Penting bagi seorang eksekutif untuk memperkuat kemampuan berorganisasi para anggotanya. Karena dengan adanya kolaborasi yang kuat, efektivitas pekerjaan akan meningkat dan kerugian yang disebabkan oleh struktur dan komposisi tim akan menurun. Berikut ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan untuk mendukung terbentuknya budaya kerja kolaboratif di organisasi bisnis Anda:

1. Dukungan Eksekutif

Kesuksesan atau kegagalan sebuah tim saat berkolaborasi sebenarnya merefleksikan kerangka filosofis top eksekutif organisasi. Tim bekerja dengan baik saat eksekutif mendukung relasi sosial, menunjukkan perilaku kolaboratif dan menciptakan gift culture. Sebuah pengalaman interaksi antara pemimpin dan koleganya, memberikan sesuatu yang berharga sebagai hadiah.

Kolaborasi tim yang kompleks menunjukkan produktivitas dan kebiasaan inovatif.  Mentoring dan coaching menjadi sebuah kebiasaan rutin dalam perusahaan. Melalui proses mentoring, aktivitas keseharian akan mudah terintegrasikan. Sementara pemberian coaching secara berkala akan membantu meningkatkan kerjasama gift culture.  

Sebagai contoh, Nokia memiliki informal mentoring kepada karyawan baru. Selama beberapa hari manajer kepegawaian akan duduk dan mencatat semua orang dalam organisasi. Sang manajer akan duduk bersama karyawan baru, melakukan review atas sejumlah hal yang perlu didiskusikan oleh setiap karyawan baru dengan orang lain, yang telah tertera dalam listnya. Aktivitas tersebut merupakan standar bagi setiap orang baru untuk membuat jadwal rapat dengan sejumlah orang dalam list. Interaksi demikian nampaknya sangat krusial bagi perusahan seperti Nokia yang menginginkan adanya budaya kolaboratif.   

2. Fokus Kepada Sumber Daya Manusia

Dalam studi perilaku tim ditemukan beragam praktik pengelolaan sumberdaya manusia termasuk seleksi, performance management, promosi, reward dan pelatihan sebaik pengelolaan program coaching dan mentoring. Tipe sistem pemberian reward baik yang berdasarkan pencapaian individu atau kelompok, tak terlihat memiliki dampak pada produktivitas dan inovasi tim.

Umumnya program HR memiliki dampak terbatas, setidaknya terdapat dua praktik perbaikan performa tim yaitu pelatihan yang skill berelasi kepada perilaku kolaboratif dan mendukung pengembangan informal kelompok. Saat kolaborasi menguat, tim HR secara tipikal merepresentasikan kultur dan strategi bisnis perusahaan. Studi perilaku tim menunjukkan sejumlah kecakapan yang penting dalam sebuah kerja kolaboratif, diantaranya saling menghargai, aktif dalam perbincangan tematik, produktif dan kreatif menangani konflik serta manajemen program.

Kita bisa melihatnya dari program Lehman Brother’s yang ditujukan kepada klien, berupa pelatihan pemasaran dan relationship management. Program tersebut bukan tentang teknik pemasaran namun memiliki fokus pada value perusahaan yang menjadi klien Lehman serta memastikan setiap klien memiliki akses terhadap seluruh sumberdaya yang dimiliki. Lebih mirip strategi pengembangan kemitraan kolaboratif dengan para pelanggan.

3. Orientasi Pekerjaan dan Kepemimpinan

Kepala tim mencapai level kolaboratif secara signifikan melalui pola manajerial yang fleksibel. Ada banyak perdebatan diantara akademisi dan manajer senior tentang pendekatan kepemimpinan tim yang paling ideal. Ada beberapa pendapat tentang orientasi relasi kepemimpinan dalam tim yang kompleks sebagai pendekatan yang sesuai. Sementara pendapat lain mengatakan orientasi pekerjaan yang paling penting. Orientasi kerja meliputi kemampuan mencapai tujuan, berbagi pemahaman tentang dimensi pekerjaan dan melakukan pengawasan serta umpan balik.

Penelitian terhadap perilaku tim dalam organisasi menunjukkan pendekatan yang sesuai untuk menciptakan budaya kolaboratif berada diantara orientasi kepemimpinan dengan orientasi pekerjaan. Biasanya seorang pemimpin tim akan mengubah gaya kepemimpinannya selama pelaksanaan proyek atau kerjasama kolaboratif. Khususnya pada tahap awal mereka akan menunjukkan kerja sekaligus orientasi kepemimpinan. Menjelaskan tujuan, menunjukkan komitmen serta mengklarifikasi tanggungjawab individu sebagai anggota tim.

Bagaimanapun, poin utama dari pengembangan sebuah proyek adalah peralihan orientasi kerja menjadi orientasi hubungan kerjasama. Peralihan tersebut di satu sisi mengambil alih tujuan yang telah dicapai oleh anggota tim sekaligus akuntabilitasnya, seiring keinginan berbagi pengetahuan yang mulai terbangun.   

Saat semangat komunal secara spontan terbangun, Riset menunjukkan HR memiliki peran penting untuk merawat dan mengelola semangat komunal yang terbangun secara spontan. Misalnya dengan mensponsori event dan aktivitas seperti kegiatan memasak di akhir pekan, pelatihan tenis, atau membuat kebijakan lain yang bersifat membangun. Studi tentang change management tim yang efektif terkait fungsi layanan perusahaan menunjukkan bahwa untuk mencapai sukses sebuah tim memerlukan keterlibatan para ahli atau pakar dari bagian atau departemen lain di perusahaan.

Misalnya praktik dukungan positif HR terhadap tim secara informal, perusahaan membuat teknologi untuk tujuan kolaborasi. Tetap bekerja dalam grup meski masing-masing berada di tempat yang berbeda, berjauhan. Bahkan perusahaan mendorong para pekerjanya bepergian ke tempat baru untuk menjadwalkan pertemuan.

Meski proyek telah usai, dan kerja tim telah berakhir, namun para pekerja tetap terkoneksi dalam jaringan kerja sama kolaboratif. Dukungan perusahaan terhadap komunalitas tim akan memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek di masa yang akan datang. []

Sumber: hbr.org