Dunia tengah menghadapi krisis kakao yang menggemparkan industri cokelat global. Harga biji kakao melonjak tajam ke level tertinggi sepanjang sejarah akibat turunnya produksi di negara penghasil utama seperti Pantai Gading dan Ghana. Dilansir dari FoodNavigator, harga kakao global naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dikarenakan faktor gagal panen dan cuaca ekstrem.
Dampak krisis ini juga terasa di Indonesia. Sebagai salah satu produsen kakao terbesar di Asia, Indonesia kini menghadapi tekanan dari menurunnya produksi dalam negeri dan meningkatnya ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Alasan Krisis Kakao yang Terjadi Belakangan Ini
Krisis kakao global dipicu oleh berbagai faktor yang saling terkait. Dilansir dari Food Chain Magazine, salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem di kawasan Afrika Barat. Musim kering yang berkepanjangan dan curah hujan tak menentu menghambat pertumbuhan tanaman.
Selain itu, penyakit Cacao Swollen Shoot Virus (CSSV) menyerang jutaan pohon kakao di Ghana dan Pantai Gading, hingga menurunkan produktivitas secara signifikan. Di sisi lain, banyak pohon kakao sudah menua dan belum diganti dengan tanaman baru. FoodNavigator juga mencatat bahwa rantai pasok global terganggu akibat tingginya biaya distribusi dan rendahnya investasi di tingkat petani, sementara permintaan cokelat dunia terus meningkat.
Kondisi di Indonesia dan Industri Kakao
Krisis global memperburuk kondisi industri kakao di Indonesia. Dilansir dari Kompas Agrikultur, produksi kakao nasional menurun akibat serangan hama, usia tanaman tua, dan minimnya regenerasi kebun. Sentra produksi utama di Sulawesi mengalami penurunan hasil panen yang signifikan.
Ironisnya, industri pengolahan kakao di dalam negeri justru tumbuh. Namun, karena pasokan lokal tidak mencukupi, banyak pabrik harus mengimpor biji kakao. Majalah Hortus menyebutkan, pemerintah kini tengah berfokus pada program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan produk olahan seperti bubuk dan lemak kakao.
Selain itu, demi menghadapi situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Dewan Kakao Nasional meluncurkan beberapa langkah strategis. Dikutip dari Media Perkebunan, program itu menyangkut revitalisasi perkebunan kakao yang dijalankan melalui peremajaan tanaman, pemberian benih unggul, serta pelatihan petani.
Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi untuk mendorong industri pengolahan dalam negeri dan mengurangi ekspor biji mentah. Langkah ini kemudian diiringi dengan pembukaan pasar ekspor baru bagi produk olahan kakao Indonesia agar tetap kompetitif di tengah krisis global.
Referensi:
Food Chain Magazine. (2025, August). Decoding the global chocolate crisis. Food Chain Magazine. Retrieved from https://foodchainmagazine.com/decoding-the-global-chocolate-crisis/
FoodNavigator. (2024, April 4). Cocoa crisis hits chocolate: Which companies will survive? FoodNavigator. Retrieved from https://www.foodnavigator.com/Article/2024/04/04/cocoa-crisis-hits-chocolate-which-companies-will-survive/
FoodNavigator. (2025, August 5). Cocoa causes of the price hikes. FoodNavigator. Retrieved from https://www.foodnavigator.com/Article/2025/08/05/cocoa-causes-of-the-price-hikes/
Kompas Agrikultur. (2025, September 22). Dilema industri kakao Indonesia: Kualitas dan importasi. Kompas. Retrieved from https://agri.kompas.com/read/2025/09/22/163000484/dilema-industri-kakao-indonesia–kualitas-dan-importasi
Majalah Hortus. (2025). Hilirisasi kakao jadi strategi pemerintah kembalikan kejayaan Indonesia. Majalah Hortus. Retrieved from https://news.majalahhortus.com/hilirisasi-kakao-jadi-strategi-pemerintah-kembalikan-kejayaan-indonesia/
Media Perkebunan. (2025). Hilirisasi kakao jadi kunci, Dewan Kakao tekankan pentingnya pemenuhan bahan baku domestik. Media Perkebunan. Retrieved from https://mediaperkebunan.id/hilirisasi-kakao-jadi-kunci-dewan-kakao-tekankan-pentingnya-pemenuhan-bahan-baku-domestik/
