tepatnya pada Agustus 2012, perusahaan ini telah memiliki 15 juta pengguna aktif yang 4 jutaan merupakan pelanggan berbayar. 

Inovasi Fitur Spotify Berdasarkan Empati

Seiring berkembangnya zaman, Spotify terus melakukan pembaruan pada fitur-fiturnya dengan menerapkan Design Thinking. Sebelumnya, algoritma Spotify hanya mencatat musik apa yang sering didengarkan pengguna dan sistem akan memutar jenis musik serupa. Melalui hal tersebut, sistem memahami apa yang pengguna ingin dengarkan tetapi sistem tidak mengerti mengapa pengguna mendengarkannya. 

Konsep Design Thinking seperti inilah yang ingin diterapkan Spotify untuk mengerti “mengapa” bukan hanya “apa” yang ingin pengguna dengar. Spotify pun melakukan beberapa survei dan berempati kepada para pelanggan. Dari sana, mereka menyadari bahwa musik bukan hanya tentang selera atau genre, tetapi juga tentang waktu, suasana hati, dan konteks. Orang tidak mendengarkan musik tanpa alasan, mereka mendengarkannya berdasarkan perasaan dan aktivitas mereka. Spotify pun mencoba melihat faktor-faktor seperti waktu pemutaran lagu tertentu, lokasi pemutaran lagu tersebut, riwayat pemutaran lagu, dan bahkan perangkat yang digunakan saat itu. 

Dari hal tersebut, Spotify berhasil membentuk algoritma baru yang membentuk pengalaman mendengarkan yang lebih baik bagi pengguna. Spotify meluncurkan rekomendasi daftar putar seperti Discover Weekly, Daily Mixes, dan daftar putar khusus untuk menyesuaikan suasana hati seperti “Chill” dan “Workout”.

Fitur Spotify Wrapped yang Fenomenal

Pada 2016, Spotify semakin mempertajam strateginya dengan melahirkan fitur Spotify Wrapped yang merupakan bentuk apresiasi tahunan kepada pengguna, artis, kreator, dan penulis di seluruh dunia. Setiap tahun, Spotify Wrapped merayakan musik, podcast, dan buku audio yang menemani aktivitas harian pendengar.

Momen ini menghadirkan pengalaman interaktif yang menampilkan perjalanan personal pengguna dalam menikmati musik sepanjang tahun. Selain itu, Spotify Wrapped juga dilengkapi dengan playlist editorial, playlist yang dipersonalisasi, serta daftar lagu terpopuler secara global. Seluruh rangkaian ini dirilis untuk merayakan tren mendengarkan dari ratusan juta penggemar di berbagai belahan dunia sepanjang tahun.

Fitur tersebut berhasil menarik antusias pengguna hingga ditunggu-tunggu setiap akhir tahun, membuktikan keberhasilan Spotify dalam memahami jutaan pengguna aplikasinya. Melalui fitur tersebut juga, pengguna bisa membagikan pengalaman mendengar musiknya sepanjang tahun di media sosial lain. Bahkan, saking fenomenalnya fitur ini, dalam beberapa tahun terakhir banyak aplikasi lain turut menerapkan wrapped tahunan bagi penggunanya. Seperti aplikasi Duolingo yang merangkum waktu penggunanya belajar bahasa, ada juga aplikasi Strava yang menjumlahkan data tahunan latihan pengguna, bahkan platform makanan seperti McDonald’s  juga memiliki data rinci kebiasaan makan penggunanya setiap tahun, serta banyak aplikasi lainnya yang turut mengeluarkan fitur wrapped.

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions

  1. Bagaimana sejarah awal berdirinya Spotify hingga memengaruhi model bisnisnya saat ini?

Spotify lahir terinspirasi dari aplikasi streaming audio bernama Napster yang sayangnya ditutup pada tahun 2000-an. Hal ini mendorong penciptanya mengembangkan model streaming legal dengan dua skema, yaitu gratis berbasis iklan dan langganan berbayar yang hingga kini menjadi pondasi utama model bisnisnya.

  1. Mengapa empati menjadi elemen penting dalam pengembangan fitur Spotify?

Empati membantu Spotify memahami bahwa musik berkaitan erat dengan suasana hati, waktu, aktivitas, dan konteks pengguna. Dengan berempati, Spotify mampu merancang fitur dan algoritma yang menyesuaikan rekomendasi musik dengan kondisi emosional dan aktivitas pengguna, bukan sekadar genre atau artis favorit.

  1. Apa peran Design Thinking dalam kesuksesan Spotify?

Design Thinking membantu Spotify memahami kebutuhan, kebiasaan, dan konteks pengguna secara lebih mendalam. Pendekatan ini memungkinkan Spotify tidak hanya mengetahui apa yang didengarkan pengguna, tetapi juga alasan di balik pilihan tersebut, sehingga dapat menghadirkan pengalaman mendengarkan yang lebih personal dan relevan.

  1. Inovasi apa saja yang dihasilkan Spotify melalui penerapan Design Thinking?

Melalui Design Thinking, Spotify mengembangkan algoritma rekomendasi yang lebih kontekstual serta meluncurkan fitur seperti Spotify Wrapped, Discover Weekly, Daily Mixes, dan playlist berbasis suasana hati seperti Chill dan Workout yang meningkatkan kualitas pengalaman mendengarkan pengguna.

  1. Mengapa Spotify Wrapped menjadi fitur yang fenomenal dan banyak ditiru aplikasi lain?

Spotify Wrapped fenomenal karena menyajikan pengalaman personal dan emosional yang merangkum kebiasaan mendengarkan pengguna selama setahun. Fitur ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi juga mendorong mereka untuk berbagi di media sosial sehingga memperkuat loyalitas dan popularitas Spotify.

Kesimpulan

Aplikasi Spotify menunjukkan Design Thinking memegang peranan penting dalam kesuksesan sebuah aplikasi yang bergantung pada kenyamanan pengguna dalam menggunakannya. Melalui proses empati pada pengguna, Spotify mampu menghadirkan fitur-fitur yang relevan dan personal, seperti rekomendasi musik berdasarkan kebiasaan mendengarkan dan tampilan yang konsisten di berbagai perangkat. Hal tersebut tidak hanya meningkatkan kepuasan pengguna, tetapi juga memperkuat loyalitas ditengah maraknya aplikasi streaming digital. 

Keberhasilan Spotify dalam menghadirkan pengalaman pengguna yang konsisten dan personal menunjukkan pentingnya penerapan Design Thinking dalam pengembangan produk digital. SSCX International menghadirkan pelatihan Design Thinking yang dirancang untuk membantu perusahaan membangun kerangka kerja dalam menghadapi permasalahan kompleks sekaligus mendorong inovasi yang berpusat pada pengguna. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat memahami akar masalah dan merancang solusi yang relevan serta berkelanjutan sesuai kebutuhan pasar. Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat mengunjungi situs www.sscxinternational.com

Referensi:

Britannica, T. Editors of Encyclopaedia. (2026, Januari 4). Spotify. Encyclopædia Britannica. https://www.britannica.com/topic/Spotify

Kircher, M. M. (2025, December 3). Spotify Wrapped isn’t the only app quantifying our social lives. The New York Times. https://www.nytimes.com/2025/12/03/style/spotify-wrapped-2025-year-in-review.html

Singh, S. (2025, November 17). Spotify stats. DemandSage. https://www.demandsage.com/spotify-stats/#:~:text=Here%20is%20a%20table%20displaying%20the%20market%20share%20of%20Spotify,Spotify%20Podcast%20Statistics

Spotify. (n.d.). Spotify Wrapped. Spotify Support. https://support.spotify.com/uk/article/spotify-wrapped/

Spotify. (2023, October 18). How Spotify uses design to make personalization features delightful. Spotify Newsroom. https://newsroom.spotify.com/2023-10-18/how-spotify-uses-design-to-make-personalization-features-delightful/

Spotify. (2025, December 3). 2025 Wrapped is here with more layers, stories, and connection than ever before. Spotify Newsroom. https://newsroom.spotify.com/2025-12-03/2025-wrapped-user-experience/

Teja, R. (2025, Juli 2). How Spotify used design thinking to reinvent music recommendations. Medium. https://medium.com/@venkatarishi.teja/how-spotify-used-design-thinking-to-reinvent-music-recommendations-8ba1917b333b

Tindall, B. (2024, December 5). What Spotify Wrapped really tells us about ourselves. Seen & Unseen. https://www.seenandunseen.com/what-spotify-wrapped-really-tells-us-about-ourselvesV-LinkedIn, K. (2025, Januari 20). How design thinking shaped the success of Spotify. LinkedIn. https://www.linkedin.com/pulse/how-design-thinking-shaped-success-spotify-keerthana-v-7kfbc

Exit mobile version