Organisasi perlu mengidentifikasi pola pikir setiap anggotanya agar mendapatkan manfaat secara konsisten.

Setiap neuron otak bekerja secara maksimal sehingga muncul inovasi cemerlang yang bisa menguntungkan perusahaan. Ada beberapa cara untuk mencapai kinerja yang optimal dengan melakukan end-to-end proses, berikut beberapa cara yang bisa diterapkan di organisasi Anda:

1. Menumbuhkan Sense of Belonging
Kurangnya sense of belonging menyebabkan sikap apatis bagi para anggota. Kadang kita bisa melihat setiap anggota cukup siap menghadiri pertemuan, mereka menyampaikan suara dan memberikan komentar yang sesuai dan menarik. Namun, setelah pertemuan berakhir seakan semua menguap begitu saja. Sikap apatis membuat sejumlah ide dan proyek yang telah disepakati menjadi tidak ada nilainya dan berulang ke pertemuan berikutnya. Beberapa anggota yang semula semangat ikut terpengaruh oleh mereka yang apatis.

2. Tinggalkan Hukum Murphy
Murphy’s Law sering diartikan, singkatnya dengan: Anything that can go wrong, will go wrong. Sesuatu yang ada kemungkinan menjadi masalah, akan menjadi masalah. Kita harus mulai menggunakan sejumlah tools untuk melakukan tindakan preventif. Gunakan sejumlah tools yang bisa berperan sebagai alarm untuk memberi signal apabila mulai tercium masalah. Ini adalah sebuah tindakan untuk mengurangi risiko inefisiensi. Kalau Anda membiarkan organisasi Anda mengikuti hukum Murphy, berarti Anda akan merelakan masalah yang pernah terjadi akan terulang lagi dan lagi. Jika Anda lebih proaktif, produktivitas organisasi akan lebih baik. Organisasi tidak didesain bekerja seperti pemadam kebakaran, menunggu kobaran api baru bekerja.  

3. Hilangkan Budaya “Blame the People”
Ketika masalah terjadi, setiap orang ingin memastikan bahwa ada “orang lain” yang bisa disalahkan atas inefisiensi. Sejumlah perubahan pun secara cepat dilakukan tanpa memikirkan konsekuensinya. Perubahan sebatas perubahan bukan untuk tujuan substansial menyelesaikan masalah. Sehingga banyak anggota merasa perubahan yang dilakukan tidak membawa perbaikan bagi mereka. Hal ini memicu ketidakpercayaan anggota kepada management. Organisasi yang maju telah meninggalkan budaya ini, masalah dianggap sebagai ketidaksempurnaan proses yang mereka bangun. Sehingga setiap masalah yang datang segera mereka identifikasi secara terbuka dan diselesaikan secara kolaboratif. Perbaikan dilakukan tanpa mengorbankan seseorang. Mereka sepakat bahwa budaya menyalahkan akan berpotensi menyebabkan anggota frustasi dan stress dalam bekerja sehingga mereka jauh dari rasa puas dan tidak produktif.