Setiap organisasi memiliki hambatan yang membuat proses perubahan menjadi terkendala. Seperti yang disebut di artikel sebelumnya, bahwa manajemen perubahan diperlukan agar hambatan hambatan yang menjadi kendala dapat teratasi dan perubahan berlangsung sesuai yang direncanakan.

Diantara hambatan-hambatan perubahan yang perlu kita ketahui adalah:

  1. Karyawan kurang terlibat; gagal melibatkan karyawan dalam proses perubahan
  2. Komunikasi tidak efektif; hanya mengeluarkan pengumuman dan strategi perubahan, sementara karyawan juga ingin tahu perihal dampak dari perubahan tersebut.
  3. Buruknya antisipasi pergeseran budaya. Perusahaan jangan mengabaikan perasaan karyawan terkait budaya ataupun adat yang mereka anut.
  4. Kondisi kini yang kurang jelas.  Perlu adanya assessment sehingga dipahami kondisi yang dihadapi, baru merencanakan perubahan.
  5. Kompleksitas organisasi.  Mencakup kompleksitas proses, sistem dan produk yang dihasilkan. Lebih-lebih kalau organisasi belum siap menghadapi kompleksitas tersebut.

Memahami akan hambatan-hambatan yang timbul dalam melakukan perubahan, maka para pemimpin harus memperhatikan beberapa faktor penting berikut:

1. Mengenali serta menerima kebutuhan akan perubahan

Peluang sukses suatu perubahan masih tetap rendah sampai kebutuhan akan perubahan itu dikenali dan disetujui. Dalam banyak hal kita meminta perubahan hanya untuk sekedar ‘berubah’ saja, tentu hal seperti ini tidak bisa diterima. Jika kebutuhan akan perubahan dibentuk secara realistis, maka hasrat tersebut bisa diperkuat.

2. Komunikasi

Hendaklah setiap orang mengetahui perubahan apa yang akan terjadi. Jelaskan manfaatnya, dan jangan sembunyikan kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul. Dapatkan bantuan. Jaga perubahan sesuai konteksnya. Ingatlah bahwa suatu perubahan boleh jadi kelihatan besar, namun seringkali kecil saja pada kenyataannya.

3. Dukung perubahan yang diperlukan

Menyuruh seseorang untuk berubah, serta berharap perubahan terjadi dengan sendirinya, tidak akan pernah berhasil membawa perubahan. Intens mengingatkan tentang mengapa perubahan itu diperlukan, serta manfaat apa yang akan diperoleh, adalah metode yang positif untuk mendukung perubahan yang diperlukan.

Baca juga  Siapa yang Paling Berkontribusi dalam Kaizen ?

4. Mempertegas reaksi terhadap perubahan, baik positif maupun negatif.

Setelah perubahan dicapai dengan sukses, maka beritahu tim Anda pencapaian ini. Jika kesuksesan yang dicapai lebih rendah dari yang diharapkan, beritahu mereka juga. Tanpa penegasan, baik positif maupun negatif, semangat dan kesediaan untuk melakukan perubahan bisa hilang.

5. Berperan sebagai teladan

Jika anda menginginkan seseorang melakukan tugas, Anda harus bisa menjadi teladan/panutan (role-model) suatu perilaku yang sesuai bagi mereka.

6. Cari dan kenali “zone of stability”

Tetapkan standar yang tinggi, namun masuk akal; lakukan penilaian terhadap bawahan tentang harapan yang berkaitan dengan kinerja mereka dan berikan kepada mereka penilaian Anda atas usaha yang mereka lakukan secara continu. Hal ini bisa dilakukan melalui One on One Coaching, dengan menekankan pengembangan SDM (people development) bertolak dari kinerja yang dicapai individu.

Siap Jadi Change Agents? 

Sebagai pemimpin yang bertanggungjawan terhadap perubahan, Anda harus memandang diri Anda sebagai pelopor perubahan. Untuk menjamin perubahan sukses, maka Anda perlu mengintegrasikan pendekatan sistem, proses, maupun perilaku (people). Anda berperan sebagai pelaku perubahan bukan hanya ketika berada dalam proyek, tetapi sepanjang aktivitas sehari-hari.

Sebagai agent of change Anda adalah role model, berperilaku sebagai contoh/teladan melalui pesan yang diyakini dalam bentuk apa yang diucapkan dan dilakukan.  Beberapa contoh sifat positif dari seorang role model antara lain: PERCAYA DIRI, MAMPU MENGATASI TEKANAN/STRES, DAPAT DIPERCAYA, MELAKUKAN APA YANG DIKATAKAN, MENGHARGAI ORANG LAIN.