Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat bepergian, dan kehadiran berbagai aplikasi perjalanan online kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan liburan. Di antara banyaknya pilihan, Traveloka muncul sebagai salah satu nama yang paling dikenal, mengukuhkan posisinya sebagai aplikasi super gaya hidup dengan berbagai layanan terintegrasi. Namun, di balik kesuksesan yang terlihat sekarang, ada kisah menarik tentang bagaimana aplikasi ini dibangun dari sebuah pengalaman pribadi yang sederhana.
Kilas Balik Pendirian Traveloka
Semuanya bermula dari kesulitan yang dialami tiga mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat, yaitu Albert dari Medan, Ferry Unardi dari Padang, dan Derianto Kusuma dari Jakarta. Albert, yang saat itu kuliah di Purdue University, sering kali mengalami kerumitan saat memesan tiket pesawat dari kampung halamannya di Medan menuju Indiana.
Prosesnya yang berbelit-belit dan memakan waktu, di mana ia harus mengandalkan agen perjalanan atau melalui banyak tahap pemesanan online, memicu ide besar. Pengalaman serupa juga dialami oleh Ferry dan Derianto. Momen ini menjadi titik balik bagi ketiganya untuk menciptakan solusi, sebuah platform yang membantu banyak orang lain yang mungkin menghadapi masalah yang sama.
Didirikan pada tahun 2012, Traveloka hadir sebagai platform Online Travel Agent (OTA) yang bermula dari sebuah apartemen sewaan di Jakarta dengan modal tiga buah laptop. Pada awalnya, layanan ini berfungsi sebagai situs pencarian dan perbandingan harga tiket pesawat. Teknologi kunci yang mereka kembangkan adalah metasearch engine, yang bertujuan untuk menyatukan dan mengorganisasi hasil pencarian dari berbagai sumber agar lebih presisi dan memudahkan pengguna.
Uniknya, para pendiri Traveloka tidak hanya berperan sebagai pengembang perangkat lunak, tetapi juga sebagai tim layanan pelanggan yang secara langsung mendengarkan keluhan dan masukan dari konsumen. Dengan prinsip “always listen to your customers and partners,” Traveloka terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai mitra bisnis, mulai dari maskapai penerbangan, PT Kereta Api Indonesia, hingga pengelola hotel, untuk menghadirkan fitur-fitur baru. Seiring berjalannya waktu, Traveloka berkembang pesat. Di usia 10 tahun, perusahaan ini bertransformasi menjadi aplikasi super gaya hidup dengan layanan yang jauh lebih beragam, seperti Traveloka Eats, Traveloka Xperience, dan layanan keuangan seperti Traveloka Pay Later.
Namun, perjalanan Traveloka tidak selamanya mulus. Perusahaan ini menghadapi tantangan terberatnya saat pandemi COVID-19 melanda. Sektor pariwisata menjadi industri yang paling terpukul, dan Chief Executive Officer (CEO) Traveloka Ferry Unardi, menyebut bisnis mereka “berada di titik terendah”. Permintaan untuk penerbangan, kereta api, dan penginapan anjlok drastis, sementara permintaan pengembalian dana justru melonjak signifikan. Menanggapi situasi ini, Traveloka mengambil langkah-langkah efisiensi, termasuk investasi dan pengeluaran yang lebih disiplin. Mereka juga mengambil peran aktif dalam mendukung inisiatif pemerintah untuk memulihkan industri pariwisata. Berkat upaya ini, bisnis Traveloka mulai bangkit seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas. Pelonggaran pembatasan mobilitas memungkinkan peningkatan yang signifikan dalam bisnis perjalanan domestik.
Pencapaian dan Ekspansi Traveloka
Sejak 2015, Traveloka telah memperluas bisnisnya melampaui Indonesia. Mereka memasuki pasar-pasar penting di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina, dengan total pengguna aktif mencapai 40 juta orang. Di Thailand dan Vietnam, Traveloka bahkan berencana meluncurkan layanan keuangan “buy now, pay later” untuk memfasilitasi lebih banyak konsumen.
Terbaru, Traveloka secara resmi meluncurkan layanannya di Jepang pada 28 Mei 2025. Ekspansi ini membuat Traveloka kini hadir di delapan negara, termasuk Australia. Untuk memastikan kesuksesan di pasar baru, aplikasi dan situs web di Jepang telah disesuaikan sepenuhnya dengan antarmuka yang ramah pengguna dan layanan pendukung berbahasa Jepang.
Keberhasilan Traveloka dalam mendorong pertumbuhan ekonomi diakui melalui studi yang dirilis oleh PwC Indonesia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Traveloka berkontribusi dalam peningkatan Nilai Tambah Bruto atau Gross Value Added (GVA) Indonesia sebesar Rp 155 triliun antara 2019-2022. Dari jumlah itu, sektor pariwisata menyumbang hampir Rp 70 triliun, setara dengan 2,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Studi ini juga mengungkapkan bahwa 86% pelaku usaha yang menjadi mitra Traveloka melaporkan pertumbuhan penjualan rata-rata 50-75%.
Selain itu, perusahaan ini juga mempromosikan pariwisata berkelanjutan, dibuktikan dengan kemitraan strategis bersama institusi seperti Global Sustainable Tourism Council (GSTC) dan melakukan pelatihan sertifikasi bagi mitra akomodasi di tiga negara di Asia Tenggara. Berdasarkan survei internal, sebanyak 88% pengguna di Indonesia menghargai pilihan untuk mengimbangi jejak karbon mereka saat memesan penerbangan.
Ke depannya, Traveloka berambisi untuk terus memperkuat posisinya sebagai platform terdepan dalam inovasi digitalisasi pariwisata berkelanjutan. Perusahaan ini juga terus menjajaki berbagai opsi strategis untuk ekspansi bisnis, termasuk kemungkinan melantai di bursa Amerika Serikat melalui special purpose acquisition company (SPAC) atau di Indonesia. Fokus utamanya adalah terus berinvestasi pada layanan keuangan melalui financial technology (fintech) dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan Dinas Pariwisata daerah, untuk memajukan industri pariwisata dan ekonomi.
FAQ (Pertanyaan Umum)
- Siapakah pendiri Traveloka?
Traveloka didirikan oleh tiga orang, yaitu Albert, Ferry Unardi, dan Derianto Kusuma, yang merupakan lulusan universitas di Amerika Serikat. - Apa yang memicu berdirinya Traveloka?
Ide ini muncul dari pengalaman para pendirinya yang kesulitan memesan tiket pesawat saat bepergian dari Amerika Serikat ke Indonesia. - Apa saja layanan yang ditawarkan Traveloka saat ini?
Traveloka telah bertransformasi menjadi aplikasi super gaya hidup dengan berbagai layanan, termasuk pemesanan tiket pesawat dan kereta api, hotel, Traveloka Eats, Traveloka Xperience, dan layanan keuangan seperti Traveloka Pay Later. - Bagaimana Traveloka menghadapi tantangan pandemi COVID-19?
Traveloka menghadapi pandemi dengan melakukan efisiensi operasional dan mendukung inisiatif pemerintah untuk memulihkan sektor pariwisata, dengan bisnis perjalanan domestik menjadi pendorong utama kebangkitan. - Di negara mana saja Traveloka melakukan ekspansi?
Traveloka telah memperluas bisnisnya ke berbagai negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Filipina, serta ke Australia dan Jepang.
Secara keseluruhan, perjalanan Traveloka adalah cerminan dari inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata, ketahanan dalam menghadapi krisis, dan ambisi untuk terus berkembang. Dari sebuah ide sederhana yang muncul dari kesulitan pribadi, Traveloka kini telah menjadi salah satu pemain utama di industri perjalanan dan pariwisata. Bahkan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Tenggara dan hingga ke Jepang. Dengan fokus pada inovasi digital, kolaborasi strategis, dan keberlanjutan, Traveloka terus memantapkan posisinya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di masa depan.
