Perusahaan besar memiliki kecenderungan membagi tim berdasarkan tingginya tingkat pendidikan sebagai spesialis untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Umumnya kerja tim itu dilakukan secara kolaboratif, memanfaatkan keunggulan teknologi, bertemu secara virtual, dan tak jarang dalam rentang jarak yang jauh.

Perusahaan media massa mungkin bisa menjadi contoh yang baik bagaimana sebuah tim didesain untuk bekerja secara efektif, berkolaborasi demi menyelesaikan berbagai pekerjaan yang kompleks. Misalnya, saat BBC meliput kejuaraan Olimpiade, mereka membuat sebuah tim besar yang terdiri dari para peneliti, penulis, produser, kameramen serta para teknisi yang belum pernah bekerja sama dalam satu proyek. Para spesialis tersebut bekerja dalam lingkungan bertekanan tinggi lantaran tak ada adegan ulang dari obyek berita yang mereka buru.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pusat teknologi informasi Hotel Marriott, membangun sebuah sistem canggih untuk memberikan pengalaman berbeda bagi para tamu. Kerja kolaborasi turut melibatkan pemilik hotel, pakar customer experience, para manajer merek dunia serta regional heads yang masing-masing memiliki agenda dan kebutuhan yang berbeda.

Riset tentang perilaku tim yang dilakukan pada 15 perusahaan multinasional menunjukkan sebuah paradoks yang menarik. Meski sebuah tim umumnya besar, beragam, beranggotakan para spesialis berpendidikan tinggi yang mengerjakan proyek-proyek menantang, memiliki empat karakter tim kuat yang mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Karakter yang kerap membuat sebuah tim bekerja dengan baik dan mencapai sukses antara lain bebas berbagi pengalaman dan pengetahuan, mau belajar satu sama lain, bekerja fleksibel bergantian untuk memecahkan permasalahan tak terduga, serta saling membantu untuk menyelesaikan pekerjaan dan mau berbagi sumber atau berkolaborasi.

Teknologi baru telah membantu perusahaan-perusahaan menambah partisipasi pada sebuah proyek dengan penambahan jumlah sumberdaya manusia dengan kemampuan dan keahlian yang lebih baik. Lebih dari satu dekade, sebuah tim di perusahaan umumnya hanya berjumlah 20 orang. Menurut riset terkini berbagai pekerjaan kompleks setidaknya telah melibatkan lebih dari 100 orang dalam satu tim. Dari riset muncul temuan yang menarik bahwa peningkatan jumlah anggota dalam tim terjadi seiring menurunnya tendensi untuk berkolaborasi.   

Di bawah situasi yang tepat, tim yang besar mampu bekerjasama mencapai hasil maksimal. Namun untuk menciptakan situasi yang tepat membutuhkan pemikiran, investasi dalam kapasitas untuk melakukan kolaborasi lintas organisasi.

Bekerjasama secara virtual memiliki dampak pada sebuah tim. Semakin sebuah tim dibangun dengan relasi serba virtual, semakin terlihat rendahnya keinginan untuk bekerjasama, meski perusahaan telah berupaya membudayakan sikap kolaboratif.

Tantangan keberagaman bisnis saat ini hampir selalu membutuhkan masukan dan keahlian dari beragam perspektif, latar belakang untuk menciptakan inovasi. Namun keberagaman tersebut memunculkan persoalan. Riset perilaku tim menunjukkan bahwa anggota tim akan lebih mudah berkolaborasi jika mereka melihat dirinya sama seperti yang lain.

Perbedaan yang menghalangi kolaborasi antara lain suku bangsa, umur, tingkat pendidikan bahkan jabatan. Perbedaaan atau kesenjangan kerap dimaknai bahwa anggota tim hanya bekerja dengan orang yang mereka kenal atau belum pernah mereka temui sebelumnya. Hasil riset menunjukkan proporsi “orang asing” cukup tinggi dalam tim dan perbedaan yang tinggi adalah latar belakang serta pengalaman.

Pada saat yang sama, tingkat pendidikan yang tinggi dari anggota tim muncul sebagai tantangan tersendiri. Sebuah tim yang dikepalai oleh seorang ahli nampaknya cenderung mengalami situasi kontraproduktif, mengarah ke perpecahan atau kerap menemui jalan buntu.

Jadi bagaimana seorang eksekutif mampu memperkuat kemampuan organisasi anggotanya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kolaboratif yang kompleks serta meminimalisasi kerugian yang disebabkan oleh struktur dan komposisi tim? Temukan jawabannya dalam artikel kami selanjutnya.