Site icon SHIFT Indonesia

Kalau Semua Jadi Prioritas, Apa yang Benar-Benar Penting?

Salah satu kebingungan paling umum di organisasi adalah ini:
semua hal dianggap prioritas.

Target dari pusat dianggap penting.
Permintaan pelanggan dianggap mendesak.
Inisiatif improvement dianggap harus jalan.
Proyek digitalisasi dianggap tidak bisa ditunda.
Semua harus dilakukan. Sekaligus. Sekarang.

Akhirnya, bukan bergerak cepat—tapi tersebar.
Bukan menyelesaikan yang penting—tapi menumpuk yang setengah jadi.

Organisasi Butuh Fokus

Dalam lingkungan kerja yang kompleks, kemampuan memilih menjadi krusial.
Tanpa pemetaan yang jelas terhadap prioritas, tim di lapangan akan bekerja secara reaktif,
berpindah dari satu urgensi ke urgensi lain tanpa arah strategis.

Akibatnya:

Tanda Bahaya: Tidak Ada Yang Benar-Benar Selesai

Kalau semua agenda disebut penting,
biasanya tidak ada yang dikawal secara serius.
Tidak ada follow-up kuat. Tidak ada penanggung jawab tunggal.
Semua jalan… sampai akhirnya mandek sendiri.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  1. Tentukan 1–3 prioritas yang dikawal penuh.
    Bukan sekadar banyak inisiatif, tapi mana yang dikawal sampai tuntas.
  2. Visualisasikan secara jelas di tim.
    Bantu semua orang tahu apa yang paling penting minggu ini—dan kenapa.
  3. Batasi gangguan yang tidak mendesak.
    Tidak semua hal harus direspons sekarang. Tidak semua target harus ditangani tim yang sama.

Fokus bukan berarti mengabaikan.
Fokus adalah keberanian untuk memilih apa yang harus dijaga dulu, agar bisa berdampak nyata.
Kalau organisasi ingin bergerak cepat, jangan mulai dari “apa yang bisa dikerjakan”,
tapi dari “apa yang paling harus selesai”.

Exit mobile version