Site icon SHIFT Indonesia

Gejalanya Dihapus, Tapi Akar Masalahnya Masih Tumbuh

Gejalanya Dihapus, Tapi Akar Masalahnya Masih Tumbuh

Banyak organisasi tampak aktif dalam perbaikan.
Ada tim khusus, ada dashboard, ada checklist aksi.
Namun ketika diamati lebih dalam, masalah yang sama terus muncul.
Hanya beda gejala, tapi akar yang sama.

Ini yang sering terjadi:
perbaikannya cepat, tapi dangkal.
Karena fokusnya bukan menyelesaikan masalah,
melainkan menyelesaikan keluhan.

Gejala vs Akar

Contoh umum di lapangan:

Semua tindakan ini kelihatan sibuk, tapi tidak menyentuh struktur sistem yang menyebabkan masalah muncul.

Masalahnya selesai sementara. Tapi akan kembali.

Kenapa Ini Terjadi ?

  1. Tekanan cepat-cepat “tindak lanjut”
    Semakin cepat laporan diselesaikan, semakin dianggap responsif—meskipun akar masalah belum dipahami.
  2. Kurangnya analisis sebab-akibat
    Investigasi berhenti di level gejala. Tidak cukup waktu, tidak cukup data, tidak cukup dorongan untuk bertanya “mengapa”.
  3. Tidak ada sistem pembelajaran masalah
    Organisasi menyimpan daftar masalah, tapi tidak menyimpan pembelajaran. Tidak ada review akar. Tidak ada standarisasi solusi.

Apa yang Harus Diubah

Perbaikan sejati bukan soal cepat bereaksi,
tapi soal berani menyentuh akar.

Kalau masalah yang sama terus muncul,
bukan sistemnya yang diperbaiki—hanya permukaannya.

Artikel ini merupakan pengembangan dari e-book “Belajar Lean” karya Riyantono Anwar (2015)

Exit mobile version