Transportasi MRT (Mass Rapid Transit) yang kini menjadi salah satu transportasi andalan ibu kota, memiliki cerita panjang dibalik kehadirannya. Mulanya, pembangunan transportasi ini hanyalah rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kian berkembang seiring kemajuan waktu menjadi proyek nasional. MRT merupakan proyek besar yang memiliki banyak tantangan pada awal perencanaannya. Hal ini terlihat dari jeda yang cukup panjang sejak lahirnya ide pembangunan MRT pada tahun 1985 dan baru dapat direalisasikan proses pembangunannya di tahun 2013. 

Meski begitu, proyek ini mampu menyelesaikan kendala-kendala yang ada hingga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat umum hingga saat ini. Keberhasilan itu tak luput dari kematangan project management yang dijalankan MRT. Dikutip dari Investopedia, project management adalah metode perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang bisa digunakan perusahaan untuk menyelesaikan sebuah proyek. Hal ini penting karena project management dapat membantu sebuah proyek berjalan lancar, tepat waktu, dan sesuai anggaran. 

Profil Perusahaan

Perseroan Terbatas (PT) MRT Jakarta merupakan perusahaan perseroan terbatas yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berdiri pada 17 Juni 2008, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jakarta ini memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembangunan, pengoperasian, dan perawatan sarana prasarana MRT, serta melakukan pengembangan sekaligus pengelolaan properti di kawasan stasiun, depo, dan sekitarnya. 

PT MRT Jakarta terbentuk didasari oleh Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perseroan Terbatas (PT) MRT Jakarta dan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Penyertaan Modal Daerah Pada Perseroan Terbatas (PT) MRT Jakarta. 

Awal Rancangan Proyek MRT

Keseriusan pendirian MRT dimulai ketika proyek ini berubah menjadi proyek berskala nasional di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pembangunan pun terus berjalan lancar seiring Pemerintah Indonesia yang berhasil mendapat pinjaman dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk pembangunan MRT Fase I, Koridor Lebak Bulus–Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebanyak ¥146,77 juta. 

Dalam proses pembangunannya, MRT Jakarta menerapkan beberapa sistem teknologi Jepang yang baru diterapkan dalam industri perkeretaapian Indonesia. Dilansir dari Buku Konstruksi Fase 1 MRT Jakarta, teknologi baru itu adalah sistem persinyalan moving block (Communication Based Train Control (CBTC)) dan sistem operasi otomatis level 2 (Automatic Train Operation (ATO) Level 2). Termasuk juga, penggunaan Tunnel Boring Machine (TBM) tipe Earth Pressure Balance Machine (EPB) buatan Japan Tunnel System Corporation (JTSC) yang digunakan untuk membangun konstruksi bawah tanah dan terowongan. 

Baca juga  Pemanfaatan Teknologi untuk Mendorong Realisasi Operational Excellence

Sistem ini membuat keseluruhan operasi MRT Jakarta menjadi otomatis dan terpusat di Operating Control Centre (OCC) yang membuat jadwal perjalanan kereta menjadi tepat waktu dan dioperasikan dengan frekuensi tinggi untuk meningkatkan daya angkut penumpang setiap harinya. 

Kendala Proyek MRT dan Cara Menghadapinya

Dalam proses pembangunannya, PT MRT Jakarta mengalami kendala teknis di lapangan mengenai rencana rute awal. Pada mulanya, rute MRT Fase I hanya ingin dibuat dari Lebak Bulus hingga Dukuh Atas. Namun pada penerapannya, kereta butuh balik arah kembali ke Lebak Bulus, karena koridor lanjutan arah Kota belum tersedia. Sehingga, perlu dibuat fasilitas pindah jalur (scissor crossing) di bawahnya. 

Namun, hal ini tidak bisa dilakukan di Stasiun Dukuh Atas karena letak stasiun tersebut tepat di bawah Kanal Banjir yang tidak memungkinkan dibangun fasilitas tersebut menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) seperti yang direncanakan sebelumnya. Mengatasi hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk memperpanjang rute Fase I hingga Bundaran HI. Ketika usulan ini disetujui, Kementerian Keuangan dan JICA pun melakukan revisi terhadap besaran nilai proyek. 

PT MRT Jakarta juga memiliki kendala terkait pengadaan lahan. Mereka kerap kali mengalami bentrokan kepentingan ketika hendak mengakuisisi lahan. Seperti ketika mereka hendak membangun Depo Lebak Bulus, alternatif lokasi yang mereka miliki adalah tanah lapang milik perusahaan pengembang. Sulit bagi mereka untuk mengambil alih lahan yang fungsinya tengah berjalan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membangun depo di lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

Walau sudah memiliki opsi lahan yang aman, proses akuisisinya juga tidak mudah. Sebab di lahan itu sudah berdiri kompleks perumahan/asrama milik Polri, terminal milik Dishub, dan GOR Lebak Bulus yang sifatnya “pemanfaatan” oleh Dinas Olahraga. Terdapat pula lahan milik negara yang dikuasai masyarakat, seperti daerah milik jalan yang dimanfaatkan oleh penjaja bunga, warung, atau Pedagang Kaki Lima (PKL), serta lahan milik masyarakat yang sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM). Dengan  mengadopsi metode Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP) akhirnya PT MRT Jakarta mampu mengatasi kendala yang muncul dengan membangun bangunan pengganti dan memberi ganti ‘untung’ untuk mereka yang terdampak proyek MRT. 

Baca juga  Mengenal Executive: Brand Fesyen Lokal yang Konsisten Menjaga Kualitas

Selain perihal teknis, PT MRT Jakarta pun berusaha menarik kembali kepercayaan publik terkait keberlanjutan dan kualitas proyek MRT. Pasalnya, publik saat itu terkesan trauma atas kegagalan proyek monorel yang dahulu sempat beredar namun berujung mangkrak. PT MRT Jakarta berusaha meyakinkan publik bahwa persiapan moda transportasi ini sudah cukup matang, mulai dari sisi manajemen proyek, keberlanjutan pekerjaan yang ditargetkan, dan kemampuan MRT sebagai moda transportasi baru yang bisa diandalkan masyarakat. 

Tak hanya itu, PT MRT Jakarta juga berusaha membangun kesadaran publik dengan pendekatan personal kepada tokoh atau warga yang terdampak proyek atau terkesan kontra dengan proyek. Sedangkan, untuk warga yang pro proyek, PT MRT Jakarta biasanya melibatkan mereka dalam program-program yang bersifat apresiasi. Pemahaman terkait MRT juga dipromosikan lewat media massa untuk mengedukasi publik terkait manfaat yang ditawarkan MRT. 

Sebagai hasil dari project management yang matang dan terencana inilah, transportasi MRT berhasil menjadi salah satu transportasi unggulan ibu kota yang modern dan manusiawi. Keberadaan MRT berhasil membentuk sebuah kultur transportasi yang mengedukasi masyarakat untuk berbudaya antri, mengurangi penggunaan uang tunai, adaptif dengan teknologi, serta budaya menjaga kebersihan dan kesehatan. MRT juga cocok untuk masyarakat kelas menengah dan menengah atas untuk berkontribusi mengurangi kemacetan dengan menggunakan transportasi umum yang nyaman. 

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)

  1. Apa yang membuat MRT menjadi proyek nasional? 

Proyek ini dianggap solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan ibu kota, dengan melibatkan pembiayaan dan dukungan dari Pemerintah Pusat bersama Pemprov DKI Jakarta, serta bantuan dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA). 

  1. Apa sistem teknologi Jepang yang baru diterapkan dalam pembangunan MRT di Indonesia?

Teknologi baru itu adalah sistem persinyalan moving block (Communication Based Train Control (CBTC)), sistem operasi otomatis level 2 (Automatic Train Operation (ATO) Level 2), dan penggunaan Tunnel Boring Machine (TBM) tipe Earth Pressure Balance Machine (EPB).

  1. Bagaimana cara PT MRT Jakarta mengatasi kendala teknis mengenai rute Fase I MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas yang membutuhkan rute putar balik? 
Baca juga  Strategi di Balik Kesuksesan Louis Vuitton: Peran Kunci Bernard Arnault

Untuk mengatasi hal itu, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk memperpanjang rute Fase I hingga Bundaran HI. Sebab tidak mungkin untuk membangun persilangan jalur di wilayah Dukuh Atas karena letak stasiun tersebut tepat di bawah Kanal Banjir yang tidak memungkinkan dibangun fasilitas tersebut menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM). 

  1. Apa yang dilakukan PT MRT Jakarta untuk membangun kesadaran publik mengenai proyek MRT? 

PT MRT Jakarta melakukan promosi di berbagai media massa dengan narasi yang meyakinkan publik bahwa persiapan moda transportasi ini sudah cukup matang, mulai dari sisi manajemen proyek, keberlanjutan pekerjaan yang ditargetkan dan kemampuan MRT sebagai moda transportasi baru yang bisa diandalkan masyarakat. 

  1. Apa hubungan project management dengan keberhasilan proyek MRT?

Dengan project management yang matang, sebuah proyek dapat terealisasi sesuai harapan karena project management mampu membantu sebuah proyek berjalan lancar, tepat waktu, dan sesuai anggaran. 

Kesimpulan

Keberadaan transportasi MRT saat ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan project management yang matang. Dengan mengadopsi berbagai teknologi baru, membangun kepercayaan publik melalui berbagai pendekatan, dan penyesuaian regulasi yang mendukung pengerjaan, MRT berhasil melahirkan solusi transportasi baru untuk mengurai kemacetan di ibu kota. Meski memakan waktu yang tidak sebentar, MRT mampu menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengusahakan segala aspek pembangunannya dengan baik. 

Penerapan project management yang baik telah berhasil membantu banyak proyek berhasil mencapai tujuannya. Maka dari itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan aspek project management sebelum memulai proyeknya. SSCX International dapat menjadi mitra strategis untuk menerapkan project management yang baik, mulai dari pemahaman mendasar tentang prinsip-prinsip manajemen proyek hingga metode mengendalikan kemajuan dan efektivitas proyek untuk membantu sebuah proyek mencapai keberhasilan. Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat mengunjungi situs www.sscxinternational.com

Referensi:

Investopedia. (n.d.). Project management. https://www.investopedia.com/terms/p/project-management.asp

MRT Jakarta. (n.d.). Sejarah. https://jakartamrt.co.id/id/sejarah

MRT Jakarta. (n.d.). PT MRT Jakarta (Perseroda) bagi pengalaman bangun MRT Jakarta melalui Webinar Project Management. https://jakartamrt.co.id/id/info-terkini/pt-mrt-jakarta-perseroda-bagi-pengalaman-bangun-mrt-jakarta-melalui-webinar-project

PT MRT Jakarta (Perseroda). (2022). Standar baru pembangunan infrastruktur di Indonesia. Knowledge Management, Divisi Corporate Strategy.