Site icon SHIFT Indonesia

Inilah 3 Peran dalam Proses Kreatif Walt Disney

Ketika kita membicarakan Walt Disney, sebagian dari kita mungkin akan berpikir bahwa itu adalah tentang sebuah film kartun yang sangat lekat dengan ikon tikus sebagai tokoh utamanya. Atau, mungkin juga ketika mendengar nama Disney, melekat ingatan tentang sebuah theme park yang megah dengan segala kecanggihan dan inovasi yang ada didalamnya. Dan sudah pasti, sang pemilik memiliki aset miliaran dolar yang tidak akan habis, mungkin untuk tujuh keturunannya.

Namun, jika kita melihat Walt Disney sebagai sebuah ladang hijau untuk belajar sehingga dapat “meniru” cara-cara suksesnya, maka Walt Disney bisa dikatakan sebagai sebuah produk dari kreativitas yang luar biasa, dan banyak hal yang bisa kita pelajari dari proses di dalamnya. Itulah yang menjadi “warisan” tidak ternilai dari Walt Disney. Proses.

Robert Dills, seorang NLP expert yang pertama kali memperkenalkan strategi kreatif Walt Disney pada 1994, mengemukakan ada 3 peran yang terdapat dalam proses kreatif Walt Disney.

Robert mendefinisikan teknik tersebut sebagai metode Disney untuk mengubah impiannya menjadi kenyataan. Dalam proses yang kreatif ini, sekelompok orang menggunakan proses alur pikir tertentu yang membangun pemikiran paralel yang hasilnya bisa digunakan untuk membangkitkan, mengevaluasi, mengkritik dan juga memecahkan masalah. Inilah yang kemudian menjadi penjelasan peran dari masing-masing orang di dalam sebuah tim, yaitu the dreamer, the realist dan the critic yang kemudian disebut sebagai Walt Disney’s Creative Strategy.

The Dreamer

Biasanya, ide kreatif dimulai dengan sebuah mimpi dan juga antusiasme. Dalam sebuah meeting, gaya berpikir dari the dreamer ini biasanya ‘mentok’ oleh realitas yang ada sehingga tidak memiliki ruang untuk dapat mengerjakannya lebih jauh. Namun, di Disney, inilah tahapan pertama yang memungkinkan tim untuk berbagi impian mereka tanpa ada pembatasan atau kritik. Hal ini membantu untuk membangun “kolam” yang dipenuhi ide-ide kreatif. Namun, tentu saja dari berbagai ide yang muncul, hanya beberapa gagasan yang dapat dipertimbangkan layak atau tidak untuk direalisasikan.

Dalam proses ini, the dreamer akan membuat pertanyaan, seperti:

Roger Von Oech, seorang penulis buku berjudul “A Kick in the Seat of the Pants”, membagi tipe the dreamer ini menjadi dua peran yang berbeda.  The explorer, di mana mereka mencari informasi dan data yang menarik, lalu kemudian mereka mengatur ulang semua bagian yang berbeda dari informasi tersebut untuk membuat pola baru. Menurut Roger, menjadi the dreamer, berarti adalah menggabungkan pengalaman acak dalam cara-cara baru dan tidak biasa.

The Realist

Ide-ide yang telah ditentukan tadi, mungkin terdengar bagus di atas kertas, namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana semua ide ini bisa menjadi nyata? Itulah yang dilakukan the realist.

Dalam proses ini, tim harus memiliki gaya berpikir dan rencana yang lebih logis. Rencana ini bertujuan untuk mengubah ide-ide ke dalam sebuah rencana yang dapat dijalankan dan dikelola ke dalam aksi nyata. Di tahap ini, biasanya proses berjalan dengan menanyakan pertanyan seperti:

The Critic

Setelah mendapatkan ide yang bisa untuk direalisasikan, maka di proses ini pertanyaannya adalah bagaimana tim dapat mengevaluasi ide tersebut dan mencari kelemahan serta manfaat dari ide yang akan direalisasikan. Berpikir kritis sangat diperlukan untuk mengetahui apakah ide tersebut layak atau tidak untuk diwujudkan. Apa saja hambatan yang mungkin timbul dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam proses ini, tim harus memberikan kritik yang konstruktif.

Pada proses ini pertanyaan yang diajukan adalah:

Kesimpulan

Setiap tim di dalam organisasi, memerlukan proses berpikir kreatif yang akan membantu mereka memecahkan masalah dan membangun budaya inovatif di dalam perusahaan. Karena seperti konsep De Bono Six Thinking Hats, setiap peran mewakili persona yang berbeda. Begitupun dalam konsep Six Sigma, mengoptimalkan kinerja tim, terkadang menjadi sebuah tantangan. Untuk itu, diperlukan sebuah cara efektif yang dapat membangun kolaborasi yang kuat antar anggota sehingga kinerja tim dapat lebih optimal.***

Sumber: thereliableplant.com, designrate.com

Exit mobile version