Di era industri 4.0, teknologi berkembang pesat dan semakin banyak digunakan dalam operasional perusahaan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Salah satu teknologi yang paling banyak digunakan adalah Artificial Intelligence (AI). Dengan AI, pekerjaan menjadi lebih cepat, mudah, dan biaya operasional bisa ditekan dibandingkan dengan tenaga manusia. 

Namun, di balik keunggulan AI, muncul tantangan baru: ancaman terhadap keberlangsungan beberapa jenis pekerjaan manusia. Lalu, bagaimana kita sebaiknya menghadapi kehadiran AI ini? Artificial Intelligence merupakan sistem yang meniru kecerdasan manusia, mulai dari mengumpulkan informasi, memahami konteks, menganalisis, membuat keputusan, hingga belajar dari pengalaman. Sejak ditemukan oleh John McCarthy pada 1950, AI terus berkembang pesat melalui machine learning dan deep learning.

Realita Kehadiran AI di Dunia Kerja

Saat ini, AI telah merambah berbagai sektor pekerjaan. Dalam manufaktur, AI mempercepat produksi melalui otomasi robotik. Penggunaan AI seperti Chat GPT semakin meluas, contohnya pada posisi customer service yang mengandalkan respon otomatis, cepat, dan responsif. Di sektor keuangan, AI menyebabkan penurunan penggunaan mesin ATM karena perbankan digital berbasis AI lebih diminati. Data Otoritas Jasa Keuangan (2023) menunjukkan pengurangan tenaga kerja di bidang perbankan.

Tantangan dan Peluang: Siapa yang Siap Bertahan? 

Kecanggihan AI dalam mengotomasi tugas-tugas rutin dengan biaya rendah dan efisiensi tinggi membuat pekerjaan yang bersifat repetitif paling rentan tergantikan, seperti data entry, dan operator call center. Meski terdapat kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia, di sisi lain kemajuan AI juga membuka peluang pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada, seperti di bidang analisis data, kreatif, dan teknis. Kehadiran pekerjaan baru ini tentu membutuhkan kemampuan baru pula. Oleh karena itu, penting bagi para pekerja untuk terus memperbarui dan mengasah keterampilan mereka melalui reskilling dan upskilling agar tetap relevan dan unggul di pasar kerja yang terus berubah.

Baca juga  Membangun Kepemimpinan Efektif untuk Model Kerja Hybrid

Mindset Continuous Improvement Kunci Bertahan dan Berkembang

Menghadapi perubahan, continuous improvement (CI) mindset sangat penting. CI adalah pola pikir dan tindakan yang reflektif, kolaboratif, dan berbasis data untuk terus memperbaiki cara kerja secara bertahap namun konsisten. Mindset ini mendorong pembelajaran berkelanjutan, evaluasi diri, dan peningkatan kinerja secara rutin. Melalui CI mindset, dapat membantu menciptakan budaya inovasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan AI. Orang dengan mindset ini cenderung terbuka pada perubahan, proaktif, fleksibel, adaptif, serta reflektif dan kolaboratif.

Continuous Improvement memiliki tiga pertanyaan kunci, yaitu

  1. Masalah apa yang ingin kita selesaikan?

Untuk menentukan masalah dilakukan dengan identifikasi masalah spesifik yang perlu diperbaiki dan tentukan tujuan berdasarkan hal tersebut.

  1. Perubahan apa yang ingin kita kenalkan dan kenapa?

Melalui pengembangaan dan uji solusi terhadap inovasi yang dilakukan.

  1. Bagaimana kita mengetahui perubahan yang terjadi adalah sebuah perbaikan?

Lakukan evaluasi atau pengukuran dampak melalui data untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dalam praktiknya di dunia kerja, continuous improvement dapat diterapkan melalui:

  • Identifikasi masalah dan tetapkan prioritas 
  • Bentuk tim perbaikan dengan keterlibatan semua karyawan, 
  • Gunakan metode iteratif, seperti Plan-Do-Check-Act (PDCA). 
  • Ciptakan budaya kolaborasi dan pembelajaran. 
  • Gunakan alat visual, seperti papan progres dan driver diagrams untuk melihat progress dan kontribusi masing-masing karyawan. 
  • Dokumentasi setiap progress dan rayakan setiap keberhasilan yang ada, 

Lakukan evaluasi berkala, untuk memastikan perubahan menjadi kebiasaan.

Bagi setiap pekerja, terdapat berbagai cara untuk membangun CI mindset:

  • Melakukan refleksi rutin, misalnya dengan evaluasi diri mingguan dan menetapkan target belajar kecil namun konsisten.
  • Mengamati sosok teladan di lingkungan kerja yang secara konsisten menunjukkan semangat belajar dan pertumbuhan positif.
  • Melakukan microlearning, misalnya dengan mengikuti pelatihan singkat melalui YouTube, webinar, atau platform pembelajaran daring lainnya.
  • Eksplorasi perspektif baru melalui AI tools seperti Chat GPT atau Grammarly untuk memantik pertanyaan dan membuka cara berpikir yang lebih efisien dan terbuka terhadap perubahan.
  • Berpartisipasi dalam kolaborasi lintas fungsi, seperti berdiskusi dengan rekan dari tim HR, desain, atau IT untuk memperluas wawasan dan mengasah kemampuan adaptif dalam kerja tim.
Baca juga  Merawat Sesama: Panduan Mentoring untuk Profesional Kesehatan Masa Kini

Continuous improvement mindset bukan hanya mindset untuk terus belajar, tapi juga komitmen untuk terus tumbuh, memperbaiki kesalahan, dan tidak cepat puas. Dengan continuous improvement mindset, bahkan sebuah organisasi dapat menciptakan budaya yang berfokus pada pembelajaran dan kolaborasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk AI, mindset ini akan menjadi senjata utama untuk bertahan. AI bukanlah musuh, tetapi alat bantu. Dengan budaya belajar yang kuat dan pola pikir yang terbuka terhadap perubahan, manusia akan tetap relevan dan unggul di masa depan kerja. Bukan melawan perubahan, tapi beradaptasi dan maju bersama perubahan.