Sebagai salah satu raksasa industri makanan dan minuman global, Danone menghadapi tantangan yang sangat kompleks seiring dengan ekspansi besar-besaran yang mereka lakukan di berbagai benua. Salah satu tantangan khas yang dihadapi Danone, seperti yang tersirat dalam perjalanan bisnis mereka, adalah kesulitan dalam mengelola pasar yang sangat terdesentralisasi, menjaga katalog produk yang terlokalisasi, serta mengendalikan pengeluaran yang tinggi akibat proses pengadaan dan promosi yang panjang.
Situasi ini menuntut sebuah strategi efisiensi yang ketat untuk memastikan keberlanjutan bisnis. Meskipun dikenal sebagai pelopor inovasi produk, Danone menyadari bahwa inovasi saja tidak cukup tanpa operasional yang ramping dan efisien. Oleh karena itu, penerapan prinsip-prinsip efisiensi operasional dan transformasi digital, yang sejalan dengan metodologi Lean Six Sigma, menjadi strategi kunci bagi mereka untuk merampingkan proses, mengurangi pemborosan sumber daya, dan memusatkan data guna pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Profil Danone
Sejarah perusahaan ini bermula jauh sebelum menjadi konglomerat multinasional seperti sekarang, tepatnya pada tahun 1919 di Barcelona, Spanyol. Perjalanan Danone dimulai dari produksi yogurt skala kecil yang awalnya dijual di rak-rak farmasi. Transformasi besar terjadi ketika perusahaan ini melakukan ekspansi internasional pertamanya ke Prancis pada tahun 1929 dengan membuka pabrik dan toko pertamanya di Paris.
Seiring berjalannya waktu, melalui serangkaian merger dan akuisisi yang strategis, termasuk penggabungan dengan perusahaan keju Gervais pada tahun 1967 dan perusahaan pembuat botol BSN pada tahun 1973, Danone berevolusi menjadi salah satu grup makanan terkemuka di Eropa dan Amerika Utara. Perusahaan yang awalnya bernama BSN-Gervais Danone ini akhirnya mengubah namanya menjadi Groupe Danone pada tahun 1994 untuk mencerminkan orientasi masa depan globalnya, mengingat merek Danone menyumbang porsi pendapatan yang signifikan dan memiliki pengakuan internasional yang kuat.
Di balik kesuksesan awal ini, terdapat sosok pendiri visioner bernama Isaac Carasso, seorang dokter yang melihat potensi kesehatan dari yogurt di tengah merebaknya penyakit pada awal tahun 1900-an. Nama “Danone” sendiri diambil dari nama panggilan putranya, Daniel Carasso.
Visi yang diterapkan dalam perusahaan ini berakar pada keinginan untuk menjembatani kesenjangan pasar dengan menyediakan makanan yang tidak hanya lezat tetapi juga menyehatkan. Visi ini terus berkembang, di mana seabad kemudian Danone mendirikan institut penelitian nutrisi di seluruh dunia.
Komitmen terhadap kesehatan dan keberlanjutan ini kemudian dipertegas dengan slogan “One Planet. One Health” yang mencerminkan pergeseran perspektif perusahaan untuk tidak hanya fokus pada keuntungan finansial, tetapi juga pada kesehatan konsumen dan pelestarian lingkungan melalui berbagai inisiatif dana alam dan sosial.
Strategi Jitu Danone
Namun, perjalanan Danone tidak lepas dari berbagai tantangan berat, baik yang muncul dari lingkungan industri, konsumen, maupun faktor internal. Tantangan besar pertama muncul saat mereka mencoba memasuki pasar Amerika Serikat pada tahun 1942. Berbeda dengan konsumen Eropa yang sadar kesehatan, pasar Amerika saat itu belum terbiasa dengan rasa yogurt yang asam dan tidak terlalu peduli pada aspek kesehatan, sehingga produk mereka sulit menembus pasar.
Tantangan internal juga muncul akibat diversifikasi yang terlalu luas pada akhir abad ke-20, di mana perusahaan merambah ke industri kaca, bir, dan permen yang akhirnya membebani modal kerja serta mengalihkan fokus dari bisnis inti. Selain itu, ekspansi global menciptakan tantangan logistik yang luar biasa, terutama dalam mendistribusikan barang yang mudah rusak (perishable goods) dan mengelola rantai pasok yang terfragmentasi di berbagai negara, sehingga mengakibatkan risiko inefisiensi biaya operasional yang membengkak.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan merealisasikan visi mereka, Danone menerapkan strategi yang selaras dengan prinsip Lean Six Sigma, yaitu fokus pada perbaikan proses, otomatisasi, dan eliminasi aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value added). Salah satu langkah strategis yang diambil pada tahun 1983 adalah pengenalan lini manufaktur otomatis untuk meningkatkan efisiensi, meskipun keputusan ini harus mengorbankan sejumlah tenaga kerja demi modernisasi industri.
Strategi “Lean” atau perampingan juga terlihat jelas ketika manajemen memutuskan untuk melakukan divestasi besar-besaran pada bisnis yang tidak inti seperti industri kaca, bir, dan biskuit, lalu memfokuskan kembali sumber daya mereka (restructuring) pada tiga area bisnis utama: produk susu, air minum, dan nutrisi. Puncak dari strategi efisiensi ini adalah transformasi digital yang dilakukan dengan menyatukan format pengelolaan materi promosi dan penjualan (POSM) ke dalam satu portal terpusat. Langkah ini memungkinkan Danone untuk mengendalikan pengeluaran, menyederhanakan proses pengadaan yang panjang, dan mengelola katalog lokal dengan jauh lebih efektif, membuktikan bahwa integrasi data dan efisiensi proses adalah kunci keberhasilan mereka.
Kesuksesannya
Hasil dari penerapan strategi yang disiplin ini sangat luar biasa, mengukuhkan eksistensi dan keuntungan Danone di kancah global. Statistik tahun 2021 menunjukkan kesuksesan besar dengan total penjualan mencapai €24,2 miliar dan laba bersih sebesar €1,9 miliar. Danone berhasil menempati peringkat nomor satu dunia untuk produk susu segar dan berbasis tanaman, serta peringkat teratas untuk air minum dan nutrisi bayi. Operasional mereka menjangkau lebih dari 120 negara dengan lebih dari 100.000 karyawan.
Di kawasan Asia, Danone telah menancapkan kakinya dengan kuat melalui berbagai akuisisi strategis dan usaha patungan, seperti kemitraan dengan Ajinomoto, masuknya ke pasar India dan Cina, serta ekspansi ke pasar negara berkembang yang kini menyumbang porsi signifikan dari total penjualan mereka. Kehadiran mereka yang kuat di pasar Asia, termasuk melalui merek-merek nutrisi, menunjukkan betapa adaptifnya strategi global mereka terhadap kebutuhan lokal.
Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)
- Kapan dan di mana Danone pertama kali didirikan?
Jawabannya adalah Danone didirikan pada tahun 1919 di Barcelona, Spanyol oleh Isaac Carasso.
- Mengapa Danone menjual bisnis biskuitnya yang menguntungkan?
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi restrukturisasi untuk kembali fokus pada area bisnis inti mereka yang lebih sehat dan berkelanjutan, serta menghindari risiko penyebaran modal yang terlalu tipis.
- Bagaimana cara Danone akhirnya sukses di pasar Amerika Serikat?
Mereka mengubah strategi pemasaran dari sekadar “kesehatan” menjadi “rasa” dengan memperkenalkan yogurt lapisan stroberi yang lebih sesuai dengan selera lokal.
- Apa statistik penjualan Danone yang menonjol pada tahun 2021?
Mereka mencatatkan total penjualan sebesar €24,2 miliar dengan laba bersih €1,9 miliar.
- Apa tujuan dari transformasi digital Danone?
Tujuannya adalah untuk mengelola pasar yang terdesentralisasi secara lebih efisien, mengontrol pengeluaran promosi, dan memusatkan format POSM dalam satu portal.
Kesimpulan
Keberhasilan Danone mempertahankan posisinya sebagai raksasa industri makanan global tidak hanya didasarkan pada inovasi produk, tetapi juga pada keberanian mereka untuk melakukan transformasi operasional yang radikal. Kemampuan untuk merampingkan portofolio bisnis, mengadopsi otomatisasi, dan melakukan sentralisasi data digital mencerminkan esensi dari keunggulan operasional yang menjadi nafas bagi perusahaan yang berkelanjutan.
Bagi perusahaan lain yang ingin mencapai tingkat efisiensi dan keunggulan operasional serupa, mengadopsi metodologi yang terstruktur sangatlah krusial. Dalam hal ini, bermitra dengan konsultan berpengalaman seperti SSCX International dapat menjadi langkah awal yang tepat untuk membimbing perusahaan Anda dalam implementasi Lean Six Sigma dan mencapai transformasi bisnis yang nyata.
Referensi
Cascade. (n.d.). Danone Strategy Study. Cascade. Diakses dari https://www.cascade.app/studies/danone-strategy-study
Danone. (n.d.). Danone’s Digital Transformation. Danone Newsroom. Diakses dari https://www.danone.com/newsroom/stories/danone-s-digital-transformation.html
Danone. (n.d.). Our History. Danone. Diakses dari https://www.danone.com/group/about-us/our-history.html
