Jejak eksistensi Bluebird di industri transportasi Indonesia seolah tak pernah redup. Baru-baru ini, perusahaan yang armadanya begitu mudah ditemui di jalanan kota ini, menjadi sorotan publik. Kabar tersebut muncul menyusul adanya gugatan fantastis senilai Rp 11 triliun dari seorang ahli waris dan pemegang saham perusahaan, Elliana Wibowo. Di balik persoalan tersebut, kisah perjalanan perusahaan taksi berlogo burung biru ini sungguh menarik untuk diulas. Sebagai salah satu pemain besar di industri transportasi, Bluebird Group Holding bukan lagi perusahaan muda.
Kilas Balik Perjalanan Bluebird
Cikal bakal Bluebird lahir dari sebuah rumah di Jalan Cokroaminoto, Jakarta, pada tahun 1965. Namun, bisnis taksi Bluebird sendiri baru resmi beroperasi pada 1972. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, seorang pakar hukum didikan era kolonial dan pendiri sekolah hukum kepolisian dan militer di Indonesia, adalah sosok di balik berdirinya perusahaan ini. Ia memulainya setelah suaminya, Djokosoetono, meninggal pada usia 62 tahun. Untuk membiayai pendidikan ketiga anaknya, Mutiara memanfaatkan dua mobil sedan hadiah dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Akademi Hukum Militer (AHM) untuk dijadikan taksi. Awalnya, bisnis ini dijalankan secara kekeluargaan di kediamannya, di mana kedua putranya, Chandra dan Purnomo Djokosoetono, bertugas sebagai sopir, sementara anggota keluarga lain menjadi operator telepon untuk menerima pesanan. Sistem pemesanan melalui telepon ini kemudian menjadi tren di kalangan masyarakat kala itu.
Bluebird sukses mengembangkan bisnisnya dengan strategi yang berfokus pada pelayanan, keamanan, dan kenyamanan. Mereka menjadi pelopor dalam penggunaan argometer, yang menjadi dasar pertimbangan Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono saat mendirikan perusahaan ini. Di tengah persaingan ketat, Bluebird konsisten dengan kualitas layanan, menjaga kebersihan dan kenyamanan armadanya yang luas, serta melakukan pemeriksaan latar belakang ketat untuk para pengemudinya. Selain itu, mereka juga menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak, termasuk penyedia aplikasi pembayaran digital dan perusahaan logistik, untuk memperluas jangkauan layanan dan menambah nilai bagi pelanggan. Budaya kekeluargaan yang diterapkan sejak awal juga dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka bertahan hingga saat ini.
Selama perjalanannya, Bluebird meraih beberapa pencapaian penting. Pada awal kehadirannya tahun 1972, Bluebird mengoperasikan 25 armada Holden Torana di Jakarta dan menjadi taksi pertama yang menggunakan sistem tarif berdasarkan argometer serta dilengkapi sistem radio terpusat. Pertumbuhan signifikan lainnya terjadi pada tahun 1979 dengan hadirnya bus Big Bird untuk antar jemput sekolah. Pada tahun 1981, armada mereka beralih ke Holden Torana generasi 80-an yang dilengkapi AC untuk menambah kenyamanan. Tahun 1993, Bluebird meresmikan layanan taksi eksekutif Silver Bird. Perusahaan ini juga turut serta dalam acara kenegaraan seperti KTT Non Blok 1992. Akhirnya, pada tahun 2014, Bluebird resmi menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BIRD.
Tantangan yang Dihadapi
Kehadiran layanan transportasi daring sejak 2014, seperti Grab dan Gojek, menjadi tantangan besar bagi Bluebird. Keberadaan transportasi daring yang menawarkan tarif lebih murah dan kemudahan akses membuat masyarakat beralih. Terlebih lagi, pandemi COVID-19 yang sempat membatasi mobilitas masyarakat turut memberikan pukulan berat bagi industri transportasi konvensional, termasuk Bluebird. Namun, perusahaan ini mampu bertahan bahkan mencatatkan kenaikan laba hingga 161% pada kuartal pertama. Hal ini tak lepas dari fokus mereka pada pelayanan serta digitalisasi.
Untuk tetap relevan di tengah disrupsi, Bluebird melakukan berbagai inovasi dan transformasi. Mereka meningkatkan infrastruktur teknologi dengan meluncurkan aplikasi My Bluebird yang dilengkapi fitur pelacakan dan estimasi harga, serta menjalin kemitraan dengan Gojek dan Traveloka untuk memperluas kanal pemesanan. Inovasi lainnya adalah diversifikasi layanan, mulai dari taksi premium Bluebird Platinum, layanan antar-jemput bandara, hingga layanan kurir. Bluebird juga menunjukkan komitmen pada keberlanjutan dengan menghadirkan mobil listrik Silverbird Tesla sebagai armada terbaru dan meluncurkan layanan taksi khusus difabel pertama di Indonesia bernama Lifecare Vehicle Taksi. Seluruh inovasi dan transformasi ini diletakkan di bawah sistem Mobility-as-a-Service (MaaS) dengan tiga pilar inti: Multi-Channel, Multi-Payment, dan Multi-Product, yang bertujuan menciptakan ekosistem layanan transportasi terintegrasi.
FAQ (Pertanyaan Umum)
- Siapa pendiri Bluebird?
Bluebird didirikan oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono.
- Kapan Bluebird resmi beroperasi?
Bisnis taksi Bluebird pertama kali resmi berjalan pada tahun 1972.
- Apa inovasi utama yang dilakukan Bluebird di awal kehadirannya?
Bluebird merupakan taksi pertama di Indonesia yang menggunakan argometer dan dilengkapi dengan sistem radio terpusat.
- Apa saja jenis layanan yang ditawarkan oleh Bluebird Group selain taksi reguler?
Bluebird Group juga menawarkan taksi eksekutif (Silver Bird), sewa mobil (Golden Bird), bus charter (Big Bird), dan layanan logistik (Iron Bird Logistic).
- Bagaimana Bluebird bertahan menghadapi persaingan dari taksi daring?
Bluebird melakukan inovasi dengan meluncurkan aplikasi My Bluebird, menjalin kemitraan dengan Gojek, serta menghadirkan berbagai diversifikasi layanan.
Kesimpulan
Dengan sejarah panjang dan beragam inovasi yang dilakukan, Bluebird membuktikan bahwa mereka bukan sekadar perusahaan taksi, melainkan pemain kunci yang mampu beradaptasi dan terus berkembang di tengah perubahan zaman. Sejak berdiri di tahun 1972, Bluebird tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga ekosistem layanan transportasi yang andal, aman, dan nyaman, yang menjadikannya salah satu ikon transportasi di Indonesia.
Referensi
- Arwani, A., Permana, R., Wijaya, I. S., & Shiddiq, M. Z. A. (2022). Analisis Strategi Dan Inovasi Bluebird Dalam Menghadapi Era Taksi Online. Masarin, 1(2), 78-88.
- Bluebird Group. (t.t.). History. Diakses dari https://www.bluebirdgroup.com/about/history?lang=id.
- Detik.com. (2022, Agustus 20). Sejarah Blue Bird: Dari Taksi Gelap hingga Raja Jalanan. Finance Detik. Diakses dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6245519/sejarah-blue-bird-dari-taksi-gelap-hingga-raja-jalanan.
- Tempo.co. (2018, Oktober 26). Taksi Konvensional dari Masa ke Masa: President Taxi hingga Silver Bird. Tempo.co. Diakses dari https://www.tempo.co/ekonomi/taksi-konvensional-dari-masa-ke-masa-president-taxi-hingga-silver-bird-451814.
- Tirto.id. (t.t.). Sejarah Pendirian Bluebird oleh Keluarga Suami Nikita Willy. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-pendirian-bluebird-oleh-keluarga-suami-nikita-willy-gKkE.
