Sebagai ajang tahunan yang mempertemukan praktisi operational excellence terbaik di Indonesia, Opexcon 2025 kembali menjadi sorotan. Kompetisi ini bukan sekadar panggung untuk unjuk kebolehan, melainkan juga wadah penting untuk mendorong peningkatan performa dan daya saing industri nasional. Untuk meraih gelar juara, sebuah proyek tidak bisa asal-asalan. Artikel ini akan mengungkap rahasia di balik meja juri, memberikan panduan langsung dari para ahli tentang bagaimana merancang sebuah proyek yang tidak hanya baik, tetapi juga berpotensi menjadi pemenang.
Kupas Tuntas Strategi Opexcon
Tahun ini, Opexcon kembali menghadirkan beragam kategori yang mewadahi berbagai industri, mulai dari manufaktur hingga jasa. Proses seleksi dimulai dengan pengumpulan proyek, dilanjutkan dengan tahap penjurian yang ketat. Para juri, yang merupakan praktisi berpengalaman dari berbagai latar belakang, menilai setiap proyek berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Salah satu juri menyebutkan bahwa penjurian terbagi menjadi dua sesi: presentasi selama 30 menit dan sesi tanya jawab selama 15 menit. “Untuk masa penjurian, tentu berbanding lurus dengan jumlah peserta. Makin banyak peserta, tentu waktu yang diperlukan oleh juri untuk menyelesaikan setiap peserta akan lebih lama,” jelas Sigit Iman Santoso sebagai salah satu juri. Penilaiannya tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada metodologi, ketepatan analisis, dan solusi yang ditawarkan.
Agar proyek Anda menonjol, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sejak awal. Pertama, pastikan proyek yang Anda ajukan benar-benar berangkat dari masalah yang nyata, bukan sekadar solusi yang mencari-cari masalah. Juri sangat menghargai proyek yang menunjukkan proses sistematis dalam mengidentifikasi akar masalah. “Ketika peserta mempresentasikan project improvement, diharapkan bahwa alurnya, prosesnya, dan metodologinya itu sistematis sehingga saya sebagai juri di awal sudah tahu bahwa solusinya kira-kira akan berhasil atau tidak. Dengan membawakan presentasi secara sistematis, hal tersebut lebih berkesan bagi saya dan saya bisa melihat benang-benang merahnya. Itu akan memudahkan juri untuk menilai dan penonton untuk memperoleh insight untuk menduplikasi,” ujar Meilan Agustin sebagai salah satu juri.
Kedua, perhatikan kolaborasi tim. Menurut Meilan, ada dua jenis proyek yang berhasil. Proyek yang berfokus pada pembentukan budaya kolaborasi di antara karyawan, yang mana nilai keuntungan bukanlah satu-satunya faktor penentu. Dan yang kedua, proyek dari perusahaan yang sudah matang dalam hal improvement yang mana fokus utamanya adalah dampak atau keuntungan yang dihasilkan.
Di sisi lain, ada beberapa kesalahan fatal yang sering dilakukan peserta dan harus dihindari. Salah satu yang paling sering terjadi adalah pemilihan topik yang tidak sejalan dengan masalah yang ada atau penggunaan tools yang tidak relevan. Kesalahan fatal lainnya adalah ketika peserta hanya berfokus pada seberapa besar keuntungan finansial yang dihasilkan, dan mengabaikan aspek metodologi dan akar permasalahan. “Banyak yang terjebak ketika mereka ikut Opexcon, mereka hanya fokus pada saving sekian juta dolar, misalnya, atau saving sekian ribu dolar. Padahal, di dalam Opexcon ini kita ada berapa parameter penilaian. Ada metodologinya, menentukan akar masalah, memilih solusi dan bagaimana dampak terhadap projek ini terhadap perusahaan. Kesalahan para peserta adalah menganggap dengan saving angka yang besar itu bahwa proyek mereka akan menang,” terangnya.
Para juri juga mengungkapkan bahwa ada pola yang membedakan proyek pemenang dengan proyek yang tidak menonjol. Proyek yang unggul memiliki alur yang jelas: dimulai dari identifikasi masalah yang real, dilanjutkan dengan analisis akar masalah yang mendalam, dan diakhiri dengan solusi yang relevan. Pola ini memudahkan juri untuk memahami alur berpikir peserta dan menilai apakah solusi yang ditawarkan memiliki potensi keberhasilan atau tidak. Sebaliknya, proyek yang terlihat “dipaksakan” atau memiliki solusi yang tidak sejalan dengan akar masalah akan sangat mudah terlihat oleh juri dan dianggap sebagai proyek yang kurang matang.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apa kriteria utama penilaian proyek di Opexcon?
Kriteria utama meliputi metodologi yang sistematis, ketepatan identifikasi akar masalah, relevansi solusi yang ditawarkan, dan dampak proyek bagi perusahaan.
2. Apakah keuntungan finansial proyek menjadi satu-satunya penentu kemenangan?
Tidak, meskipun keuntungan finansial penting, juri juga menilai seberapa besar dampak proyek terhadap budaya kerja, kolaborasi karyawan, dan peningkatan proses secara keseluruhan.
3. Apa kesalahan paling umum yang harus dihindari oleh peserta?
Peserta harus menghindari pemilihan topik yang tidak relevan, penggunaan tools yang tidak cocok, dan berfokus hanya pada hasil akhir tanpa menunjukkan proses dan metodologi yang sistematis.
4. Apakah Opexcon bermanfaat bagi semua industri?
Ya, Opexcon menjadi wadah benchmarking dan pertukaran pengetahuan antar industri, memungkinkan praktisi dari sektor yang berbeda, seperti rumah sakit dan pertambangan, untuk saling belajar dan mendapatkan wawasan baru.
5. Bagaimana Opexcon berkontribusi pada daya saing nasional?
Dengan mendorong perusahaan untuk terus melakukan improvement, Opexcon membantu mereka menajamkan kemampuan dan meningkatkan efisiensi, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada daya saing industri Indonesia di kancah global.
Dengan berpartisipasi dalam Opexcon, para praktisi tidak hanya menguji kemampuan mereka, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan industri nasional. Dari ruang juri, terlihat jelas bahwa proyek yang berhasil adalah proyek yang dibangun di atas fondasi yang kokoh: masalah yang nyata, analisis yang mendalam, dan solusi yang sistematis.
