Site icon SHIFT Indonesia

Mengapa Design Thinking Membuat Nintendo Bertahan Lebih dari Satu Abad

Peluncuran Nintendo Switch 2 pada Juni 2025 menandai babak baru dalam sejarah gemilang perusahaan hiburan asal Kyoto, Jepang, tersebut. Dengan angka penjualan yang menyentuh 5,8 juta unit hanya dalam kuartal pertama fiskal pertamanya, kesuksesan ini menjadi bukti kuat bahwa daya tarik Nintendo tetap tak tergoyahkan di tengah persaingan teknologi yang kian agresif. Pencapaian luar biasa ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan hasil dari strategi jangka panjang yang matang, di mana salah satu pilar utamanya adalah penerapan prinsip Design Thinking. Melalui pendekatan yang berpusat pada pengalaman manusia, Nintendo berhasil mengubah batasan teknologi menjadi peluang kreatif yang memikat jutaan pemain di seluruh dunia.

Kisah Nintendo

Perjalanan panjang Nintendo bermula jauh pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1889, ketika seorang pengusaha bernama Yamauchi Fusajiro mendirikan bengkel kecil bernama Nintendo Koppai untuk memproduksi kartu permainan tradisional Jepang yang disebut hanafuda. Selama puluhan tahun, bisnis keluarga ini berkembang menjadi produsen kartu terbesar di Jepang. 

Transformasi radikal mulai terjadi di bawah kepemimpinan cicit pendiri, Hiroshi Yamauchi, yang mengambil alih perusahaan pada tahun 1949 di usia 22 tahun. Di bawah tangan dinginnya, Nintendo dimodernisasi, mulai dari bekerja sama dengan Disney untuk kartu karakter hingga akhirnya merambah ke dunia mainan dan hiburan elektronik pada tahun 1969. Di masa transisi inilah muncul sosok penting bernama Gunpei Yokoi, seorang insinyur pemeliharaan mesin yang memiliki latar belakang elektronika. Yokoi bukan sekadar teknisi; ia memahami sistem mekanis dan memiliki penilaian yang tajam terhadap apa yang benar-benar berguna bagi konsumen. Penemuan mainan mekanis sederhananya yang disebut Ultra Hand menjadi pijakan pertama Nintendo di industri mainan global setelah terjual lebih dari satu juta unit.

Filosofi Berpikir Lateral dengan Teknologi Lama

Penerapan Design Thinking dalam tubuh Nintendo sangat dipengaruhi oleh filosofi legendaris Gunpei Yokoi yang dikenal sebagai “berpikir lateral dengan teknologi lama” atau lateral thinking with withered technology. Filosofi ini mengajarkan bahwa inovasi tidak harus selalu mengejar teknologi paling mutakhir yang mahal, melainkan menggunakan teknologi yang sudah matang dan murah secara kreatif. Nintendo tidak bertanya tentang seberapa kuat mesin yang bisa mereka bangun, melainkan tentang apa yang paling berguna bagi pengguna. 

Prinsip ini diuji secara nyata pada akhir 1980-an ketika Game Boy harus berhadapan dengan Sega Game Gear yang memiliki layar berwarna dan perangkat keras lebih kuat. Alih-alih mengikuti spesifikasi tersebut, Nintendo tetap memilih layar monokrom murah karena konsumsi daya yang rendah. Hasilnya, Game Boy mampu bertahan selama 30 jam dengan empat baterai AA, sementara pesaingnya hanya bertahan tiga jam. Keputusan ini membuktikan bahwa inovasi memerlukan penilaian yang lebih baik terhadap cara hidup manusia, bukan sekadar alat yang lebih canggih.

Filosofi tersebut terus diwariskan hingga Nintendo mencapai titik balik melalui desain konsol Switch. Setelah mengalami masa stagnan dengan kegagalan komersial Wii U, Nintendo menyempurnakan konsep perangkat layar sentuh menjadi sistem hibrida yang revolusioner pada tahun 2017. Switch dirancang untuk fleksibilitas, memungkinkan pengguna bermain di rumah dengan televisi atau membawanya sebagai perangkat genggam saat bepergian. 

Fokus pada pengalaman bermain, masa pakai baterai, dan kenyamanan ini diteruskan pada Nintendo Switch 2 tahun 2025. Meskipun Switch 2 menghadirkan dukungan grafis 4K dan peningkatan performa, strategi pemasarannya tetap konsisten dengan tidak menonjolkan spesifikasi mentah, melainkan pada pengalaman baru yang dimungkinkan, seperti fitur sosial yang diperluas dan dukungan untuk judul-judul besar seperti Mario Kart World. Nintendo memilih untuk mempertahankan apa yang disukai pemain sambil melakukan peningkatan evolusioner yang menjaga perasaan akrab namun tetap modern.

Keberhasilan yang diraih Nintendo hingga saat ini juga didukung oleh “Benteng Waralaba” yang sangat kuat. Karakter seperti Mario, Zelda, dan Pokemon bukan sekadar kekayaan intelektual, melainkan institusi budaya yang menciptakan koneksi emosional lintas generasi. Nintendo mempertahankan kualitas waralaba ini dengan prinsip kesabaran; mereka lebih memilih menunda peluncuran gim demi memastikan standar kualitas yang tinggi, sebagaimana prinsip Shigeru Miyamoto bahwa gim yang ditunda pada akhirnya akan menjadi bagus. Dengan fokus pada konten ramah keluarga yang mencakup semua kelompok usia dari 5 hingga 85 tahun, Nintendo berhasil menguasai lebih dari 71 persen pangsa pasar gim kasual. Strategi ini memungkinkan mereka mempertahankan harga produk yang stabil dan meraih margin keuntungan bersih yang tinggi, bahkan saat pesaing sering kali mengalami kerugian pada penjualan perangkat keras mereka.

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)

Q: Siapa tokoh yang paling berpengaruh dalam filosofi desain Nintendo? 

A: Tokoh utamanya adalah Gunpei Yokoi, seorang insinyur pemeliharaan yang memperkenalkan prinsip kegunaan di atas spesifikasi teknis, serta Hiroshi Yamauchi yang mengarahkan perusahaan menuju industri hiburan modern.

Q: Apa yang dimaksud dengan filosofi “Lateral Thinking with Withered Technology“? 

A: Ini adalah konsep menggunakan teknologi yang sudah matang, murah, dan teruji secara kreatif untuk menciptakan cara bermain baru, daripada mengejar teknologi paling mutakhir yang sering kali mahal dan kurang praktis.

Q: Mengapa Nintendo Switch 2 dianggap sukses meski spesifikasinya tidak sekuat konsol pesaing? 

A: Karena Nintendo fokus pada pengalaman pengguna, portabilitas hibrida, dan perpustakaan gim yang kaya (termasuk kompatibilitas mundur), bukan hanya pada kekuatan pemrosesan grafis mentah.

Q: Bagaimana Nintendo menjaga loyalitas pemainnya selama puluhan tahun? 

A: Melalui pengembangan kekayaan intelektual (IP) seperti Mario dan Zelda yang memiliki daya tarik lintas generasi serta menjaga standar kualitas produk yang sangat ketat sebelum dirilis ke pasar.

Q: Apa perbedaan utama pendekatan pasar Nintendo dibandingkan dengan Sony atau Microsoft? 

A: Nintendo berkompetisi pada axis “inovasi pengalaman bermain” dan aksesibilitas keluarga, sementara pesaingnya lebih banyak berkompetisi pada axis “performa teknis” dan grafis yang realistis.

Nintendo telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi kreativitas, melainkan panduan untuk menemukan apa yang benar-benar penting bagi pengguna. Inovasi sejati lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan manusia melalui pendekatan Design Thinking. Jika Anda ingin menguasai strategi pemecahan masalah kompleks dan memimpin inovasi di organisasi Anda seperti yang dilakukan oleh perusahaan kelas dunia, SSCX International siap membantu. Melalui pelatihan Design Thinking, SSCX International membimbing Anda menguasai tahap inti untuk menciptakan solusi inovatif yang relevan dan berdampak nyata. Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat mengunjungi situs www.sscxinternational.com

Referensi

Britannica, The Editors of Encyclopaedia. “Nintendo Company Ltd.” Encyclopedia Britannica. Diakses 11 Januari 2026. https://www.britannica.com/money/Nintendo-Company-Ltd.

D’Anastasio, Cecilia. “How Gunpei Yokoi Reinvented Nintendo.” Vice, 17 Juni 2015. https://www.vice.com/en/article/how-gunpei-yokoi-reinvented-nintendo/.

Moon, Jesse. “The History of Nintendo: From Playing Cards to Video Games.” Video YouTube, 15:42. 18 Agustus 2023. https://youtu.be/8JBocLtkVCY.

Zamora, Carlos. “Nintendo’s Strategic Narrative: A Masterclass in Storytelling.” Zamora Design (blog). 24 Oktober 2023. https://zamora.design/nintendos-strategic-narrative-a-masterclass-in-storytelling/.

Exit mobile version