Ketika para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya inovasi, beberapa mitos dan praktik buruk juga mengikutinya. Sebagai contoh, beberapa pemimpin inovasi saat ini sering membicarakan bahwa tidak ada yang namanya ide buruk. Padahal premis ini dapat mengurangi dampak inovasi dalam perusahaan.

Tidak semua ide diciptakan sama. Faktanya, masih ada hal yang buruk. Dalam konteks perusahaan yang sudah mapan, ide yang buruk adalah ide yang tidak akan pernah diambil oleh perusahaan – bahkan meskipun layak secara finansial. Perusahaan tidak mungkin menginvestasikan setiap ide yang mereka kemukakan, sumber daya dan waktu yang terbatas serta kemungkinan gagal mencapai keunggulan ketika semua sumber daya dan waktu tersebut dimanfaatkan ke dalam berbagai kepentingan menjadi pertimbangannya.

Disinilah para pemimpin harus membuat pilihan. Tetapi ketika menyangkut inovasi, sebagian besar pemimpin tampaknya membuat keputusan yang tidak berhubungan secara acak. Karyawan yang memiliki koneksi atau slide presentasi palik menarik akan mendapatkan perhatian dan sumberdaya. Mereka para pemimpin tidak memiliki strategi inovasi yang jelas untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan.

Tindakan acak dari inovasi tidak memberikan hasil yang baik. Praktek ini juga menyulitkan karyawan untuk menghasilkan ide-ide bagus. Beberapa pemimpin yang kemudian menyesali ketidakmampuan tim mereka untuk menghasilkan ide bagus yang cukup. Lalu bagaimana agar mereka bisa mengenali ide bagus ketika melihatnya?

Agar berhasil memimpin inovasi, setiap perusahaan membutuhkan sebuah tesis inovasi yang jelas.

Para pemimpin perlu mengambil sudut pandang kemana dunia bergerak dan bagaimana mereka akan menggunakan inovasi untuk meresponsnya. Tendayi Viki author The Corporate Startup mengatakan bahwa untuk mengembangkan tesis inovasi ini setidaknya kita harus melakukan dua hal di bawah ini:

1. Menganalisa Portofolio
Jika inovasi adalah sebuah perjalanan, maka Anda perlu mengetahui posisi Anda sebagai perusahaan sebelum memutuskan arah yang akan diambil. Dengan demikian, perusahaan Anda harus meninjau portofolio produk dan layanan yang dimiliki saat ini. Apakah inovasi dan transformasi berjalan seimbang? Apakah ada produk dan layanan yang menurun dan perlu dihentikan? Apa kesenjangan portofolio bisnis saat ini dibandingkan produk yang akan ada di masa depan?

2. Lingkungan Bisnis
Setelah Anda melihat kondisi internal perusahaan, Anda perlu melihat dunia di sekitar Anda. Tren apa yang muncul dan cenderung berdampak bagi perusahaan di masa depan? Apa lanskap startup yang menantang bisnis Anda? Perubahan apa yang diharapkan pelanggan? Masalah yang banyak dihadapi para pemimpin adalah sulitnya melihat masa depan karena teknologi. Namun pemikiran ini tentu tidak terdistribusi secara merata, jika Anda memperhatikan, Anda akan mengenali teknologi dan tren lain yang dapat mempengaruhi bisnis Anda di masa depan. Seperti yang dikatakan orang-orang di Singularity University  “masa depan sudah ada di sini”.

Ketika analisis ini selesai, Anda dapat mengembangkan tesis inovasi Anda. Ini adalah tentang dimana Anda berada dalam bisnis, dan memikirkan dunia yang sedang berjalan, ide apa yang kita pikirkan akan berhasil di dunia itu dan bagaimana kita akan menggunakan inovasi untuk meresponsnya.

Sebuah Tesis Inovasi Adalah Sebuah Hipotesis
Karena kita tidak dapat memprediksi masa depan, tesis inovasi harus dikembangkan dan dilihat sebagai hipotesis yang akan berkembang seiring waktu. Investasi Anda dalam berbagai ide akan menjadi eksperimen untuk menguji tesis. Dengan tesis inovasi ini juga Anda dapat mengumpulkan ide dari tim Anda, memberikan kanvas kepada tim sehingga mereka bisa melukis setiap ide dan Anda sebagai pemimpin dapat mengevaluasi ide tersebut dan membuat keputusan investasi. Jika kita buat peribahasanya, ini bukan tentang membiarkan seribu bunga bermekaran – tetapi membiarkan bunga yang tepat mekar.

sumber: forbes