Siapa yang tidak mengenal sosok Bob Sadino? Nama ini telah menjadi legenda yang tidak bisa dilupakan ketika berbicara mengenai dunia kewirausahaan di Indonesia. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses yang sangat disegani, namun tetap membumi dengan penampilannya yang nyentrik. Dalam banyak kesempatan, sosok ini sering terlihat santai mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya sehari-hari, sebuah tampilan yang membuatnya berbeda dari pengusaha lain. Popularitasnya tidak hanya dibangun di atas kekayaannya semata, melainkan pada kisahnya yang sangat inspiratif karena terbukti berhasil memulai bisnis dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.

Latar Belakangnya

Pria yang memiliki nama asli Bambang Mustari Sadino ini lahir di Tanjung Karang, yang sekarang dikenal sebagai Bandar Lampung, pada tanggal 9 Maret 1933. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang hidup di tengah keluarga berkecukupan. Sebuah fakta menarik melatarbelakangi masa mudanya, di mana saat orang tuanya meninggal dunia ketika ia berusia 19 tahun, Bob mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain dianggap sudah hidup mapan.

Riwayat pendidikannya mencatat bahwa selepas SMA pada tahun 1953, ia sempat masuk ke Fakultas Hukum UI karena terbawa pengaruh teman-temannya, namun ia hanya bertahan selama beberapa bulan sebelum memutuskan jalannya sendiri. Bob Sadino telah berpulang pada 19 Januari 2015 lalu, namun kisah hidupnya terus dikenang.

Perjalanan Karirnya

Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia bisnis sebagai wirausahawan, Bob memiliki rekam jejak karir yang cukup panjang sebagai pegawai. Selepas SMA, ia pernah bekerja di Unilever, kemudian berpindah ke McLain and Watson Coy. Perjalanan hidup membawanya berkelana ke luar negeri dengan menggunakan sebagian harta warisannya, di mana ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun.

Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Pada masa itulah ia bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia membawa dua mobil Mercedes buatan tahun 1960-an. Salah satu mobil tersebut ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, sementara yang lain ia simpan. Meski sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan penerbangan, ia akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaannya karena memiliki tekad kuat untuk bekerja secara mandiri dan tidak ingin berada di bawah perintah orang lain.

Baca juga  Lebih dari Sekadar Konferensi: Peran Opexcon dalam Membentuk Budaya Improvement di Indonesia

Keputusan untuk mandiri membawa Bob dan istrinya masuk ke tahap ketidaknyamanan untuk hidup miskin, padahal saat itu istrinya memiliki gaji besar. Namun, Bob berprinsip bahwa laki-laki adalah pemimpin keluarga sehingga ia bertekad tidak menjadi pegawai. Pekerjaan mandiri pertama yang dilakoninya setelah berhenti jadi karyawan adalah menyewakan mobil Mercedes miliknya, di mana ia sendiri yang menjadi sopirnya.

Rintangan besar menghadang ketika mobil tersebut rusak berat akibat kecelakaan dan ia tidak memiliki uang untuk memperbaikinya. Akibatnya, Bob harus beralih profesi menjadi kuli bangunan dengan upah harian hanya seratus rupiah. Tekanan hidup yang berat ini sempat membuatnya mengalami depresi. Bahkan saat mulai merintis usaha dagang nantinya, ia menghadapi tantangan mental di mana ia dan istrinya tak jarang dimaki-maki oleh pelanggan, bahkan oleh seorang pembantu rumah tangga.

Titik Balik Hidupnya

Titik balik kehidupannya dimulai ketika seorang teman menyarankan Bob untuk memelihara ayam guna mengatasi depresi yang dialaminya. Dari kegiatan memelihara ayam tersebut, ia terinspirasi bahwa jika seekor ayam saja bisa berjuang untuk hidup, mencapai target berat badan, dan bertelur, tentunya manusia pun harus bisa melakukan hal yang sama. Sejak saat itulah semangat wirausahanya muncul karena kondisi yang “kepepet”.

Awalnya, Bob menjual telur ayam negeri beberapa kilogram per hari dari pintu ke pintu bersama istrinya. Kala itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia, sehingga strategi awalnya adalah menyasar ekspatriat di daerah Kemang dan orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Kemampuan berbahasa asing yang dimilikinya menjadi modal utama dalam mendapatkan pelanggan asing. Kunci keberhasilannya juga terletak pada perubahan sikap mental yang drastis dari seorang feodal menjadi pelayan (servant) setelah menyadari pentingnya kepuasan pelanggan akibat teguran-teguran yang diterimanya.

Baca juga  From Luxury to Belonging Design Thinking dalam Strategi Four Seasons

Bob Sadino dikenal dengan filosofi bisnisnya yang praktis, di mana ia percaya bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya kunci keberhasilan. Ia selalu menekankan bahwa kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak berpikir dan membuat rencana yang canggih sehingga tidak segera melangkah. Baginya, yang terpenting adalah “action” atau tindakan nyata. Bob lebih mengandalkan pengalaman langsung atau “street smarts” dibandingkan teori di atas kertas. Ia sering mengatakan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang tak terhindarkan dan justru akan membuat seseorang menjadi terampil dan menguasai bidangnya. Filosofinya mengajarkan untuk berani memulai dari nol, tidak takut gagal, bersikap sederhana, dan selalu menempatkan pelanggan sebagai kunci utama (Customer is Key) karena kepuasan pelanggan akan membawa kepuasan pribadi bagi pengusaha.

Dari usaha kecil menjual telur dari rumah ke rumah, bisnis Bob berkembang sangat pesat. Ia berhasil mengembangkan usahanya dari berjualan telur, berlanjut ke daging ayam, hingga mendirikan jaringan usaha besar yang dikenal dengan nama Kemfood (pengolahan daging) dan Kemchick (supermarket). Bob melihat peluang ketika orang lain skeptis, menjadikannya salah satu pengusaha pertama yang memperkenalkan ayam negeri dan sayuran hidroponik di Indonesia. Bisnisnya juga merambah ke sektor agribisnis khususnya hortikultura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang-orang Jepang dan Eropa, serta menjalin kerja sama dengan para petani di berbagai daerah. Ia juga menjual bumbu seperti garam dan merica. Kesuksesannya membuktikan bahwa dari modal ketidaktahuan yang disertai keberanian terjun ke lapangan, ia mampu membangun kekayaan dan menjadi pengusaha yang disegani.

Frequently Asked Questions (Pertanyaan Umum)

  1. Siapakah nama asli Bob Sadino dan kapan ia lahir? 
Baca juga  Keberhasilan FamilyMart di Indonesia: Positioning, Glokalisasi, dan Inovasi

Nama aslinya adalah Bambang Mustari Sadino. Ia lahir di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung) pada tanggal 9 Maret 1933.

  1. Apa saja jaringan usaha yang dimiliki oleh Bob Sadino? 

Bob Sadino adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood (bidang daging olahan) dan Kemchick (supermarket), serta memiliki usaha di bidang peternakan (telur dan daging ayam) dan produk hortikultura (sayuran hidroponik).

  1. Mengapa Bob Sadino memutuskan beralih profesi menjadi kuli bangunan sebelum sukses? 

Hal itu terjadi karena mobil Mercedes yang disewakan (dengan dirinya sebagai sopir) mengalami kecelakaan dan rusak parah. Karena tidak memiliki uang untuk biaya perbaikan, ia terpaksa beralih profesi menjadi kuli bangunan dengan upah harian.

  1. Apa filosofi unik Bob Sadino mengenai rencana bisnis? 

Bob berpendapat bahwa rencana tidak harus selalu baku dan kaku. Ia percaya bahwa kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak berpikir membuat rencana sehingga tidak segera melangkah. Baginya, “action” atau tindakan nyata dan belajar dari pengalaman (learning by doing) jauh lebih penting daripada teori yang rumit.

  1. Bagaimana strategi awal Bob Sadino memasarkan telur ayam negerinya? 

Ia menjual telur dari pintu ke pintu (door to door). Karena telur ayam negeri belum populer di kalangan pribumi saat itu, ia menyasar target pasar para ekspatriat (orang asing) yang tinggal di kawasan Kemang, dengan memanfaatkan kemampuannya berbahasa asing untuk membangun relasi.

Kisah perjalanan hidup Bob Sadino memberikan pelajaran berharga bahwa kesuksesan bisnis tidak selalu dimulai dengan modal besar atau perencanaan yang sempurna. Bermula dari kondisi terdesak, pengalaman pahit sebagai kuli bangunan, hingga keberanian menjual telur dari pintu ke pintu, Bob membuktikan bahwa tekad, keberanian mengambil risiko, dan kemauan untuk melayani pelanggan adalah pondasi utama keberhasilan. Warisannya bukan hanya berupa perusahaan besar seperti Kemchick dan Kemfood, melainkan juga semangat untuk “bodoh” dalam artian berani kosong untuk terus belajar dari pengalaman nyata di lapangan.