Hal pertama yang harus dilakukan dalam fase control adalah memvalidasi sistem pengukuran untuk mendapatkan Key Process Output Variable (KPOV) dan Key Process Input Variable  (KPIV) yang kritis.

Dalam menentukan KPOV dan KPIV yang akan dikendalikan, kita dituntut untuk bijaksana. Kesalahan yang sering terjadi adalah menempatkan terlalu banyak KPOV dan KPIV ke dalam Process Control Plan, sehingga pada pelaksanaannya akan sangat membebani pekerjaan produksi di lapangan. Pada akhirnya, waktu yang dibutuhkan untuk menjalankannya pun menjadi tidak masuk akal. Oleh karena itu kita harus benar-benar selektif dalam menentukan KPOV dan KPIV ini. Penting untuk memprioritaskan mana KPOV dan KPIV yang paling kritikal pengaruhnya. Untuk hal ini, tentu kita perlu merujuk pada Fase Analisa sebelumnya.

Tahapan selanjutnya adalah menentukan proses capability yang baru, termasuk apa alat pengukuran yang akan digunakan, berapa jumlah sample yang akan diukur, berapa sering pengukuran dilakukan, dimana hasil pengukuran akan dicatat, dan apa yang akan dilakukan jika terjadi kondisi penyimpangan.

Alat pengukuran yang akan digunakan harus tersedia dan capable untuk melakukan pekerjaan ini. Jumlah sample yang dipantau juga harus mencukupi. Frekuensi ditetapkan berdasarkan probabilitas terjadinya penyimpangan. Frekuensi juga perlu ditinjau ulang secara berkala. Jika sudah stabil boleh dikurangi, jika masih belum stabil maka perlu ditambah. Record pencatatan adalah proof of evidence yang nantinya dapat diaudit oleh owner dan manajemen Process Control Plan.

Proses-proses produksi mempunyai kecenderungan mengalami penurunan di sepanjang waktu, oleh karena itu perlu adanya response plan yang berisi rencana tindakan yang akan dilakukan oleh operator jika menemukan kondisi penyimpangan hasil pengukuran atau hasil audit. Terdapat dua tindakan yang harus dilakukan, yaitu tindakan containment dan tindakan curative. Tindakan containment adalah tindakan yang dilakukan terhadap lot produksi yang terpengaruh setelah ditemukannya penyimpangan. Sedangkan tindakan curative adalah tindakan perbaikan yang dilakukan terhadap proses sehingga output-nya bisa masuk kembali ke dalam rentang standard yang diijinkan. Operator perlu memahami apa yang harus mereka lakukan dan  kepada siapa mereka meminta bantuan.

Baca juga  Menjadi “Agile” untuk Lebih Produktif

Salah satu alat bantu yang melengkapi process control plan adalah OCAP, out of control action plan. Di dalam OCAP disebutkan dengan jelas apa yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab pihak operator produksi, supervisor, dan juga maintenance. Termasuk apa langkah yang harus mereka lakukan secara autonomous dan mana yang tidak boleh mereka lakukan. Atau singkatnya, OCAP menjelaskan keputusan apa yang harus dilakukan jika menemukan masalah.