Sepanjang tahun 2025 ini, terlihat pergeseran pola konsumsi masyarakat dari BBM Subsidi ke Non-Subsidi. Bisa dilihat dari panjangnya antrian di SPBU swasta seperti Shell, BP-AKR dan Vivo yang menyebabkan stok BBM swasta menipis. Sedangkan kondisi di SPBU Pertamina cenderung aman meski subsidi dibatasi. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan masyarakat, kendala apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini soal pasokan yang menipis saja atau ada masalah regulasi?
Penyebab Peralihan Konsumen ke SPBU Swasta
Kebijakan QR Code di SPBU Pertamina untuk membeli BBM subsidi menjadi salah satu penyebab banyak konsumen yang beralih ke SPBU swasta. Mereka yang tidak memenuhi kriteria penerima BBM subsidi memilih untuk beralih ke SPBU swasta dengan kualitas lebih baik meski tanpa subsidi. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peralihan konsumsi BBM ini bahkan mencapai angka 1,4 juta kiloliter.
“Shifting ke BBM non-subsidi ini cukup besar, sekitar 1,4 juta KL. Itu yang menyebabkan adanya peningkatan permintaan di SPBU swasta,” ujar Yuliot, Wakil Menteri ESDM dikutip dari SINDOnews.com.
Sehingga stok BBM di SPBU swasta cepat habis akibat antrian peralihan itu. Di SPBU Shell sendiri, stok BBM jenis Shell Super, Shell V-Power, Shell V-Power Nitro+, BP Ultimate (RON 95), dan BP 92 mengalami kelangkaan.
Faktor Kelangkaan BBM Non-Subsidi
Kementerian ESDM menetapkan bahwa izin impor BBM bagi SPBU swasta pada 2025 hanya berlaku enam bulan. Selain itu, evaluasi pun akan dilakukan secara rutin setiap tiga bulan. Aturan ini menggantikan periode izin tahunan yang sebelumnya lebih panjang dengan tujuan memperkuat fleksibilitas pengawasan pasokan energi.
Penerapan izin yang lebih singkat dinilai menambah beban administratif dan memperlambat distribusi BBM. SPBU swasta juga kesulitan menyesuaikan rantai pasokan karena waktu perizinan tidak sejalan dengan kebutuhan logistik impor. Keterlambatan distribusi bisa mengganggu ketersediaan BBM di tingkat konsumen, menekan margin keuntungan SPBU swasta, hingga berpotensi memicu ketidakstabilan harga di pasar.
Upaya Pemerintah
Namun, pemerintah telah berupaya untuk menambah kuota impor BBM di SPBU swasta sebanyak 10%. “SPBU swasta sudah diberikan tambahan alokasi sebesar 10% terhadap alokasi tahun 2024. Jadi 110% lah begitu [untuk 2025]. Nah, bagaimana kekurangan itu akan kami sinkronisasikan dengan Pertamina,” jelas Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman dilansir dari Bisnis.com.
Laode juga telah menjadwalkan pemanggilan operator SPBU swasta guna membahas pola pengadaan BBM. Agenda ini mencakup rencana sinkronisasi impor antara Pertamina dan SPBU swasta agar pasokan lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada impor. Pemerintah berusaha memperkuat koordinasi distribusi, mempercepat mekanisme perizinan, serta memastikan stok cadangan tetap aman guna mengantisipasi potensi keterlambatan pasokan. Pemerintah juga diharapkan dapat terus merilis data transparansi konsumsi BBM guna memperkuat perencanaan pasokan dan kepastian usaha.
Referensi:
Fauzi, Achmad. (2025, September 3). ESDM Beberkan Alasan Masyarakat Sekarang Antre di SPBU Swasta. Suara.com. https://www.suara.com/bisnis/2025/09/03/181119/esdm-beberkan-alasan-masyarakat-sekarang-antre-di-spbu-swasta
Hidayatullah, M. Riyan. (2025, September 4). BBM SPBU Shell dkk Banyak Diburu hingga Stok Langka, Ini Sebabnya. Bisnis.com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20250904/44/1908421/bbm-spbu-shell-dkk-banyak-diburu-hingga-stok-langka-ini-sebabnya.
Hidayatullah, M. Riyan. (2025, September 4). Mengurai Penyebab Kelangkaan BBM di SPBU Swasta: Permintaan Naik atau Masalah Izin?. Bisnis.com
Purnama, Iqbal Dwi. (2025, September 3). Warga RI Ramai-ramai Pindah ke BBM Non Subsidi, 1,4 Juta KL Ludes dalam Sekejap. SINDOnews.com.
