Site icon SHIFT Indonesia

The View: Produk Bermutu Tinggi, Kenapa Tidak Sukses?

Oleh: Suwandi

CEO Majalah Shift Indonesia

Beberapa waktu lalu saya makan di sebuah restoran yang menyajikan nasi ayam hainam yang menurut saya salah satu yang paling enak di Jakarta. Tapi herannya, tempat ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Saya iseng bertanya kepada istri saya mengapa restoran yang menyajikan masakan seenak ini bisa sepi pengunjung, sementara rumah makan lain yang menyajikan masakan yang tidak seenak ini bisa jauh lebih ramai. “Bisnis makanan sering dipengaruhi faktor luck“, jawabnya.

Saya setuju pada waktu itu, mungkin perut sedang menikmati enaknya ayam rebus sampai malas berpikir lebih jauh. Beberapa hari kemudian, saat mendengar kata luck lagi, saya jadi kepikiran tentang rumah makan tadi. Saya punya teori yang sedikit berbeda. Menurut saya, ini karena rumah makan tadi belum atau tidak paham. Ya, mereka tidak ramai dikunjungi karena mereka tidak paham caranya.

Ilustrasinya begini, bisnis makanan dan bisnis apapun memiliki success factors dan diantara success factors ini adalah key success factors. Success factors ini selain banyak, juga saling memberikan pengaruh dan tidak linear. Misalnya, ukuran ruangan tidak berarti lebih besar lebih baik, dalam kombinasi tertentu semakin besar malah lebih buruk.

Rumah makan atau restoran yang sukses adalah yang mengetahui, memahami, dan mengimplementasikan kombinasi success factors ini. Ada restoran yang mengimplementasikan success factors sampai tingkat mampu membuka cabang yang selalu sukses di mana saja, ada yang cuma mampu sukses di satu tempat, dan seterusnya. Coba kita perhatikan sekeliling kita, ada restoran sushi yang selalu ramai di cabang mana saja, tetapi ada kafe frozen yoghurt yang ramai di satu tempat tapi sepi di tempat lain, padahal menunya sama.

Apakah meniru mungkin dilakukan? Mungkin! Tetapi hanya berlaku jika memang kebetulan success factors tersebut semuanya memang yang bisa dilihat dari luar. Misalnya, saat kami terlibat dalam program efisiensi di sebuah jaringan supermarket premium, kami melihat kombinasi lampu kuning dan putih. Tidak semua orang akan paham, bahwa lampu yang lebih kuning ini berfungsi mengekspos warna pada buah. Jika kita tiru, mungkin akhirnya kita memasang lampu kuning tetapi di tempat yang salah.

Lantas bagaimana cara untuk mengetahui secara tepat apa saja success factors dan mana yang merupakan key success factors?

Pengalaman adalah guru terbaik sekaligus mahal. Belajar yang paling murah adalah belajar dari pengalaman orang lain.

Exit mobile version