Social media kerap menjadi alat kampanye yang efektif menjelang musim pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia. Tak jarang social media memicu kontroversi aksi dukung mendukung pasangan calon pemimpin. Informasi palsu, fiktif atau hoax menjadi modus black campaign, mendeskreditkan salah satu pihak.

Pemilu Amerika Serikat juga tak lepas dari fenomena berita hoax. Facebook belakangan menjadi sorotan terkait menjadi sarana penyebaran informasi palsu. Sebagai pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg tak tinggal diam, mencoba melakukan perbaikan sistem untuk memberantas berita palsu yang bermunculan di Facebook.

Perbaikan sistem meliputi pengembangan metode verifikasi dan pendektesian menjadi lebih kuat. “99 persen berita yang ada di Facebook berdasarkan fakta,” ungkap Zuckerberg, dikutip sejumlah media online nasional. Selama ini pendiri jejaring sosial raksasa itu telah lama berupaya membereskan persoalan informasi dan berita yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Perbaikan terkait validasi informasi, menangkal berita palsu, antaralain pengembangan sistem yang bisa memberikan tanda pada berita hoax. Umumnya berita bohong muncul dari situs-situs berita palsu bertuuan meraup keuntungan dari iklan. Selain perbaikan sistem yang dilakukan Facebook, nampaknya Google juga melakukan langkah pencegahan agar situs berita palus tak lagi mengambil keuntungan dari pemasangan iklan. []

Artikel Terpilih di Inbox Anda
Ya, tim konsultan SSCX akan memilihkan artikel dan ide menarik untuk Anda!

Kami akan mengirimkan maksimal 1 email per minggu dan Anda dapat unsubscribe kapan saja. Dengan berlangganan, Anda diberikan 1 ide yang bisa mengubah proses dan produk Anda lebih baik lagi.