Apa yang dilakukan sebuah perusahaan saat posisinya sedang berada di puncak? Merayakannya dengan penuh jumawa, atau setidaknya berbesar hati.  Namun yang dilakukan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) malah sebaliknya, perusahaan ini justru mengubah visi dan melakukan transformasi bisnis saat sedang berada di puncak. Lho, kok?

Milawarma, Direktur Utama PTBA menceritakan transformasi perusahaan besar-besaran ini sebenarnya dimulai pada 2011.

“Pada waktu itu bisnis harga batubara menguntungkan PTBA. Saat itu PTBA dalam tahapan yang outperform, yang terbaik, lagi ‘di puncak-puncaknya’ . Belum ada ancaman harga batubara turun, kita dalam posisi sangat di puncak performance,” kenang Milawarma.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Kesuksesan yang Membuat Lengah

Apa yang membuat Mila, sapaan akrab Milawarma, justru merasa harus melakukan banyak pembenahan di saat performa perusahaan yang berdiri sebagai perusahaan milik negara pada tahun 1980 itu sedang melesat tinggi?

“Waktu itu saya merasa takut, khawatir, kita betul-betul dalam kondisi yang baik, namun saya melihat mulai terjadi banyak kelengahan dari dalam PTBA sendiri. Banyak yang kurang efektif, kurang efisien, karena untungnya semakin banyak, jadi mereka sudah mulai biasa lalai.”

Contoh yang sederhana, lanjut Mila, terkait dengan International Standard Organization (ISO). Menurutnya, pejabat-pejabat perusahaan saat itu mulai tidak aware dengan standar-standar mutu dan sistem yang sudah berlaku lama di perusahaan.

“Mungkin ini karena alasan itu tadi, kita sudah terlalu baik, terlalu bagus performance-nya, sehingga kita mulai menyepelekan sistem atau standar-standar yang memang sudah baku di dunia tambang. Kemudian saya sampaikan ke para direksi dan pejabat-pejabat perusahaan, bahwa kita harus berubah dan saya challenge mereka untuk berkumpul, apa benar visi PTBA kedepan itu sudah betul?”

Baca juga  Presdir PT Astra Komponen Indonesia : Pemimpin Harus Punya Visi Besar

Beratnya Merevisi Misi Visi

Menyadari akan adanya perubahan besar yang dilakukan, para direksi serta para pejabat perusahaan berkumpul untuk merumuskan kembali visi perusahaan ke depan.

“Semua direksi dan semua lapisan satu tingkat dibawah direksi saat itu berkumpul, kita diskusi tiga hari tiga malam saat itu,” kenang Mila.

Namun ada ketakutan tersendiri dalam melakukan perubahan. Pasalnya, PTBA tidak bisa dipisahkan dari latar belakang PTBA sebagai perusahaan batubara.

“Karena sudah puluhan tahun sejak jaman Belanda, ya kita ini perusahaan batubara, batubara, dan batubara. Namun, saat itu saya sampaikan ke mereka, kenapa takut? BUMN tidak bisa lagi seperti itu, kita harus paham, yakin dan harus do it!”

Dari diskusi panjang tersebut diputuskanlah bahwa harus ditentukan visi , misi dan grand strategic PTBA yang baru, termasuk value, corporate culture, dan lain sebagainya, untuk merumuskan kembali dan mengerucutkan visi menjadi perusahaan energi kelas dunia.

“Sekarang kita harus berani menangkap peluang, tidak hanya yang “berbau” batubara, tapi juga ada “bau-bau” energi, selama itu sanggup dilakukan PTBA,” papar Mila

Hal kedua yang diubah selain coal oriented mindset menjadi energy mindset adalah orang-orang di dalam PTBA yang sangat ‘Tanjung Enim Centris’.

“Padahal, batubara tidak hanya di Tanjung Enim dan bisnis bukan hanya batubara. Business is about money,” tukasnya, tajam.

When You’re On Top, Don’t Stop!

Telah beroperasi hampir 100 tahun, kompetensi PTBA sebagai perusahaan tambang, jelas tidak diragukan lagi. Berbagai penghargaan sebagai perusahaan pertambangan terbaik berhasil disabet, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga  dari dunia internasional.

Bahkan di saat perusahaan pertambangan lainnya tutup karena tidak bisa mengurangi biaya, PTBA justru berhasil menurunkan cost sampai 11%,  bahkan profit margin masih bisa mencapai 14%.

Baca juga  3 Pelajaran Penting dari Jack Ma, Seorang Guru yang Berhasil Menjadi Pengusaha Sukses

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Namun untuk proses transformasi dan perluasan ini, Mila melihat bahwa kemampuan secara operasional saja tidaklah cukup.

“Istilahnya business enlargement, jadi bisnis kita tidak ‘meloncat’ tapi diperluas. Secara operasional bisnis PTBA saat ini sudah berubah, yang tadinya sebelum 2011 bisnis ini adalah product driven, apapun yang kita produksi, laku, laris manis, tapi semenjak 2012 hingga sekarang kita bukan lagi product driven melainkan market driven,  jadi pasar yang menjadi penentu.”

Ya, walaupun PTBA telah mencapai titik terbaiknya, Mila menilai hal itu tidaklah cukup. Ia melihat jika segalanya bisa lebih baik lagi, dalam konteks pengembangan, baik pengembangan bisnis baru ataupun pengembangan soft skill dari SDM. Ini merupakan keharusan baginya jika tidak ingin ditinggalkan oleh pasar.

“Jika saat ini sudah good apakah kemudian we have to stop now? Kita tidak bisa seperti itu. Kita tidak boleh berhenti. Kita harus lebih berkembang lagi, ada yang masih di atas kita, kejar lagi.” ***