Di Indonesia, nama Xiaomi telah menjadi sinonim dengan teknologi canggih yang dapat diakses oleh siapa saja. Kehadiran produknya begitu masif, mulai dari ponsel pintar di genggaman tangan hingga perangkat rumah tangga cerdas yang mengisi setiap sudut hunian modern. Fenomena ini memancing rasa penasaran publik mengenai bagaimana sebuah perusahaan teknologi dapat merilis puluhan variasi produk berbeda setiap tahunnya dengan harga yang kompetitif.

Di balik derasnya arus inovasi produk tersebut, terdapat sebuah pendekatan strategis yang memungkinkan perusahaan berskala raksasa ini tetap lincah dalam bermanuver di pasar yang padat. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka mampu menjaga efisiensi produksi sekaligus melakukan ekspansi gila-gilaan tanpa mengorbankan kualitas yang diterima konsumen?

Sekilas Mengenai Xiaomi

Jawabannya dapat ditelusuri kembali ke akar sejarah perusahaan ini. Didirikan pada tahun 2011, perusahaan teknologi asal Tiongkok ini dengan cepat membangun reputasi dan basis penggemar fanatik hingga dijuluki sebagai “Apple dari China”. Pada masa awalnya, perusahaan ini memulai langkah dengan ide besar untuk memproduksi ponsel pintar yang menyerupai iPhone dan mendistribusikannya melalui saluran daring.

Strategi harga mereka dirancang untuk secara signifikan memotong harga pasar ponsel lain, namun tetap mendapatkan margin positif dari setiap penjualan perangkat. Filosofi awal yang mereka pegang cukup sederhana namun ambisius, yakni menjadi besar terlebih dahulu, baru kemudian menyempurnakan kualitas, sebuah pendekatan yang membawa mereka pada penciptaan berbagai ponsel pintar luar biasa selama bertahun-tahun.

Kini, eksistensi dan perkembangan Xiaomi telah mencapai skala global yang impresif dengan valuasi perusahaan yang diperkirakan mencapai US$ 45 miliar. Ekspansi mereka tidak hanya berhenti pada ponsel, melainkan meluas ke ekosistem Internet of Things (IoT) yang masif. 

Hingga kuartal pertama tahun 2020, Xiaomi tercatat telah membangun platform IoT terbesar di dunia dengan lebih dari 252 juta perangkat pintar terhubung ke platformnya, di luar angka ponsel pintar dan laptop. Di Indonesia sendiri, Country Director Xiaomi Indonesia, Alvin Tse, mengungkapkan bahwa strategi perusahaan berfokus pada peningkatan penjualan ponsel pintar dan perangkat AIoT (Artificial Intelligence & Internet of Things).

Baca juga  From Luxury to Belonging Design Thinking dalam Strategi Four Seasons

Strategi ini terbukti relevan, mengingat data Canalys menunjukkan pertumbuhan pengiriman ponsel pintar Xiaomi sebesar 9 persen menjadi 30 juta unit secara global di kuartal pertama 2020, justru di saat pesaing besar lainnya seperti Samsung, Huawei, dan Apple mengalami penurunan akibat kondisi pasar yang lesu.

Strategi Kunci

Kunci dari kemampuan Xiaomi meluncurkan banyak produk dengan efisien terletak pada penerapan prinsip Lean Thinking. Secara definisi, Lean Thinking adalah pendekatan manajemen yang berakar dari filosofi Toyota Production System yang berfokus pada penghilangan segala bentuk pemborosan atau “muda” dalam proses kerja demi menciptakan nilai nyata bagi pelanggan. 

Prinsip utamanya adalah memastikan setiap langkah dalam proses kerja berkontribusi pada hasil akhir yang diinginkan pelanggan, seperti kualitas produk yang konsisten dengan harga yang tepat. Xiaomi mengadopsi pola pikir ini melalui proses manufaktur yang ramping dan baru, serta keahlian teknologi yang kuat pada masa-masa awalnya. Mereka menghilangkan pemborosan distribusi dengan memanfaatkan ritel berbasis web, yang memungkinkan mereka menekan biaya jauh di bawah pesaing yang mengandalkan toko fisik dan jalur distribusi konvensional.

Selain itu, prinsip Lean juga terlihat dari strategi “Smartphone dan AIoT” yang dijalankan sejak awal 2020, di mana inovasi produk didorong untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat dengan harga terjangkau, memastikan bahwa nilai yang diberikan benar-benar sesuai dengan permintaan aktual pelanggan tanpa pemborosan fitur yang tidak perlu.

Penerapan pola pikir yang efisien ini memberikan keuntungan nyata berupa ketahanan bisnis di tengah turbulensi ekonomi. Ketika pandemi Covid-19 menekan daya beli masyarakat dan menyebabkan pasar ponsel Indonesia turun hingga 7 persen secara tahunan pada awal 2020, Xiaomi justru berhasil menavigasi penjualan dengan hasil memuaskan.

Baca juga  Optimasi Assembly Line: Solusi Lean untuk Efisiensi dan Kelancaran Aliran Produksi

Kenaikan pengiriman barang membuat pangsa pasar ponsel pintar Xiaomi meningkat 11,1 persen secara global. Tidak hanya itu, laporan keuangan kuartal pertama 2020 menunjukkan peningkatan pemasukan dari produk IoT dan gaya hidup sebesar 7,8 persen. Keberhasilan peluncuran produk seperti Redmi 9 dan Poco F2 Pro menjadi bukti bahwa strategi memberikan produk bernilai tinggi dengan harga terjangkau mampu menjaga kredibilitas produk dan kepercayaan konsumen, bahkan di masa sulit.

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)

1. Apa yang dimaksud dengan Lean Thinking dalam konteks manajemen perusahaan? 

Lean Thinking adalah pendekatan manajemen yang bertujuan menghilangkan segala bentuk pemborosan (muda) dalam proses kerja untuk menciptakan nilai (value) yang nyata dan optimal bagi pelanggan, sebuah filosofi yang berakar dari sistem produksi Toyota.

2. Kapan Xiaomi didirikan dan apa julukan yang melekat pada perusahaan tersebut di masa awalnya? 

Xiaomi didirikan pada tahun 2011 sebagai perusahaan teknologi asal Tiongkok dan dengan cepat mendapatkan julukan sebagai “Apple dari China” karena basis penggemarnya yang fanatik dan desain produknya.

3. Apa dua strategi utama yang diterapkan Xiaomi untuk meningkatkan penjualan di Indonesia? Berdasarkan penjelasan Country Director Xiaomi Indonesia, dua strategi utamanya adalah memacu penjualan smartphone dan Artificial Intelligence & Internet of Things (AIoT), serta melakukan inovasi produk dengan harga yang terjangkau.

4. Bagaimana kinerja Xiaomi pada kuartal pertama tahun 2020 dibandingkan dengan pesaingnya seperti Samsung dan Apple? 

Pada kuartal pertama 2020, Xiaomi mencatatkan pertumbuhan pengiriman smartphone sebesar 9% menjadi 30 juta unit, sementara pesaing seperti Samsung, Huawei, dan Apple justru mengalami penurunan jumlah pengiriman.

5. Seberapa besar ekosistem IoT yang telah dibangun oleh Xiaomi saat ini? 

Baca juga  Pertamina Percepat Dekarbonisasi Lewat Inovasi Energi Hijau di Unit Operasi

Xiaomi telah membangun platform IoT terbesar di dunia dengan lebih dari 252 juta perangkat pintar yang terhubung ke platformnya, angka tersebut belum termasuk perangkat smartphone dan laptop.

Penutup

Kemampuan Xiaomi membanjiri pasar dengan puluhan produk per tahun bukan semata-mata karena modal yang besar, melainkan hasil dari strategi efisiensi yang memangkas pemborosan proses dan distribusi. Meskipun sempat menghadapi kritik mengenai hilangnya fokus akibat terlalu cepat ingin membesar dengan merambah ke berbagai produk elektronik lain, data menunjukkan bahwa kombinasi strategi Lean dalam manufaktur dan fokus pada ekosistem AIoT telah menyelamatkan mereka di masa krisis. Ke depan, tantangan Xiaomi adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi pasar dan fokus strategi agar tidak terjebak dalam peluncuran produk inferior, melainkan tetap setia pada prinsip penciptaan nilai optimal bagi pelanggan.

Ingin memahami lebih dalam bagaimana Lean Thinking dapat meningkatkan kecepatan inovasi dan efisiensi perusahaan Anda? SSCX International menyediakan program pelatihan Lean Thinking yang dirancang untuk membantu organisasi menghilangkan pemborosan dan mempercepat penciptaan nilai. Hubungi kami di 0817-576-3021 untuk informasi lebih lanjut.

Referensi

Global Network. (2017). Success without Strategy: The Xiaomi Paradox. Global Network Perspectives. Retrieved from https://globalnetwork.io/perspectives/2017/11/success-without-strategy-xiaomi-paradox

Il Sole 24 Ore. Xiaomi turnover 305 per cent, smartphone year revenue 455 bn RMB. Il Sole 24 Ore. Retrieved from https://en.ilsole24ore.com/art/xiaomi-turnover-305per-cent-smartphone-year-revenue-455-bn-rmb-AHSBWQFC?refresh_ce=1

Katadata.co.id. Dua Strategi Utama Xiaomi Dorong Penjualan di Indonesia. Katadata.co.id. Retrieved from https://katadata.co.id/digital/gadget/5f100e4ac037d/dua-strategi-utama-xiaomi-dorong-penjualan-di-indonesia

Kaur, S., & Kaur, P. (2018). Xiaomi: Success story of a Chinese startup challenging bigwigs of smartphone industry. International Journal of Research in Finance and Management, 1(1), 56-64. Retrieved from https://www.allfinancejournal.com/article/view/236/6-1-54

Shift Indonesia. Lean Thinking: Strategi Eliminasi Pemborosan Demi Efisiensi Maksimal. Shift Indonesia. Retrieved from https://shiftindonesia.com/lean-thinking-strategi-eliminasi-pemborosan-demi-efisiensi-maksimal/