Rangkaian Opexcon 2025 telah resmi berakhir dengan antusiasme yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Acara puncak yang digelar pada (13/11) dan berlokasi di Pullman Hotel Central Park ini, dihadiri oleh sekitar 600 peserta yang datang dari berbagai industri. Mulai dari industri manufaktur, pertambangan, energi, hingga sektor jasa, mereka semua datang demi menunjukkan komitmennya terhadap penerapan operational excellence.

Sebagai kompetisi inovasi dan operational excellence terbesar di Indonesia, Opexcon secara konsisten telah menjadi wadah bagi para pelaku industri untuk mengevaluasi seberapa jauh improvement yang telah dilakukan oleh berbagai perusahaan. Pada tahun ini, warna baru muncul mewarnai rangkaian acara, berkat adanya kolaborasi strategis yang dilakukan bersama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kolaborasi ini bukanlah hal kecil, melainkan suatu pengukuhan terhadap eksistensi Opexcon sebagai acara yang diakui dalam taraf yang lebih luas, atau secara nasional.

140 Proyek yang Mengisi Panggung Inovasi

Salah satu capaian paling menarik datang dari jumlah proyek yang berpartisipasi. Ada peningkatan jumlah proyek yang diterima dari tahun sebelumnya, Opexcon 2025 mencatat ada 140 proyek yang berpartisipasi ke dalam babak penjurian. 

Andrew Setiawan selaku Project Manager acara tahun ini, menyebutkan, bahwa peningkatan yang diterima oleh Opexcon 2025 justru merupakan suatu hal yang berada di luar dugaan. Apalagi mengingat, isu efisiensi merupakan problematika yang tengah menghantui berbagai sektor industri. Belum lagi, hal itu kian diperparah dengan keadaan perekonomian global yang terus bergulat dalam arus pasang-surut tidak pasti.

Dengan adanya peningkatan terhadap minat untuk melakukan inovasi berkelanjutan, fenomena ini tentu dapat ditafsirkan sebagai sinyal baik yang mencerminkan tingginya semangat para pelaku industri untuk tetap berinovasi, meski diterjang tantangan di berbagai sisi.

Baca juga  OPEXCON 2025 Anugerahi 46 Proyek Unggulan, Dorong Transformasi Operasi Berkelanjutan

“Jadi memang yang pertama, di tengah-tengah efisiensi, kita melihat semangat dari perusahaan-perusahaan ini yang mengikuti Opexcon tidak turun. Karena memang tergambar dari jumlah peserta yang ikut itu tidak menurun. Malah sebenarnya dapat bertambah, namun ada beberapa yang kita hold karena peserta mendaftar di last minute,” ungkap Andrew ketika diwawancarai.

Andrew menambahkan, bahwa fenomena tersebut juga merupakan refleksi berarti yang menunjukkan adanya kesadaran dari setiap perusahaan untuk melihat inovasi sebagai kunci bertahan di tengah tantangan yang menyelimuti keadaan.

Arah Opexcon 2026: Lebih Terbuka, Lebih Kolaboratif

Tidak hanya berkembang dengan mengadakan kolaborasi bersama Kemenperin, Opexcon 2025 juga melakukan beberapa pembaharuan dalam eksekusi acaranya. Salah satunya, dengan menyulap VIP Room yang semula diperuntukkan bagi para jajaran direksi dan Board of Directors untuk melakukan sesi makan siang, menjadi tempat untuk melakukan executive session.

“Di tahun ini kita gunakan ruangan tersebut untuk Board of Directors. Namun, bukan hanya untuk mingle. Jadi, kita ada agenda bernama executive session. Dari CEO SSCX International ada Pak Rifki dan CEO dari SSCX Technovation Pak Fajar Dhirendra. Itu adalah sesi eksekutif menjelaskan tentang inovasi lalu memberikan beberapa keynotes,” tutur Andrew.

Selain itu, di penghujung acara awarding Opexcon 2025 terdapat pula pemberian insight terkait gambaran economic outlook 2026 termasuk persoalan sustainability dan jejak karbon, yang dipaparkan secara langsung oleh Bima Yudhistira dari Celios serta Prof. Irhan dari Badan Riset Inovasi Nasional Indonesia (BRIN).

Dengan kesuksesan dan perkembangan yang terjadi, itu tidak menjadi alasan untuk Opexcon berhenti berinovasi di acara tahun depan. Dalam wawancara yang dilakukan bersama Nicoolas Andrew Sujatno selaku Direktur SHIFT Indonesia, ia menceritakan gambaran inovasi apa yang akan dilakukan untuk Opexcon 2026.

Baca juga  Dari Ruang Juri: Panduan Ahli untuk Merancang Proyek Pemenang Kompetisi

“Rencana tahun depan tetap dengan tema sustainability, terutama terkait emisi, sosial dan governance. Kita berharap jumlah proyek bisa mencapai 200,” ungkapnya. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Kehutanan.

Di sisi lain, Andrew menyampaikan bahwa Opexcon 2026 berpotensi diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, opsi ini masih dalam tahap pertimbangan oleh SHIFT Indonesia selaku penyelenggara, karena harus tetap memperhatikan aspek kompetisi yang sehat, kepatuhan terhadap kode etik perusahaan, serta kelancaran keseluruhan proses pelaksanaan Opexcon. Penyesuaian ini dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya improvement untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas penyelenggaraan Opexcon di masa mendatang.

Pertanyaan Umum (Frequently Asked Questions)

1. Berapa jumlah proyek tahun ini?

140 Proyek, angka yang bertambah dibandingkan tahun lalu.

2. Apa sektor yang paling banyak berpartisipasi?

Manufaktur, mining & energy, dan jasa layanan. 

3. Apa pencapaian tahun ini?

Kolaborasi dengan Kemenperin dan beberapa perubahan dalam eksekusi acara.

4. Apakah ada rencana besar untuk 2026?

Ada kemungkinan Opexcon akan dilakukan dengan jangka waktu yang lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Opexcon 2025 menegaskan bahwa di tengah tekanan efisiensi, inovasi justru perlu menjadi landasan bagi perusahaan agar mampu bertahan dan tumbuh. Dengan kolaborasi pemerintah, rangkaian acara yang semakin kaya, serta rencana besar untuk tahun depan, Opexcon terus memperkuat perannya sebagai arena perkembangan operational excellence nasional yang mendorong setiap lini industri di Indonesia untuk bergerak menuju perbaikan berkelanjutan yang efisien.