Site icon SHIFT Indonesia

Mengadopsi “Revolusi Mental” pada Perusahaan

Pemerintahan yang baik dan bersih. Sudah menjadi rahasia umum cita-cita yang satu ini rasanya sulit sekali diwujudkan. Karena itulah, pemerintah saat ini lebih gencar untuk memberikan lebih banyak usaha untuk perubahan.

Namun seiring dengan gencarnya usaha “revolusi mental” pemerintah, berbagai perubahan dan kemajuan sudah mulai terlihat di berbagai sektor. Mulai dari pemerintahan, masyarakat, hingga dunia usaha perlahan-lahan mulai terlihat dan bisa kita rasakan.

Mulai dari Revolusi Birokrasi

“Birokrasinya ribet!” adalah kalimat yang paling sering kita dengar. Setiap ada kata “birokrasi”, yang terbayang di benak adalah ribet, sulit, rumit, bertele-tele. Menyedihkan memang, tapi itulah citra birokrasi di Indonesia yang dinilai tidak efektif dan efisien.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Padahal faktor utama yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan baik atau disebut juga dengan clean and good governance adalah praktik birokrasi. Karena birokrasi sangat menentukan kualitas pelayanan kepada masyarakat, serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan komposisi Kabinet Kerja pada 26 Oktober 2014 lalu, mempraktikan birokrasi yang melayani menjadi tantangan baru bagi para menteri. Apalagi kementrian sebagai wadah bagi birokrasi adalah tempat yang paling tepat untuk memulai perbaikan. Budaya para pegawai negeri sipil ketika memberikan pelayanan publik harus ditingkatkan.

Setidaknya itu yang dikatakan oleh pakar hukum dan tata negara, Refly Harun. Menurutnya, Kabinet Kerja harus bekerja serius untuk memperbaiki birokrasi, seperti memangkas perizinan, misalnya. Mereka harus berani membenahi birokrasi mulai dari akarnya.

Bagaimana praktiknya? Dengan mengubah pola pikir dan sikap mental setiap individunya.

“Yang dimaksud pak Jokowi pentingnya revolusi mental adalah praktik mengubah mindset, cara pandang, sikap dan perilaku yang mengacu pada nilai-nilai esensial; integritas, etos kerja dan gotong royong agar berorientasi pada kemajuan,” jelas Ahmad Mukhlis Yusuf, Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Gerakan Revolusi Mental Nasional yang dibentuk Kemenko Peningkatan Sumberdaya Manusia dan Kebudayaan.

Selain itu Mukhlis juga mengatakan saat ini Indonesia banyak menghadapi persoalan baik pada praktik penyelenggaraan negara maupun pada budaya masyarakatnya. Namun Mukhlis berpendapat jika semua bersama-sama mengubah pola pikir dan sikap mental, perubahan bisa terwujud.

“Dari yang tadinya mengharapkan orang lain melakukan perubahan menjadi ‘saya juga bertanggung jawab dan ingin melakukan perubahan’, Indonesia mampu menghadapi berbagai persoalan yang ada,” kata Mukhlis, yakin.

Next: Perbaikan Proses dan Kinerja

Jika masalah birokrasi sudah diperbaiki hingga ke akar, otomatis akan memicu perbaikan proses dan kinerja. Proses yang baik dalam organisasi adalah modal utama dalam perjalanan menuju keunggulan operasional alias operational excellence.

Dua tahun lalu, pelayanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) mungkin bukanlah pilihan nyaman dalam layanan transportasi public, walaupun kenyataannya jumlah penumpang KAI selalu padat. Ya, alasan para penumpang hanya satu: mereka tak punya pilihan. Intinya, jumlah penumpang yang tinggi tidak diiringi dengan tingkat kepuasan yang tinggi.

Bahkan maskapai penerbangan kebanggan kita, Garuda Indonesia juga sempat mengalami hal demikian. Mungkin ada yang masih ingat bagaimana di tahun 2006 maskapai ini sempat dinyatakan “sekarat” akibat rendahnya pelayanan mereka terhadap penumpang? Dengan pelayanan yang tak memuaskan ini Garuda mengalami kerugian saat itu.

Satu lagi, fasilitas transportasi pelabuhan Tanjung Priok. Dahulu, baru mendengar nama “Tanjung Priok” saja sudah terbayang “horor”nya. Terbayang di benak kita sebuah kondisi pelabuhan yang padat, semrawut, dan tidak bersahabat.

Sekarang, tengoklah ketiga perusahaan tersebut. KAI, Garuda Indonesia, dan Pelabuhan Tanjung Priok berhasil mengubah image mereka, bukan hanya baik di mata masyarakat tapi juga siap bersaing dalam tingkat yang lebih tinggi. Lebih jauh lagi, membawa inspirasi bagi berbagai perusahaan lainnya untuk melakukan hal serupa.

Inilah yang Mereka Lakukan

Pada akhir 2013 PT KAI gencar melakukan transformasi usaha melalui tiga unsur secara bersamaan:

  1. Mengubah budaya kerja
  2. Meningkatkan profesionalitas
  3. Pengembangan investasi

Tiga hal ini menjadi fokus manajemen untuk menjadikan PT KAI sebagai perusahaan pelayanan jasa yang berkualitas dan berorientasi pada kepuasan pengguna. Direksi PT KAI saat itu juga menyebutkan bahwa tataran pertama KAI adalah dengan mengubah cara berpikir (mindset), yang tadinya berorientasi pada produk, menjadi berorientasi pasar.

Sementara Garuda Indonesia, selepas tahun 2006 maskapai ini melakukan pembenahan terus menerus, bahkan kisahnya tercatat rapi dalam sebuah buku berjudul “From One Dollar to Billion Dollars Company” oleh Rhenald Kasali. Dalam buku tersebut tertulis bahwa Garuda membagi agenda transformasinya ke dalam tiga tahapan, yang dalam waktu lima tahun upaya membuahkan hasil nyata.

Bagaimana dengan PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Pelindo II? Kini Anda bisa melihat sendiri pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia itu tampil dengan wajah baru yang lebih apik. Tanjung Priok kini siap bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Singapura dan Hongkong. Transformasi ini tidak lepas dari inisiatif perubahan yang dilakukan pengelolanya, Indonesia Port Corporation (IPC) dan juga kesadaran Direktur Utama IPC saat itu.

Kembali Mukhlis berpendapat, bahwa apa yang dilakukan ketiga perusahaan milik negara tersebut karena keinginan, kesungguhan, dan praktik untuk berubah menjadi lebih baik dan memenuhi harapan stakeholder utamanya: pelanggan.

“Para pemimpin perusahaan mulai menyadari bahwa tidak ada pilihan lain selain berubah dan itu harus dimulai dari diri mereka,” kata Mukhlis.

Terdapat nilai-nilai dari revolusi mental yang menjadi pedoman bagi para change leader. “Kunci dari gerakan ini adalah praktik dan perbuatan. Perbuatan sebagai wujud tanggung jawab untuk membawa organisasi menjadi lebih baik,” tambahnya lagi.

Pembentuk Budaya Baru

Perubahan kecil ini bisa dimulai dari rumah, dari orang tua yang bertanggung jawab. Begitu juga dari RT yang hebat, itu juga dari ketua RT nya yang mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan benar, begitu juga dengan RW, walikota, hingga organisasi publik.”

Saat ini cita-cita mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih mulai memberikan titik terang yang setidaknya tercermin dari sosok para pemimpin di pemerintahan daerah.

[cpm_adm id=”11002″ show_desc=”no” size=”medium” align=”none”]

Menurut Mukhlis, saat ini masyarakat dapat melihat sendiri sosok yang dapat menjadi panutan dalam memimpin dan membawa perubahan positif bagi mereka. “Ibu Risma, walikota Surabaya, Ridwal Kamil, Walikota Bandung, Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, Sunyoto, Bupati Bojonegoro, contohnya, mereka merupakan sosok pemimpin yang mencerminkan pemerintahan yang baik dan bersih,” jelasnya

Tantangan pertama bagi organisasi untuk memulai transformasi lanjut Mukhlis adalah bagaimana menciptakan sense of urgency, bagaimana kita merasa bagian dari persoalan dan bagaimana kita membangkitkan sense of urgency ini ke seluruh level di dalam organisasi.

“Ini menjadi tugas bersama kita untuk ‘membangunkan’ semua yang mungkin  masih tidur atau tak menyadari perubahan sedang terjadi di lingkungan kita. MEA sudah mulai dijalankan. Kompetisi sedang terjadi. Bangsa Indonesia tak boleh diam dan jadi obyek bangsa-bangsa lain, persis seperti sebelum Kemerdekaan tahun 1945,” tutup Mukhlis.***

 

Achmad Mukhlis Yusuf merupakan Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Gerakan Revolusi Mental Nasional yang dibentuk Kemenko Peningkatan Sumberdaya Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Executive Coach Strategic Actions dan Wakil Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) IPB.

Exit mobile version