Indeks Kepercayaan Industri bulan Maret 2023 masih menunjukkan nilai ekspansi, meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan Februari 2023. Hal ini karena sektor industri masih dibayangi penurunan permintaan global akibat tantangan tekanan geopolitik dan inflasi global yang mendorong kenaikan suku bunga sehingga membebani aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, pelonggaran pembatasan COVID-19 di China membantu memperbaiki kendala rantai pasokan dan mengurangi tekanan harga bahan baku global. Lalu apa saja sektor industri yang mengalami kontraksi?
Jika dilihat secara subsektornya, pada bulan Maret lalu beberapa subsektor yang terdampak aktivitas jelang puasa dan hari raya, seperti industri makanan dan minuman (kebutuhan primer) dengan ekspansi yang semakin tinggi. Namun, beberapa subsektor yang terkait kebutuhan sekunder masih mengalami kontraksi dan beberapa lainnya mengalami perlambatan.
Industri pakaian jadi, dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang masih dalam kondisi kontraksi walaupun tidak sedalam bulan sebelumnya. Demikian pula dengan industri barang galian bukan logam yang sebagian besar produknya merupakan material konsumsi. Kontraksi di kelompok industri ini ditengarai akibat berhentinya aktivitas pembangunan konstruksi di awal bulan Ramadan.
Berbeda dengan subsektor di atas, industri komputer, barang elektronik dan optik mengalami kontraksi akibat masalah kesulitan bahan baku. Demikian pula dengan beberapa subsektor lainnya yang mengalami penurunan nilai IKI.
Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Saiful Bahri, mengatakan industri karet barang dari karet yang juga mengalami kontraksi disebabkan adanya proses bisnis pada industri ban yang merupakan kontributor terbesar subsektor barang karet. Pada industri ini, di awal tahun, distributor ban mengurangi pesanan untuk menghabiskan stok yang tersedia. Sementara itu di industri agro, kontraksi industri furnitur disebabkan oleh resesi ekonomi yang dialami oleh beberapa negara tujuan utama ekspor seperti Eropa dan Amerika.
