Site icon SHIFT Indonesia

5 Langkah Sederhana Implementasi TPM

Ilustrasi: acatcredentials.org

Untuk memahami TPM secara lebih baik, tidak ada salahnya jika kita coba telusuri sebuah contoh perjalanan program TPM yang telah dijalankan di berbagai perusahaan. Berikut adalah roadmap sederhana yang akan membantu anda memahami  dan memulai implementasi TPM di area produksi. Bukan tidak mungkin, anda-pun bisa mendapatkan hasil TPM berkelas dunia.

[userpro_private restrict_to_roles=administrator,subscriber,author]

Langkah 1 – Identifikasi Area Pilot

Untuk menciptakan dasar yang luas bagi proyek TPM, pastikan anda menyertakan seluruh karyawan dari segala lapisan yang terlibat (operator, staf maintenance, dan manajer) dalam proses seleksi. Setelah itu, tim harus bekerja untuk membuat konsensus dalam kelompok untuk menentukan pilihan mesin.

Ketika area pilot telah ditentukan, buatlah sebuah fokus visual bagi proyek (misalnya project board) yang menampilkan perencanaan dan perkembangan proyek.

Langkah 2 – Kembalikan Mesin kepada Kondisi Operasi Prima

Pada langkah ini, mesin akan dibersihkan dan disiapkan untuk meningkatkan operasi. Dua kunci TPM akan diperkenalkan, yaitu 5S dan Autonomous Maintenance.

Pertama, program 5S harus dilakukan dan program ini melibatkan operator mesin serta stafmaintenance:

Langkah 3 – Mulailah Menghitung OEE

Pada langkah ini, sebuah sistem digunakan untuk mengetahui nilai OEE dari mesin yang diinspeksi. Sistem ini dapat berupa sistem manual (perhitungan OEE secara manual, menggunakan rumus) atau sistem otomatis seperti XL Productivity Appliance™ dari Vorne (kunjungi laman www.ftx.asia).  Sistem manapun yang anda pilih harus melingkupi tracking code untuk mengetahui penyebab down time.

Bagi sebagian besar mesin, kerugian terbesar akan terjadi akibat down time. Karena itulah, sangat disarankan untuk membuat kategori untuk setiap kejadian down time agar mendapat gambaran yang jelas mengenai titik-titik dimana produktivitas melemah. Disarankan juga untuk menyertakan kategori bagi down time yang “tak teralokasi” (misalnya: down time yang tidak diketahui penyebabnya). Membuat kategori untuk down time yang tak teralokasi khususnya sangat penting untuk menunjang perhitungan OEE secara manual. Manfaatnya antara lain meningkatkan akurasi dengan menyediakan opsi-opsi aman bagi operator ketika penyebab down time tidak diketahui dengan pasti.

Data yang dibutuhkan untuk menghitung OEE harus dikumpulkan paling tidak selama 2 minggu untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab down time yang berulang. Selain itu, juga untuk mengidentifikasi dampak dari small stops dan slow cycles. Tinjaulah data dari setiap shift untuk memastikan akurasinya, dan untuk memastikan penyebab down time yang sebenarnya telah diketahui.

Langkah 4 – Menanggulangi Major Losses

Pada langkah ini, penyebab kehilangan produktivitas yang paling signifikan mulai ditanggulangi. Konsep TPM berupa Kaizen (atau Focused Improvement) diperkenalkan.

Selama langkah ini dijalankan, data OEE harus tetap ditinjau dengan cermat di setiap shift untuk memonitor status losses yang telah diperbaiki, dan juga untuk memonitor keseluruhan perbaikan produktivitas.

Langkah 5 – Perkenalkan Teknik Proactive Maintenance

Pada langkah ini, teknik-teknik proactive maintenance diintegrasikan dengan program maintenance sambil memperkenalkan konsep TPM, yaitu Planned Maintenance. Pertama, identifikasi semua komponen yang menjadi kandidat proactive maintenance. Kedua, tentukan interval awal untuk proactive maintenance. Selanjutnya, ciptakan sistem umpan balik untuk mengoptimasi interval maintenance. 

HASIL PERBAIKAN YANG BERTAHAN LAMA

Salah satu tantangan terberat bagi perusahaan manapun, besar atau kecil, ketika melakukan perbaikan adalah menjaga hasil perbaikan tetap bermanfaat dan bertahan lama. Perusahaan harus bisa meraih kesuksesan jangka pendek, sekaligus mempertahankan kesuksesan tersebut dalam waktu selama mungkin. Ada empat teknik yang bisa membantu anda untuk melakukannya:

Keterlibatan karyawan adalah faktor yang sangat penting untuk memastikan kesuksesan jangka pendek dan jangka panjang. Kepemimpinan yang aktif adalah salah satu tanggung jawab utama dari manajemen senior (termasuk Plant Manager).

Mengembangkan inisiatif dengan mengaplikasikan teknik-teknik continuous improvement akan mencegah inisiatif perbaikan menjadi basi dan karyawan cepat puas. Tujuannya adalah tetap menjaga semangat dan menjadikan inisiatif tetap menarik untuk dilakukan.***

Sumber: leanblog.org yang dikembangkan oleh Vorne Industries.[/userpro_private]

Exit mobile version