Suara konsumen kadang menjadi sebuah yang terlupakan oleh perusahaan-perusahaan ketika ingin mengambil keputusan. Perusahaan cenderung memilih untuk membahas sudut pandang internal, seperti kemampuan teknis yang dimiliki saat ini dalam mengembangkan sebuah produk atau layanan baru. Kebutuhan dan nilai pelanggan tidak dianalisis secara mendalam, dan perusahaan lebih fokus kepada suara bisnis (voice of the business) daripada suara konsumen.
Dalam pendekatan desain tradisional, suatu produk atau layanan dibangun komponen demi komponen dengan cara yang membuat sistem tingkat tinggi menjadi tidak optimal dari sisi biaya, kinerja, maupun waktu pengiriman, tanpa sepenuhnya mendengarkan suara kebutuhan konsumen.
Sebaliknya, pendekatan Design for Six Sigma (DFSS) terhadap desain produk dan layanan mempertimbangkan suara konsumen/voice of customer (VOC) sejak awal proses desain dan pengembangan rancangan produk.
Metodologi DFSS ditandai oleh lima fase terintegrasi:
- Identifikasi kebutuhan pelanggan menggunakan VOC
- Merjemahkan kebutuhan VOC ke dalam spesifikasi internal serta pengembangan alternatif desain produk
- Memadukan desain menjadi desain final yang dioptimalkan menggunakan model statistik
- Memvalidasi desain produk/layanan baru untuk memenuhi persyaratan VOC dalam kondisi lingkungan dan penggunaan pelanggan, dengan kapabilitas Six Sigma. Dalam DFSS, target kegagalan maksimum per spesifikasi adalah 3,4 DPMO (Defect Per Million Opportunity).
- Menggabungkan semua pembelajaran yang diperoleh tim desain selama proses pengembangan.
IDOV dalam DFSS
Sebagaimana yang telah disebutkan, metodologi DFSS memiliki lima fase yang saling terintegrasi. Fase-fase tersebut adalah identifikasi (identify), desain (design), optimasi (optimize), validasi (validate), dan penggabungan (incorporate). Kelima fase ini biasa disebut sebagai satu kesatuan, yakni IDOV. Berikut adalah penjabaran dari masing-masing fase:
| No. | Fase | Aktivitas Utama |
| 1. | Identify | Mengidentifikasi kebutuhan, harapan, dan persyaratan pelanggan (CTQs), menetapkan metrik untuk CTQs, dan menentukan tingkat kinerja yang dapat diterima dan rentang operasi untuk setiap keluaran |
| 2. | Design | Menerjemahkan CTQs menjadi spesifikasi fungsional, kemudian mengevaluasi dan memilih konsep desain sesuai spesifikasi dan target menggunakan FMEA, metode peringkat alternatif, focus group, dan QFD |
| 3. | Optimize | Memilih konsep desain penting untuk dioptimalkan menggunakan desain alternatif, analisis keandalan, simulasi, desain toleransi, dan alat optimasi terkait |
| 4. | Validate | Membuat uji coba/prototipe sesuai spesifikasi desain, memverifikasi kesesuaian uji coba/prototipe dengan prediksi, dan mencegah kesalahan dalam proses dan menetapkan rencana pengendalian proses untuk CTQs dengan analisis kapabilitas, mistake-proofing, rencana pengendalian, dan pengendalian proses statistik |
Selain IDOV, ada juga metodologi lain dalam Six Sigma yaitu DMAIC yang digunakan untuk memperbaiki proses yang sudah ada. DMAIC terdiri dari tahapan mendefinisikan masalah dan kebutuhan pelanggan, mengukur kinerja proses, menganalisis penyebab masalah/kesalahan, meningkatkan proses dengan solusi perbaikan, serta mengendalikan dan menjaga perbaikan agar berkelanjutan.
DMAIC dan IDOV sama-sama merupakan metodologi dalam kerangka Six Sigma yang berfokus pada peningkatan kualitas serta kepuasan pelanggan dan menjadikan Voice of the Customer (VOC) sebagai dasar pengambilan keputusan. Keduanya terhubung oleh tujuan yang sama, yaitu menciptakan sistem yang andal dan bernilai bagi pelanggan.
DMAIC berfokus pada peningkatan kinerja perusahaan, cocok untuk memperbaiki proses yang sudah berjalan tetapi tidak efisien. Sementara itu, IDOV digunakan untuk merancang produk, layanan, atau proses baru agar sejak awal sesuai dengan kebutuhan pelanggan, melalui tahapan identifikasi kebutuhan, desain, optimasi, hingga verifikasi.
Dalam praktiknya, DMAIC dan IDOV saling melengkapi: ketika sebuah proses lama masih bisa ditingkatkan maka digunakan DMAIC, namun jika perbaikan tidak memadai dan dibutuhkan solusi baru maka IDOV menjadi pilihan.
Implementasi DFSS dalam industri manufaktur: Adopsi Six Sigma oleh General Electric
Perusahaan industri alat-alat elektronik, General Electric, menjadi salah satu kasus nyata Pemanfaatan IDOV dalam perancangan produk mereka. GE menerapkan DFSS dalam pengembangan generasi baru generator mereka, jenis 7FH2 761/763 dengan mengikuti langkah-langkah IDOV.
GE mengumpulkan Voice of Customer (VOC) dari operator pembangkit listrik, dan menyimpulkan bahwa mereka butuh turbin dengan efisiensi tinggi, emisi rendah, dan biaya perawatan minimal. Kemudian, tim internal merancang konsep turbin dengan material baru dan sistem pendingin inovatif. Dilakukan juga simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) dan analisis statistik untuk menemukan desain bilah turbin terbaik. Hasilnya, turbin yang diproduksi menjadi lebih efisien, daya tahan lebih lama, dan mengurangi downtime pelanggan.
DFSS memberikan hasil yang signifikan baik bagi industri maupun konsumen. Dari sisi industri, penerapan DFSS mampu menekan biaya produksi karena mengurangi potensi cacat produk, sekaligus mempercepat waktu peluncuran produk baru (time-to-market). Hal ini membuat perusahaan lebih kompetitif di pasar global. Selain itu, DFSS meningkatkan efisiensi operasional dan kapabilitas proses, sehingga perusahaan dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi secara konsisten.
Bagi konsumen, manfaat DFSS terlihat dari kualitas produk yang lebih baik, lebih tahan lama, serta lebih aman digunakan. Konsumen juga merasakan nilai tambah berupa harga yang lebih kompetitif karena efisiensi biaya produksi dialihkan menjadi penurunan harga jual. Selain itu, produk yang dikembangkan dengan DFSS biasanya lebih sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan, karena seluruh proses perancangan sejak awal sudah berorientasi pada Voice of Customer (VOC).
Berbagai Manfaat DFSS
DFSS memberikan banyak sekali manfaat yang memudahkan perusahaan dalam merancang produk baru, diantaranya:
- Mengurangi kesalahan pada desain produk
DFSS membantu perusahaan merancang produk dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis data. Dengan metode ini, potensi kegagalan atau kesalahan pada produk dapat diidentifikasi lebih dini sebelum masuk tahap produksi massal.
- Efisiensi biaya desain produk
Dengan adanya proses analisis dan validasi yang matang sejak awal, DFSS dapat mengurangi aktivitas trial and error yang biasanya membutuhkan biaya besar. Perusahaan tidak perlu sering melakukan revisi desain yang memakan waktu, tenaga, dan sumber daya. Efisiensi ini juga mengurangi biaya akibat perbaikan, produk terbuang, maupun uji coba berulang.
- Meningkatkan keuntungan
Produk yang dirancang menggunakan DFSS biasanya memiliki kualitas lebih tinggi, memenuhi ekspektasi pelanggan, serta lebih kompetitif di pasar. Kepuasan pelanggan yang meningkat akan mendorong loyalitas, memperbesar pangsa pasar, dan meningkatkan citra perusahaan.
Frequently Asked Questions (FAQs)
- Apa itu IDOV dalam DFSS?
IDOV adalah tahapan dalam DFSS yang terdiri dari Identify, Design, Optimize, dan Validate (serta Incorporate). - Mengapa VOC penting dalam DFSS?
Karena VOC memastikan produk/layanan yang dirancang benar-benar sesuai kebutuhan dan harapan konsumen. - Apa perbedaan utama antara DFSS dan DMAIC?
DFSS digunakan untuk merancang produk/proses baru agar sesuai VOC sejak awal, sedangkan DMAIC dipakai untuk memperbaiki proses yang sudah ada. - Bagaimana GE menerapkan DFSS dalam pengembangan turbin?
GE mengumpulkan VOC dari operator pembangkit, lalu merancang turbin baru dengan material inovatif, simulasi CFD, dan analisis statistik. - Apa manfaat utama DFSS bagi perusahaan?
DFSS mengurangi kesalahan desain, menekan biaya produksi, mempercepat time-to-market, dan meningkatkan daya saing.
Kesimpulan
Design for Six Sigma (DFSS) merupakan pendekatan penting dalam pengembangan produk dan layanan karena menempatkan Voice of Customer (VOC) sebagai inti dari proses desain. Melalui metodologi IDOV (Identify, Design, Optimize, Validate, Incorporate), perusahaan dapat merancang produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan, mengurangi potensi kesalahan sejak awal, serta meningkatkan efisiensi biaya dan waktu.
Referensi
Martin, J. W. (2008). Operational excellence: Using lean Six Sigma to translate customer value through global supply chains. Auerbach Publications.
