Hybrid work kini telah menjadi strategi kerja baru pasca pandemi. Banyak perusahaan maupun organisasi beralih ke model kerja campuran antara tatap muka dan jarak jauh demi fleksibilitas dan efisiensi. Bukan tanpa masalah, perubahan ini memiliki tantangan tersendiri. Di satu sisi, perusahaan bisa memberikan ruang lebih kepada karyawan dan tidak terpaku pada cara lama yang menuntut kehadiran penuh di kantor. Selain itu, perusahaan juga bisa lebih leluasa merekrut karyawan tanpa khawatir akan keterbatasan geografis. Namun, disisi lain muncul pertanyaan bagaimana perusahaan dapat menjaga hubungan kerja serta produktivitas tanpa pertemuan langsung. Pada artikel ini, kita akan membahas tren, atau lebih tepatnya strategi baru ini, yang diterapkan pada beberapa kondisi.

Mengapa Hybrid Work Membutuhkan Gaya Kepemimpinan Baru?

Gaya kepemimpinan cara lama cenderung berbasis kontrol langsung atau kehadiran fisik sebagai indikator loyalitas dan produktivitas. Misalnya, kehadiran di kantor, jam kerja panjang, dan interaksi tatap muka sering dianggap bukti komitmen. Sedangkan hybrid work menuntut kepemimpinan berbasis kepercayaan, hasil, dan komunikasi terbuka. Pemimpin perlu menilai kinerja dari capaian, bukan sekadar kehadiran, serta membangun budaya kerja inklusif meski anggota tim tidak selalu berada di ruang yang sama. Pergeseran ini juga menuntut kemampuan empati lebih tinggi, karena kondisi psikologis karyawan tidak bisa langsung diamati seperti pada pola kerja tradisional.

Tujuan model hybrid work adalah mengoptimalkan produktivitas dan kepuasan kerja dengan mengakomodasi berbagai gaya kerja dan situasi pribadi. Hal ini secara langsung juga meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan motivasi karyawan. Mengutip ZOOM Blog, 86% pemimpin memilih model kerja hybrid karena menyukai fleksibilitas. Selain itu, lebih dari 90% mengatakan mereka lebih nyaman dalam lingkungan kerja ini dibandingkan hanya bekerja secara langsung. Lebih lanjut, mereka meyakini bahwa model kerja ini berdampak positif, terutama pada pengalaman karyawan. Data juga menunjukkan 71% pekerja hybrid dan jarak jauh merasakan dampak positif terhadap kebahagiaan mereka.

Di Indonesia, data survei menegaskan bahwa model kerja hybrid kini menjadi preferensi dari sebagian besar karyawan. Mengutip laporan Bisnis.com survei Logitech yang melibatkan 500 karyawan profesional menunjukkan bahwa 62% responden memilih sistem kerja hybrid. Sementara itu, dari money.kompas.com survei Badan Kepegawaian Negara (BKN) dengan 8.577 responden ASN menemukan bahwa 95,7% di antaranya ingin bekerja secara hybrid. Tren ini juga sejalan dengan laporan Zoom Blog, yang menyebutkan 86% pemimpin lebih memilih hybrid karena fleksibilitasnya. Data menunjukan lebih dari 90% merasa lebih nyaman dibandingkan bekerja sepenuhnya di kantor. Bahkan, 71% pekerja hybrid dan jarak jauh merasa lebih bahagia.  Dari ketiga hal ini, model kerja hybrid kini dipandang sebagai pilihan yang paling relevan karena dianggap mampu memberikan fleksibilitas, kenyamanan, serta peningkatan pengalaman dan kesejahteraan kerja, baik di konteks Indonesia maupun global.

Baca juga  Mendesain Sistem Monitoring yang Relevan dan Solutif untuk Organisasi Modern

Tantangan Utama dalam Memimpin Hybrid Teams

  • Manajemen dan Kepemimpinan 

Model kerja hybrid membutuhkan gaya kepemimpinan baru. Hal ini dikarenakan, para pemimpin maupun manajemen harus mengelola karyawan yang tersebar di berbagai lokasi, sekaligus menguasai komunikasi dari satu platform agar tercipta efektivitas dan efisiensi kontrol. Tujuannya agar setiap karyawan tetap terinformasi, dan merasa terhubung, terlepas dari lokasi mereka.

  • Respon Pekerja

Dari sisi pekerja, tidak semua individu merespons hybrid work dengan cara yang sama. Ada yang bisa memanfaatkan fleksibilitas, tetapi ada pula yang merasa kesulitan di beberapa hal. Contohnya, mereka merasa terisolasi, harus standby atau online lebih lama, hingga kesulitan memisahkan waktu kerja dan pribadi. 

  • Teknologi dan Infrastruktur

Hybrid work hanya bisa berjalan dengan dukungan teknologi yang stabil dan aman. Koneksi internet, perangkat kerja, serta platform kolaborasi digital menjadi penentu kelancaran operasional. Tantangannya tidak hanya soal investasi perangkat, tetapi juga terkait keamanan data, kesetaraan akses teknologi di antara karyawan, dan kemampuan mereka menggunakan alat digital secara efektif.

  • Keterbatasan Penerapan

Model kerja ini tidak dapat dijadikan standar universal. Industri yang bergantung pada kehadiran fisik, seperti manufaktur, kesehatan, atau logistik, jelas tidak bisa sepenuhnya menerapkan hybrid. Bahkan di sektor jasa atau kreatif, hybrid sering lebih efektif untuk pekerjaan tertentu, tetapi tidak semua fungsi. Hal ini menimbulkan dilema ketika sebagian posisi bisa hybrid sementara yang lain harus tetap on-site.

Strategi Pemimpin Efektif di Era Hybrid

  • Membangun Komunikasi Proaktif

Dalam model kerja hybrid, informasi tidak bisa dibiarkan mengalir secara alami seperti di kantor tradisional. Pemimpin harus aktif melakukan check-in rutin. Koordinator maupun pemimpin tim tidak hanya menanyakan progres pekerjaan, tetapi juga memperhatikan kondisi karyawan serta dinamika tim. Komunikasi proaktif ini menciptakan rasa kehadiran meski tanpa tatap muka, sekaligus mencegah masalah psikologis maupun hambatan koordinasi.

  • Mengatur Ritme Kerja
Baca juga  Program Pelatihan di Perusahaan Kurang Partisipatif? Ada Triknya

Salah satunya melalui penerapan meeting-free days. Dalam praktik hybrid, sering kali muncul kecenderungan mengganti interaksi tatap muka dengan rapat virtual berlebihan justru dapat menurunkan produktivitas. Dengan menetapkan hari tanpa rapat, karyawan memiliki ruang untuk fokus pada pekerjaan mendalam tanpa distraksi, sekaligus mengurangi risiko kelelahan digital.

  • Membagi Kategori

Tidak semua fungsi pekerjaan bisa disesuaikan dengan model hybrid. Misalnya di industri manufaktur, pekerja lini produksi tetap harus hadir di pabrik karena pekerjaannya bergantung pada mesin dan proses fisik. Sebaliknya, staf administrasi atau bagian desain produk bisa mengatur waktu antara kantor dan rumah. Jika perusahaan tidak mengelola perbedaan ini secara transparan, akan muncul rasa ketidakadilan di antara karyawan. Karena itu, perusahaan harus realistis dalam menetapkan siapa yang bisa menjalankan hybrid work.

  • Investasi pada Infrastruktur Teknologi

Perusahaan harus berinvestasi pada sistem digital yang andal, aman, dan mudah digunakan. Platform kolaborasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan tim, sementara pelatihan digital wajib diberikan agar semua karyawan memiliki kompetensi setara. Keamanan data juga harus menjadi prioritas, terutama karena akses kerja dilakukan dari berbagai lokasi. Infrastruktur ini tidak boleh dianggap tambahan, melainkan fondasi agar model hybrid berjalan efektif.

Frequently Asked Questions (FAQs)

  1. Mengapa hybrid work disebut strategi kerja pasca-pandemi? 

Hybrid work lahir sebagai respons pandemi yang membuktikan pekerjaan tidak harus selalu dilakukan di kantor. Model ini memadukan fleksibilitas dan efisiensi sekaligus meningkatkan kepuasan karyawan.

  1. Apakah semua perusahaan bisa menerapkan hybrid work

Tidak semua industri cocok, terutama yang bergantung pada kehadiran fisik seperti manufaktur atau kesehatan. Karena itu, perusahaan perlu membagi kategori pekerjaan secara transparan agar adil bagi semua karyawan.

  1. Mengapa karyawan merasa terisolasi saat bekerja secara hybrid

Kurangnya interaksi spontan dan kaburnya batas antara kerja dan waktu pribadi membuat sebagian karyawan merasa terisolasi. Tekanan untuk selalu online juga bisa memicu stres dan burnout.

  1. Apa yang bisa dilakukan pemimpin agar hybrid work efektif? 
Baca juga  Strategi Management Stakeholder di Tengah Perubahan

Pemimpin perlu membangun komunikasi proaktif, tidak hanya soal pekerjaan tetapi juga memperhatikan kondisi karyawan agar tetap terhubung dan termotivasi.

  1. Seberapa penting teknologi dalam model kerja ini? 

Teknologi adalah fondasi hybrid work. Tanpa sistem yang stabil, aman, dan andal, model ini tidak akan berjalan efektif.

Model ini membawa peluang besar dalam hal fleksibilitas, efisiensi, dan kepuasan kerja, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi manajemen, pekerja, maupun perusahaan. Kunci keberhasilan hybrid work terletak pada kepemimpinan yang adaptif, seperti membangun kepercayaan, menjaga komunikasi, melindungi kesejahteraan psikologis karyawan, serta memastikan dukungan teknologi yang memadai. Dengan pendekatan strategis dan transparan. Walaupun model kerja hybrid menawarkan solusi menarik, ia tetap merupakan metode baru yang memerlukan berbagai penyesuaian dan perbaikan. Keberhasilannya menuntut adaptasi serta kesiapan dari semua pihak yang terlibat. Dengan kata lain, hybrid work membutuhkan perencanaan matang dan pemahaman mendalam terhadap tantangan yang menyertainya. 

Referensi

Mekari Talenta. (n.d.). Tantangan bekerja model hybrid yang dihadapi perusahaan. Talenta Blog. Diakses dari https://www.talenta.co/blog/tantangan-bekerja-hybrid/ (Mekari Talenta)

Zoom. (n.d.). Survey reveals that executives prefer flexible working options for themselves. Zoom Blog. Diakses dari https://www.zoom.com/en/blog/survey-reveals-executives-prefer-flexible-work/ (Zoom)

Select Software Reviews. (2025, Maret?). How to implement a hybrid work policy for 2025 and beyond. SelectSoftwareReviews Blog. Diakses dari https://www.selectsoftwarereviews.com/blog/hybrid-work-policy (SelectSoftware Reviews)

Dialpad. (2024?). Hybrid work stats to know in 2024. Dialpad Blog. Diakses dari https://www.dialpad.com/blog/hybrid-work-stats/ (Dialpad)

Psico-smart. (2024?). Trends in employee experience management: Adapting to a hybrid work environment. Psico-smart Blog. Diakses dari https://blogs.psico-smart.com/blog-trends-in-employee-experience-management-adapting-to-a-hybrid-work-environment-161447 (Psico-Smart Blogs)

HR Dive. (2025?). Lack of hybrid work norms may cause workers to leave. HR Dive. Diakses dari https://www.hrdive.com/news/lack-of-hybrid-work-norms-may-cause-workers-to-leave/648300/ (HR Dive)

Survei: 62% Karyawan di Indonesia Lebih Memilih Bekerja Secara Hybrid. (2023, December 5). Entrepreneur. Retrieved September 12, 2025, from https://entrepreneur.bisnis.com/read/20231205/52/1721147/survei-62-karyawan-di-indonesia-lebih-memilih-bekerja-secara-hybrid?utm_

Kompas.com. (2023, 3 Maret). Survei BKN: 95,7 Persen Responden ASN Ingin Bekerja secara Hybrid. Kompas Money. Diakses tanggal [tanggal kamu akses], dari https://money.kompas.com/read/2023/03/03/203000626/survei-bkn–95-7-persen-responden-asn-ingin-bekerja-secara-hybrid-?utm_source=chatgpt.com