Di kota-kota besar Indonesia, keberadaan gerai jajan modern atau yang dikenal sebagai convenience store kini semakin menjamur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat urban. Berbagai nama besar seperti Indomaret Point, Lawson, Alfa X, K3Mart, Bright, hingga Circle K berlomba-lomba menawarkan ragam jajanan, kopi kekinian, hingga hidangan beku, bahkan dengan operasional 24 jam yang nyaman untuk tempat nongkrong.

Di tengah ketatnya persaingan ritel modern tersebut, salah satu jenama yang paling menonjol dan populer belakangan ini adalah FamilyMart. Ritel asal Jepang ini terlihat semakin ekspansif dengan mengubah banyak ruko kosong menjadi gerai baru di kawasan Jakarta, Bali, Malang, hingga Surabaya, menandakan besarnya potensi bisnis di segmen ini.

Sejarah FamilyMart

Jejak sejarah FamilyMart bermula dari Jepang pada periode 1970-an, di mana keberadaan supermarket sedang berkembang pesat. Ritel ini awalnya berakar dari Seiyu Stores, Ltd., yang pada tahun 1973 mulai mengembangkan toko ritel berbasis komunitas dan membuka toko pertamanya di Sayama, Saitama. Nama “FamilyMart” dipilih dengan filosofi untuk membangun hubungan kekeluargaan yang erat antara pelanggan, pewaralaba, dan kantor pusat.

Secara resmi, FamilyMart diperkenalkan sebagai convenience store pada tanggal 18 Agustus 1988. Sebelumnya, jaringan ini juga memiliki kaitan sejarah dengan perusahaan convenience store UNY yang didirikan pada tahun 1971. Meskipun awalnya dimiliki oleh Seiyu, saham FamilyMart kemudian dibeli oleh Itochu Group pada Februari 1998, yang menjadikan Itochu sebagai pemegang saham terbesar secara global hingga saat ini.

Ekspansinya

Setelah sukses di negeri asalnya dengan menjadi jaringan toko serba ada pertama yang buka 24 jam, FamilyMart mulai melebarkan sayapnya ke kancah global. Toko pertama di luar Jepang dibuka di Taipei, Taiwan, pada tahun 1988, dan kini jaringan ini telah merambah negara-negara seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, hingga Amerika Serikat.

Di Indonesia, FamilyMart hadir pertama kali pada Oktober 2012 dengan membuka gerai perdana di Cibubur, disusul gerai-gerai lain di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Pemegang lisensi tunggal FamilyMart di Indonesia adalah PT Fajar Mitra Indah, yang merupakan anak usaha dari Wings Group milik konglomerat Eddy William Katuari.

Baca juga  Rahasia Bisnis Bob Sadino: Learning by Doing, Bukan Sekadar Teori

Perkembangan FamilyMart di tanah air tergolong pesat dan sukses bertahan di saat pesaing asing lainnya tumbang; terbukti dari jumlah gerai yang tercatat mencapai lebih dari 250 pada April 2023, bahkan sumber lain menyebutkan angka gerai telah menyentuh 450. Ekspansi terbaru pada September 2023 menyasar Surabaya dengan pembukaan 5 cabang serentak, menargetkan total 50 toko di kota tersebut pada akhir 2024.

Strategi Panjualan

FamilyMart menawarkan konsep yang sedikit berbeda dibandingkan minimarket konvensional lokal. Selain menjual kebutuhan pokok harian seperti majalah, minuman, dan bahan pokok, FamilyMart sangat menonjolkan produk makanan siap saji dan minuman olahan. Mereka menyediakan ragam jajanan seperti fried chicken, kopi kekinian, hingga hidangan beku yang menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang impulsif.

Perbedaan mencolok lainnya terletak pada kemampuan mereka memadukan nuansa Jepang dengan selera lokal. Meskipun membawa identitas Jepang yang kuat, FamilyMart juga menjajakan produk lokal seperti ubi rebus dan merangkul produk usaha mikro, kecil, dan menengah. Hal ini berbeda dengan ritel lokal seperti Indomaret dan Alfamart yang lebih fokus pada penyediaan kebutuhan pokok rumah tangga, pembayaran tagihan listrik, pulsa, hingga layanan travel umrah.

FamilyMart bersaing dengan perusahaan sejenis tidak lepas dari strategi bisnis yang cerdas, salah satunya adalah penerapan “diplomasi jalur tiga” atau pertukaran budaya. FamilyMart membidik ceruk pasar spesifik yakni penggemar budaya pop Jepang seperti anime dan manga, yang menghasilkan basis pelanggan setia. Contoh nyata strategi ini adalah kolaborasi business to business (B2B) dengan Sony Pictures untuk mempromosikan animasi Demon Slayer, termasuk memutar audio resminya di gerai.

Selain itu, mereka menerapkan konsep “glokalisasi”, yaitu penyesuaian produk global dengan selera lokal tanpa meninggalkan identitas aslinya. Strategi ini membuat FamilyMart memiliki karakter unik dan relevan, berbeda dengan 7-Eleven yang dahulu gagal karena kehilangan identitas khas negara asalnya dan kalah bersaing dengan warung lokal. FamilyMart memposisikan diri tidak hanya sebagai tempat belanja, tetapi juga agen pertukaran budaya dan gaya hidup.

Baca juga  Di Balik Keberhasilan MRT Jakarta: Pembelajaran Project Management Proyek Infrastruktur

Tantangan

Perjalanan bisnis FamilyMart tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Pada periode 2023-2024, perusahaan sempat menghadapi tantangan berupa seruan boikot akibat afiliasi induk usahanya, Itochu Corp, dengan perusahaan senjata Israel, Elbit Systems Ltd. Menanggapi isu sensitif ini dan sebagai bentuk dukungan terhadap putusan International Court of Justice (ICJ) yang memerintahkan pencegahan genosida terhadap warga Palestina, Itochu Corp mengambil langkah tegas.

Direktur Keuangan Itochu, Tsuyoshi Hachimura, mengumumkan rencana pemutusan kontrak kerja sama dan penangguhan nota kesepahaman (MOU) dengan Elbit Systems pada Februari 2024. Langkah cepat ini diambil untuk menjaga reputasi dan keberlanjutan bisnis di tengah tekanan global. Selain itu, FamilyMart juga belajar dari kegagalan 7-Eleven di Indonesia yang terbentur masalah regulasi alkohol dan model bisnis yang mudah ditiru, dengan cara terus beradaptasi dan mematuhi norma serta aturan setempat.

Hingga saat ini, FamilyMart telah menorehkan berbagai prestasi gemilang. Di negara asalnya, FamilyMart telah diakui atas komitmennya terhadap keberlanjutan dan layanan pelanggan, terbukti dengan diraihnya penghargaan sebagai Toko Serba Ada Terbaik di Jepang pada tahun 2020, Penghargaan Keunggulan Layanan Pelanggan tahun 2019, dan Jaringan Toko Serba Ada Terbaik pada tahun 2018. Secara global, jaringan ini telah mengoperasikan lebih dari 20.000 toko. Di Indonesia sendiri, keberhasilan FamilyMart mempertahankan ratusan gerai dan terus melakukan ekspansi eksplosif ke berbagai daerah seperti Surabaya membuktikan bahwa model bisnis mereka sehat dan diterima dengan baik oleh pasar, berbeda nasib dengan ritel asing pendahulu yang harus gulung tikar.

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)

  1. Siapakah pemilik lisensi FamilyMart di Indonesia? 

Pemilik lisensi tunggal FamilyMart di Indonesia adalah PT Fajar Mitra Indah, yang merupakan anak perusahaan dari Wings Group milik Eddy William Katuari.

  1. Kapan FamilyMart pertama kali membuka gerainya di Indonesia? 

FamilyMart pertama kali hadir di Indonesia pada bulan Oktober 2012, dengan gerai pertamanya berlokasi di Cibubur.

  1. Apa perbedaan strategi FamilyMart dengan 7-Eleven yang membuat FamilyMart bertahan? 
Baca juga  Dari Observasi Lapangan ke Inovasi Platform: Design Thinking di Airbnb

Berbeda dengan 7-Eleven yang gagal menghadirkan warna khas negara asalnya dan terbentur regulasi alkohol, FamilyMart sukses melakukan “glokalisasi” dengan mempertahankan identitas budaya pop Jepang namun tetap adaptif menyediakan menu lokal seperti ubi rebus, serta fokus pada segmen gaya hidup yang unik.

  1. Mengapa induk perusahaan FamilyMart sempat memutus kerja sama dengan perusahaan Israel?

Itochu Corp memutus kerja sama dengan Elbit Systems Ltd sebagai respons terhadap perintah International Court of Justice (ICJ) untuk mencegah genosida di Palestina dan untuk menghindari dampak seruan boikot global.

  1. Berapa jumlah gerai FamilyMart di Indonesia saat ini? 

Berdasarkan data hingga April 2023, tercatat ada lebih dari 250 gerai, namun sumber lain menyebutkan angka ekspansi telah mencapai 450 gerai yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Surabaya, Malang, dan Bali.

FamilyMart telah membuktikan diri sebagai pemain ritel asing yang tangguh di pasar Indonesia. Melalui kombinasi strategi adaptasi budaya yang cerdas, dukungan manajemen yang kuat dari Itochu Group dan Wings Group, serta kepekaan terhadap isu global maupun selera lokal, FamilyMart berhasil menghindari kegagalan yang pernah dialami kompetitor asing lainnya. Kehadirannya tidak hanya menambah variasi tempat belanja, tetapi juga memperkaya lanskap ritel modern di Indonesia dengan nuansa budaya Jepang yang kental, namun tetap akrab di lidah masyarakat lokal.

Referensi

Du, W. (2021, December). Analysis of FamilyMart Convenience Store. Dalam 2021 3rd International Conference on Economic Management and Cultural Industry (ICEMCI 2021) (hlm. 1583-1590). Atlantis Press.

Inilah.com. Mengenal Pemilik FamilyMart dan Sejarahnya. Inilah.com. Diakses dari https://www.inilah.com/mengenal-pemilik-familymart-dan-sejarahnya

Putra, M. A. M., Farel, M., & Arafah, W. (2024). Analisis Positioning Merek Toko Ritel. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(3), 8027-8036.

Tempo.co. Familymart Buka 5 Gerai Serentak di Surabaya, Berikut Sepak Terjang Bisnis Retail Asal Jepang Ini. Tempo.co. Diakses dari https://www.tempo.co/ekonomi/familymart-buka-5-gerai-serentak-di-surabaya-berikut-sepak-terjang-bisnis-retail-asal-jepang-ini-140187

The Conversation. Sangat ekspansif, akankah Family Mart senasib dengan 7-Eleven di Indonesia? The Conversation. Diakses dari https://theconversation.com/sangat-ekspansif-akankah-family-mart-senasib-dengan-7-eleven-di-indonesia-265259