Nokia merupakan sebuah nama yang melegenda di dunia teknologi dan telah mengalami perjalanan yang penuh gejolak. Dari sebuah perusahaan kertas kecil di Finlandia pada tahun 1865, Nokia bertransformasi menjadi raksasa telekomunikasi yang mendominasi pasar ponsel global. Mereknya pernah dijuluki “HP sejuta umat,” dan posisinya sebagai produsen ponsel terbesar di dunia seakan tak terkalahkan. Namun, di balik kejayaan yang gemilang, terdapat kisah kompleks tentang kejatuhan yang mengejutkan, serta upaya bangkit yang kini mulai terlihat nyata.
Lahir dan Jatuhnya si Raja Ponsel
Awalnya, Nokia memulai bisnisnya dari industri kertas, karet, dan kabel. Baru pada tahun 1900-an, perusahaan ini merambah ke berbagai bidang seperti televisi, elektronik, generator, dan robotik. Titik balik besar terjadi pada tahun 1991, ketika Nokia membuat keputusan strategis untuk melepaskan seluruh sektor bisnis yang tidak berkaitan dengan telekomunikasi dan ponsel, sepenuhnya fokus pada revolusi digital.
Keputusan manajemen yang visioner dan berani inilah yang memungkinkan Nokia menguasai pangsa pasar ponsel global hingga lebih dari 40% dalam waktu kurang dari satu dekade. Melalui sistem dan proses yang sangat disiplin, Nokia mampu meningkatkan produksi dan penjualan jauh lebih cepat daripada pesaingnya. Puncaknya pada tahun 2006, Nokia meluncurkan ponsel pintar pertama mereka, N95, yang semakin mengukuhkan dominasinya di pasar.
Namun, keperkasaan ini mulai memudar seiring dengan pergeseran pasar yang cepat dan masuknya pesaing tangguh seperti Apple dengan iPhone pada tahun 2007. Penurunan Nokia bukan semata-mata karena persaingan eksternal, melainkan keruntuhan yang dimulai dari dalam. Studi ilmiah menyebutkan tiga faktor internal utama, yakni kualitas teknologi yang kalah dari Apple, arogansi jajaran manajer, dan lemahnya visi perusahaan.
Budaya kerja yang mencekam menciptakan suatu situasi yang mana manajer level menengah takut melaporkan masalah sebenarnya karena ancaman pemecatan, serta ketakutan para eksekutif untuk mengakui mutu sistem operasi Symbian yang kalah saing. Para petinggi juga mengalami fenomena yang disebut sebagai miopia temporal, yakni membuat kesalahan dengan berfokus pada target jangka pendek dan mengabaikan inovasi jangka panjang. Akibatnya, pada 2013, Nokia menjual divisi ponselnya ke Microsoft. Mantan CEO Nokia, Stephen Elop, menggambarkan penjualan tersebut dengan kalimat yang memilukan, “Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi entah mengapa kami kalah.”
Namun, kisah Nokia tidak berakhir di sana. Nama besar Nokia kembali muncul setelah HMD Global, sebuah perusahaan asal Tiongkok, membeli lisensi merek tersebut pada tahun 2016. HMD Global mencoba menghidupkan kembali nama Nokia di pasar ponsel, bahkan dengan meluncurkan kembali ponsel-ponsel klasik seperti Nokia 3310. Namun, popularitasnya tidak bertahan lama. Kini, Human Global Devices (HMD) Global telah memutuskan untuk memproduksi ponsel dengan mereknya sendiri, yang secara tidak langsung menandai berakhirnya era Nokia di industri smartphone di bawah naungan HMD.
Kelahiran Kembali
Meski demikian, Nokia yang sesungguhnya kini sedang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, namun bukan di industri smartphone. Perusahaan ini fokus menggarap bisnis teknologi lain yang lebih futuristik, seperti jaringan optik, semikonduktor, data center, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah strategis terbarunya adalah mengakuisisi Infinera, produsen alat jaringan dan semikonduktor optik asal Amerika Serikat (AS), dengan nilai US$ 2,3 miliar.
Akuisisi ini diperkirakan akan menjadikan Nokia produsen jaringan optik terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari Huawei. Langkah ini memungkinkan Nokia menjual lebih banyak alat kepada perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft yang kini sedang gencar berinvestasi dalam pengembangan AI.
Sementara itu, di tengah perkembangan ini, beredar kabar bahwa Nokia sedang mempertimbangkan melisensikan kembali mereknya ke produsen ponsel baru setelah kerja samanya dengan HMD Global berakhir. Kabar ini disampaikan di forum daring, meski belum menjadi pernyataan resmi, telah memicu spekulasi dan respons beragam dari masyarakat dan pengamat teknologi tentang kemungkinan kembalinya Nokia ke pasar smartphone.
FAQ (Pertanyaan Umum)
- Apa penyebab utama kejatuhan Nokia?
Kejatuhan Nokia disebabkan oleh kombinasi faktor internal yang kompleks, seperti budaya kerja yang mencekam, arogansi manajer, ketakutan untuk berinovasi, dan kegagalan dalam beradaptasi dengan persaingan berbasis platform.
- Berapa pangsa pasar global yang pernah dikuasai Nokia pada masa kejayaannya? Pada masa puncaknya, Nokia berhasil menguasai lebih dari 40% pangsa pasar ponsel global.
- Siapa yang mengambil alih merek Nokia setelah penjualan ke Microsoft?
Setelah Microsoft mengakuisisi divisi ponselnya pada 2014, lisensi merek Nokia untuk ponsel kemudian dibeli oleh HMD Global pada tahun 2016.
- Apa fokus bisnis Nokia saat ini setelah kembali?
Saat ini, Nokia tidak lagi fokus pada industri smartphone. Perusahaan ini merambah ke industri jaringan optik, semikonduktor, data center, dan kecerdasan buatan (AI).
- Apa itu miopia temporal yang disebut sebagai salah satu faktor kegagalan Nokia?
Miopia temporal adalah ketidakmampuan perusahaan untuk mempertimbangkan hasil jangka panjang saat membuat keputusan, yang membuat Nokia terlalu fokus pada target jangka pendek dan mengabaikan inovasi yang penting untuk masa depan.
Kisah Nokia adalah sebuah studi kasus yang menunjukkan bagaimana kesuksesan yang terlalu dini dapat menjadi bumerang. Dari yang semula lincah dan berani berinovasi, Nokia berubah menjadi konservatif dan arogan, yang pada akhirnya membuatnya terjungkal. Namun, dengan langkah-langkah strategisnya saat ini yang menjauhi industri smartphone dan fokus pada teknologi masa depan seperti AI dan jaringan optik, Nokia menunjukkan bahwa semangat kebangkitan itu tetap ada. Terlepas dari keputusan untuk kembali ke pasar smartphone atau tidak, satu hal yang pasti: Nokia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu, dan pelajaran dari jatuh bangunnya adalah pengingat penting bagi setiap perusahaan yang ingin terus bertahan di era teknologi yang terus berubah.
