Efesiensi berhasil berevolusi dari bentuk paling primordial yang diterapkan di dalam seni perang ratusan tahun sebelum masehi, sampai prinsip-prinsip strategi militer bertransformasi ke dalam ekonomi sebagai metode, alat mencapai keunggulan produksi. Lantas bagaimana perkembangan strategi militer mempengaruhi manajemen bisnis di Indonesia?

Amerika memiliki Harvard Bussines School yang mendeseminasi gagasan strategi bisnis dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi negara pasca Perang dunia II. Dalam konteks prinsip-prinsip militer Indonesia nampaknya lebih cenderung mengembangkan prinsip-prinsip pertahanan, inheren dengan perkembangan ilmu manajemen bisnis.

Susilo Bambang Yudoyono, Presiden RI ke-8, membangun fasilitas pelatihan pasukan penjaga perdamaian dunia di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada 2011 lalu. Ide membangun Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia atau Indonesian Peace and Security Center (IPSC) muncul lama saat ia pulang bertugas dari Bosnia pada 1996. IPSC sedianya dioperasionalkan berbagai keperluan latihan militer menjaga perdamaian.

Di dalam kawasan seluas 261,712 hektar dibangun berbagai fasilitas pelatihan pemeliharaan perdamaian. Diantaranya termasuk Pusat Pasukan Siaga, Pusat Pelatihan Penanggulanan Terorisme dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Pertahanan Indonesia, serta Pusat Olahraga Militer.

Menurut penuturan salah satu alumni Universitas Pertahanan (UNHAN) Indonesia angkatan 2008, Harli Muin, meski di dalam kurikulum tidak secara langsung mempelajari strategi bisnis, secara umum prinsip-prinsip pertahanan bisa diimplementasikan dalam konteks persaingan bisnis.

Konsep dasar strategi bisnis berasal dari strategi militer untuk memenangkan perang. Sementara bisnis bertujuan memenani persaingan, merebut pasar dan meningkatkan pertumbuhan. Cara yang dilakukan untuk mentransformasikan strategi militer menuju bisnis antaralain mencari nilai utama dari strategi militer yang dijadikan indikator seperti arena, pola persaingan, instrumen aktor dan tujuan. Kemudian nilai-nilai utama tersebut diubah dan diaplikasikan ke dalam strategi bisnis.

Pertahanan negara merupakan upaya melibatkan seluruh potensi kekuatan nasional yang diselenggarakan secara terpadu, terarah, efektif dan efesien berdasarkan sistem pertahanan negara. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sumberdaya nasional yang bisa disiapkan, didayagunakan secara optimal. Sehingga manajemen pertahanan menjadi fungsi dasar pengelolaan pertahanan keamanan negara.

Manajemen atau pengelolaan pertahanan negara merupakan kegiatan strategis dan kebijakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pertahanan negara. Manajemen pertahanan dimaknai sebagai proses pengelolaan sumberdaya nasional secara efektif, efesien menjadi sumberdaya pertahanan negara. Pada tingkat strategi, manajemen pertahanan negara bisa berupa strategi militer terkait sejumlah elemen penting antaralain pembuat keputusan, hasil strategi, dimensi ruang strategi dan penentuan kemenangan.

Di dalam prinsip pertahanan negara dikenal istilah strategi mengurangi risiko melalui pemaksimalan kekuatan. Strategi militer merupakan susunan perencanaan untuk melancarkan peperangan. Di dalamnya termasuk penyusunan tentara, operasi militer, siasat penipuan musuh. Sementara taktik militer merupakan teknik dan penyusunan unit-unit militer untuk mengalahkan lawan dalam pertempuran.

Strategi tersebut mengidentifikasi sejumlah risiko potensial dan bagaimana cara meresponnya meliputi risiko yang harus dihindari, risiko yang harus dihadapi, mitigasi risiko dan adaptasi risiko. Manajemen risiko untuk tujuan pertahanan negara nampaknya memiliki persamaan dengan manajemen risiko bisnis.

Manajemen risiko dalam dunia bisnis dipahami sebagai proses pengelolaan risiko mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang mengancam kelangsungan usaha/ aktivitas perusahaan. Dengan kata lain manajemen resiko merupakan metode mengelola ketidakpastian terkait ancaman melalui penilaian risiko, yaitu strategi mitigasi risiko menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumberdaya.

Manajemen pertahanan negara dan manajemen risiko bisnis sama-sama menitikberatkan pada pengelolaan sumberdaya sebagai sumber inovasi dan perbaikan berkelanjutan. Sehingga efesensi, efektifitas dalam proses manajemen pertahanan atau manajemen risiko diperlukan untuk menciptakan keunggulan operasional dan produk yang berkualitas.

Kisah 300 pasukan Sparta yang berhasil mempertahankan teritorinya dari gempuran Bangsa Persia, memberikan inspirasi betapa pentingnya konsep manajemen sumberdaya manusia menciptakan keunggulan operasional dalam sebuah pertempuran. Pertempuran yang tak lagi dimaknai fisik, namun pertempuran konsep manajemen, model bisnis dan produk atau layanan berkualitas dalam rangkaian supplay chain. []

Artikel Terpilih di Inbox Anda
Ya, tim konsultan SSCX akan memilihkan artikel dan ide menarik untuk Anda!

Kami akan mengirimkan maksimal 1 email per minggu dan Anda dapat unsubscribe kapan saja. Dengan berlangganan, Anda diberikan 1 ide yang bisa mengubah proses dan produk Anda lebih baik lagi.