Dalam kehidupan yang serba cepat saat ini, sulit rasanya untuk menghindari kewajiban, tuntutan, dan ekspektasi dari banyak pihak yang dapat menyebabkan burnout bahkan stres berlebih. Seringnya, kita akan terburu-buru menjalani kehidupan seakan waktu 24 jam tidak cukup untuk memenuhi tuntutan harian. 

Efek lelah yang dihasilkan dari aktivitas serba cepat itu, membuat banyak orang beralih ke gaya hidup slow living. Ketertarikan ini muncul karena slow living menawarkan kehidupan yang lebih seimbang dan menekankan pada kualitas kegiatan, bukan kuantitas sehingga kita masih memiliki waktu untuk menikmati momen tanpa harus terburu-buru. 

Pengertian Slow Living

Slow living adalah filosofi gaya hidup lambat yang lebih sederhana untuk meningkatkan kualitas hidup. Dilakukan dengan cara selektif memilih kegiatan dan melakukannya sepenuh hati untuk mendapatkan hasil yang sangat baik. Bukan lagi fokus mencari keuntungan dengan mengambil banyak tanggung jawab dan menyelesaikannya dalam waktu cepat. 

Dikutip dari Fimela.com, seperti yang diungkapkan oleh Dan Morris dari Jacksonville Journal-Couriper, “Slow living is a lifestyle rooted in mindfulness and intentionality. It encourages us to move through life deliberately, focusing on what truly matters rather than rushing from one task to the next.”

Menerapkan slow living juga membuat kita jadi lebih aware dengan sekitar. Kita dapat mempunyai banyak waktu untuk menghabiskan momen bersama keluarga, teman terdekat, dan diri sendiri. Penting untuk menghargai setiap momen yang ada dalam hidup tanpa harus merasa terkejar oleh waktu. 

Sejarah Slow Living

Konsep slow living muncul dari gerakan slow food di Italia pada awal tahun 1980-an. Gerakan slow food muncul sebagai respon dari banyaknya kedai makanan fast food yang tumbuh di daerah tersebut. Mereka menilai, makanan fast food dapat melemahkan metode memasak tradisional, merugikan pertanian berkelanjutan, dan dapat menghilangkan makna budaya makanan. 

Baca juga  Dari Istana Merdeka, Indonesia dan Brasil Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Multisektor

Seiring perkembangan zaman, ide slow food tersebut berkembang menjadi konsep slow living yang menyentuh berbagai aspek kehidupan seperti mode, pekerjaan, gaya hidup, dan pengasuhan anak. 

Faktor Populernya Slow Living

Perluasan konsep slow living ke berbagai aspek kehidupan manusia inilah yang menyebabkan gaya hidup ini menjadi populer. Ditambah dengan tuntutan pekerjaan yang seakan mengharuskan segalanya selesai serba cepat. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan stres yang mengganggu organ pencernaan, jantung, adanya risiko hipertensi, dan gangguan kesehatan mental. 

Dilansir dari Fimela.com, di Amerika Serikat, slow living menjadi pergeseran budaya yang signifikan, dengan kelelahan pasca-pandemi dan krisis kesehatan mental sebagai pendorong utama. Hal ini berarti tren slow living yang menawarkan gaya hidup lebih sederhana dan menenangkan menjadi solusi yang menyebar secara global. 

Penerapan Slow Living Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Berdasarkan beberapa studi psikologis, slow living dapat dilakukan dengan latihan mindfulness seperti meditasi pernapasan atau yoga untuk mengatasi burnout. Latihan tersebut dapat membantu mengembalikan kejernihan pikiran individu sehingga menjadi lebih fokus dan tenang. 

Praktik slow living juga dapat dilakukan dengan menerapkan jarak pada teknologi. “Digital detox atau menjauh dari layar ponsel dan laptop juga penting untuk menyegarkan pikiran, jadi yang penting itu kalau sudah waktunya istirahat, jangan lanjut kerja, maka dari itu sebaiknya pekerjaan jangan ditunda dan harus diselesaikan di kantor,” jelas Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., dilansir dari Berau Post

Contohnya seperti menjauhkan handphone saat pagi hari, hal ini dapat memberi ketenangan sejenak dan menghindari hiper koneksi yang menimbulkan kecemasan berlebih. 

Jika penyebab burnout adalah beban kerja yang terlalu berat, penting untuk mengkomunikasikan hal ini kepada atasan. Dikutip dari Berau Post, Gardhika menyarankan agar pekerja berani menetapkan batas kemampuan dan mendiskusikan solusi terbaik, seperti pembagian tugas yang lebih seimbang, rotasi kerja, atau penyesuaian target.

Baca juga  Apa Itu Digital Detox dan Mengapa Anda Perlu Mencobanya?

Tantangan Penerapan Slow Living

Namun, praktik slow living bukanlah tanpa tantangan. Tidak semua orang dapat langsung menjalani gaya hidup slow living. Sebab jenis pekerjaan setiap orang berbeda-beda dan tidak semua ritme pekerjaan bisa dibuat lebih lambat. 

Jika tuntutan pekerjaan kita memungkinkan untuk dibuat lebih lambat, tubuh dan pikiran pun membutuhkan penyesuaian. Dari yang biasanya harus melakukan banyak hal dalam satu waktu tetapi tiba-tiba harus berkurang, rasa cemas bisa muncul karena ini merupakan rutinitas yang berbeda dari biasanya. Kecemasan itu bisa berkembang pada pemikiran bahwa kita bukan lagi manusia yang dibutuhkan. 

Maka dari itu, menerapkan gaya hidup slow living memerlukan waktu dan penyesuaian diri. Slow living tetap diperlukan ketika merasa lelah fisik dan pikiran. Perubahan gaya hidup slow living pun perlu dilakukan secara bertahap untuk memastikan kejernihan pikiran ke depannya. 

Referensi:

Beraupost. (2025, Juli 29). Mengatasi Burnout: Tips Psikolog untuk Pulihkan Kesehatan Mental di Dunia Kerja. Berau Post. https://beraupost.jawapos.com/gaya-hidup/2446361306/mengatasi-burnout-tips-psikolog-untuk-pulihkan-kesehatan-mental-di-dunia-kerja

Dealss. (2024, Desember 02). Slow Living Adalah: Ini Contoh, Miskonsepsi, dan Bedanya dengan Fast Living. Dealss.com.

https://dealls.com/pengembangan-karir/slow-living-adalah

Kuswanti, Marliana. (2025, Januari 06). 5 Tantangan saat Belajar Menerapkan Slow Living, Malah Jadi Cemas?. IDN Times. https://www.idntimes.com/life/inspiration/5-tantangan-saat-belajar-menerapkan-slow-living-malah-jadi-cemas-01-dv2xl-yy0vyc

Setiawan, Deddy. (2023, Juli 25). Asal Muasal Gaya Hidup Slow Living yang Sedang Tren di Saat Ini. Viva.co.id. https://www.viva.co.id/edukasi/1621072-asal-muasal-gaya-hidup-slow-living-yang-sedang-tren-di-saat-ini

Wardhani, Adinda Tri. (2025, Juli 30). Mengapa Banyak Orang Mulai Melirik Slow Living di Tahun 2025? Ini Alasannya. Fimela.com. https://www.fimela.com/lifestyle/read/6118665/mengapa-banyak-orang-mulai-melirik-slow-living-di-tahun-2025-ini-alasannya