Pelajaran kedua yang dipelajari oleh Larry Fast, author The 12 Principles of Manufacturing Excellence, A Lean Leader’s Guide to Achieving and Sustaining Excellence adalah perjalanan continuous improvement tidak dapat dipertahankan tanpa C-suite dan komitmen dewan eksekutif. Ini berarti baik budaya maupun harapan untuk continuous improvement dimulai dari perubahan kepemimpinan.

Di perusahaan pertamanya bekerja, Larry benar-benar bekerja membuat perubahan dari bawah ke atas tanpa dukungan eksekutif dan dia menyadari itu tidak akan berhasil. Barulah di perusahaan keduanya, General Cable, dia memiliki CEO yang kuat dan mendukung inisiatif continuous improvement, meski sekali lagi harus mulai dari bawah ke atas. Kinerja bisnis yang sangat buruk di awal membuatnya relatif mudah menunjukkan peningkatan signifikan pada pendapatan dan kontribusinya. Tetapi meraka mencapai titik dimana budaya harus diubah. Perusahaan itu adalah kumpulan perusahaan kawat yang telah melalui proses akusisi dan setiap budaya berbeda. Menurut Larry, yang mereka perlukan adalah menempatkan satu wajah di bidang manufaktur sehingga pemikiran, proses dan metrik dapat distandarkan untuk meningkatkan perusahaan jangka panjang. Peralatan sangat mirip, tetapi proses dan pekerjaan standar sangat berbeda.

Tantangan besar datang ketika mereka bertemu tim kepemimpinan Amerika Utara (LT) beberapa tahun setelah meluncurkan inisiatif continuous improvement dalam operasi. Berdasarkan hasil, seorang rekan mengajukan pertanyaan apakah kita harus mempertimbangkan perubahan budaya untuk perusahaan kita yang akan melibatkan semua orang. CEO dengan marah menjawab, “Kami TIDAK akan mengubah budaya di sini.” Anda bisa mendengar penolakannya ketika saya berbicara dan berkata, “Yah, kita akan mengubah budaya di bidang manufaktur!”

CEO perusahaan waktu itu sangat menentang ide Larry untuk mengubah budaya di bidang manufaktur. Dukungan dia dapat setelah CEO tersebut pensiun dan digantikan dengan CEO baru, yang telah bekerja lama disana. CEO memimpin dewan untuk menjadikan continuous improvement sebagai strategi global. CEO juga menjelaskan bahwa semua fungsi, bukan hanya operasi, harus sepenuhnya mendukung dan secara aktif terlibat dalam meningkatkan proses dalam fungsi dan bisnis mereka sendiri. Itu adalah budaya yang dia kembangkan sampai masa pensiunnya beberapa tahun yang lalu.

Dari pengalamannya ini, Larry menyimpulkan tanpa adanya papan absen dan kontinuitas C-level, dukungan kuat dan keterlibatan aktif para pemimpin perusahaan, continuous improvement tidak akan bertahan. Ini adalah tantangan yang telah dihadapi oleh banyak perusahaan. Apakah General Cable akan menjadi statistik terbaru atau apakah para pemimpin baru akan bertahan dalam mempertahankan budaya continuous improvement?

“Satu-satunya hal yang saya tahu pasti adalah bahwa sebagian dari kita akan menolak untuk diam dan tidak akan berhenti berusaha menciptakan para pemimpin dan perusahaan kelas dunia melalui perbaikan terus-menerus.”, tutup Larry.

Sumber:industryweek.com