Unilever merupakan produk yang tidak asing lagi pada dewasa ini. Produk-produknya, mulai dari sabun, pasta gigi, hingga makanan, seakan tak pernah absen dari kehidupan sehari-hari.  Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana sebuah perusahaan sebesar ini dapat mengelola operasinya secara efisien dan menjaga kualitas produknya di seluruh dunia? Jawabannya terletak pada sejarah, nilai-nilai, dan inovasi yang terus-menerus dilakukan oleh Unilever.

Sejarah Unilever dimulai pada awal abad ke-20. Perusahaan multinasional Anglo-Belanda ini secara resmi terbentuk pada tahun 1930 melalui penggabungan dua perusahaan besar: Lever Brothers, produsen sabun asal Inggris, dan Margarine Unie, produsen margarin asal Belanda. Penggabungan ini dilatarbelakangi oleh kesamaan bahan baku utama yang mereka gunakan, yaitu minyak kelapa sawit. Di tahun-tahun awal pendiriannya, Unilever gencar melakukan ekspansi, seperti upayanya untuk mengakuisisi Lilleborg, produsen sabun dan minyak nabati terkemuka di Norwegia pada tahun 1930. Selama Perang Dunia II, Unilever berhasil bertahan berkat struktur yang sangat terdesentralisasi dan persiapan hukum yang matang, memungkinkan perusahaan beroperasi secara mandiri di berbagai wilayah. Setelah perang, Unilever terus berinovasi, termasuk dalam praktik akuntansi dengan memperkenalkan pelaporan omset berdasarkan segmen, yang berperan penting dalam modernisasi standar pelaporan keuangan di Inggris.

Saat ini, Unilever memiliki lebih dari 250 pabrik di seluruh dunia. Sekitar 100 lokasi utama di antaranya menyumbang dua pertiga dari total omset perusahaan. Di pabrik-pabrik ini, Unilever menerapkan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), pemodelan proses yang kompleks, dan optimalisasi otomatis untuk menggerakkan operasional yang lebih cerdas. Perusahaan juga berfokus pada 20 pabrik paling krusial untuk didorong ke tingkat yang lebih tinggi lagi, salah satunya pabrik mereka di Vietnam.

Baca juga  Pemanfaatan Teknologi untuk Mendorong Realisasi Operational Excellence

Unilever menerapkan berbagai strategi untuk meningkatkan efisiensi. Salah satunya adalah model pengiriman ‘direct dispatch‘.  Model ini memungkinkan pengiriman produk langsung dari pabrik ke pelanggan ritel, memotong waktu dan jarak tempuh, mengurangi jejak karbon, serta memangkas titik sentuh dalam rantai pasokan. Model ini sangat cocok untuk pelanggan besar yang memesan produk dalam jumlah banyak dari satu pabrik, seperti deterjen, yang cenderung lebih besar dan berat. Hingga tahun 2018, hanya 8% pengiriman yang menggunakan model ini, namun angka tersebut telah meningkat dua kali lipat menjadi 16% dan ditargetkan mencapai lebih dari 25% pada tahun 2026.

Selain itu, Unilever juga memanfaatkan AI dan teknologi canggih untuk meningkatkan produktivitas. Beberapa contoh nyata yang telah diimplementasikan adalah optimalisasi proses pembersihan (CIP) di pabrik makanan. Dengan sensor canggih, Unilever dapat melacak kondisi pembersihan secara real-time, mengurangi waktu proses hingga 20% dan menghemat energi, air, serta limbah. Contoh lain adalah penggunaan model AI untuk proses pembuatan mayones. AI mampu menganalisis dan menetapkan parameter yang tepat, mengurangi variasi viskositas produk hingga 75%, meningkatkan kapasitas hingga 10%, dan mengurangi limbah sebesar 15%. Selain itu, Unilever juga menggunakan AI untuk membuat perkiraan harga material yang lebih cepat dan akurat, serta memprediksi permintaan pelanggan di tingkat toko secara real-time.

Efisiensi yang diciptakan melalui inovasi ini membawa banyak keuntungan bagi Unilever. Secara keseluruhan, produktivitas bersih (net productivity) yang dihasilkan menyediakan dana untuk investasi besar di masa depan, sejalan dengan Growth Action Plan 2030 yang dicanangkan perusahaan. Model pengiriman direct dispatch tidak hanya menghemat biaya operasional dan bahan bakar, tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca, mendukung keberlanjutan. Penerapan AI dalam proses manufaktur juga menghasilkan penghematan biaya, peningkatan kualitas produk, dan optimalisasi rantai pasokan. Secara keseluruhan, integrasi teknologi canggih ini memungkinkan Unilever untuk beroperasi lebih gesit, tangguh, dan efisien, menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih rendah.

Baca juga  Bagaimana Xiaomi Dapat Meluncurkan Puluhan Produk Per Tahun dengan Lean Thinking

Frequently Asked Questions (FAQs)

1. Apa itu model pengiriman ‘direct dispatch‘ yang diterapkan oleh Unilever?

   Model pengiriman ‘direct dispatch‘ adalah sistem pengiriman produk langsung dari pabrik ke pelanggan ritel, tanpa melalui pusat distribusi.

2. Bagaimana Unilever menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi?

   Unilever menggunakan AI untuk berbagai hal, seperti mengoptimalkan proses pembersihan, menyempurnakan proses pembuatan mayones, memprediksi harga bahan baku, dan memperkirakan permintaan di tingkat toko.

3. Apa saja keuntungan yang didapat dari penggunaan AI dalam proses produksi Unilever?

   Keuntungan yang didapat antara lain penghematan energi dan air, peningkatan kualitas produk, pengurangan limbah, serta peningkatan kapasitas produksi.

4. Kapan dan bagaimana Unilever didirikan?

   Unilever didirikan pada tahun 1930 melalui penggabungan dua perusahaan, Lever Brothers dari Inggris dan Margarine Unie dari Belanda, yang sama-sama bergantung pada minyak kelapa sawit sebagai bahan baku.

5. Apa yang dimaksud dengan ‘produktivitas bersih’ dan mengapa penting bagi Unilever?

   ‘Produktivitas bersih’ adalah hasil dari efisiensi yang menciptakan dana yang digunakan Unilever untuk berinvestasi pada merek, sumber daya manusia, dan teknologi di masa depan.

Kesimpulan

Perjalanan Unilever dalam membangun efisiensi adalah sebuah cerminan dari adaptasi, inovasi, dan nilai-nilai kepeloporan yang telah ada sejak perusahaan ini berdiri. Dengan terus berinvestasi pada teknologi canggih seperti AI dan model logistik yang inovatif, Unilever tidak hanya meningkatkan performa operasionalnya tetapi juga memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan. Kisah Unilever menunjukkan bahwa di era digital ini, perpaduan antara inovasi teknologi dan keunggulan manusia adalah kunci utama untuk mempertahankan relevansi dan keberlanjutan.

Referensi

Baca juga  Jejak Evolusi Bluebird dalam Lintasan Waktu