Sebuah perusahaan terdiri dari berbagai divisi yang masing-masing berisi individu dengan peran berbeda. Agar dapat beroperasi secara optimal, kolaborasi antar bagian menjadi kunci utama. Namun, pada kenyataannya, membangun kolaborasi yang efektif tidaklah mudah. Pertanyaan penting pun muncul: bagaimana perusahaan dapat memastikan kerja sama yang terjalin berjalan efisien?
Salah satu jawabannya adalah Concurrent Engineering (CE), yaitu pendekatan sistematis dalam pengembangan produk yang menekankan kolaborasi lintas disiplin dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan sejak tahap awal proses. Berbeda dengan metode tradisional yang biasanya bersifat sekuensial, di mana satu tahap harus diselesaikan lebih dulu sebelum berlanjut ke tahap berikutnya, Concurrent Engineering justru mendorong berbagai proses berlangsung secara paralel. Melalui metode ini, perusahaan dapat mempercepat waktu peluncuran produk, meningkatkan kualitas, sekaligus menekan biaya secara keseluruhan. Dengan kata lain, CE menjadi strategi penting untuk mewujudkan kolaborasi yang lebih efektif.
Prinsip-prinsip Utama Concurrent Engineering
Dalam penerapannya, supaya berjalan efektif, Concurrent Engineering berlandaskan pada sejumlah prinsip dasar yang menjadi fondasi keberhasilannya, yaitu sebagai berikut:
1.1. Keterlibatan Sejak Awal dari Stakeholders dan Suppliers
CE menekankan bahwa kolaborasi harus dimulai sejak awal, bukan setelah desain hampir rampung. Dengan melibatkan stakeholders dan suppliers sejak tahap awal, perusahaan bisa memperoleh banyak manfaat. Pertama, rantai pasok menjadi lebih tangguh karena risiko dalam pengadaan dapat diidentifikasi lebih dini. Kedua, desain produk lebih kaya perspektif berkat masukan dari pihak luar yang membawa pandangan segar. Ketiga, waktu tunggu berkurang karena informasi kritis sudah tersedia di awal proses.
1.2. Kolaborasi Tim secara Lintas Sektoral
Strategi CE juga menuntut kolaborasi antara tim lintas sektor, mulai dari desain, produksi, kualitas, pemasaran, pemeliharaan, hingga layanan purna jual. Kolaborasi seperti ini memberi tiga keuntungan utama:
- Deteksi dini potensi kesalahan atau masalah desain.
- Sinkronisasi antar fungsi yang mempercepat waktu siklus.
- Pengambilan keputusan yang lebih inklusif, karena melibatkan beragam perspektif.
1.3 Desain dan Pengembangan secara Bersama
Concurrent Engineering bukan hanya tentang mendesain produk, melainkan memastikan semua aspek siklus hidup produk, mulai dari desain, manufaktur, distribusi, hingga layanan, dipertimbangkan sejak awal. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan kualitas karena potensi masalah dapat diidentifikasi lebih cepat. Perusahaan pun lebih siap mengakomodasi perubahan kebutuhan pelanggan dan mampu menekan biaya melalui efisiensi waktu serta material.
1.4 Feedback yang Berkelanjutan
CE juga menciptakan ruang dialog terbuka di antara anggota tim, stakeholder, dan supplier. Proses paralel membuat arus informasi lebih cepat, masukan dapat segera ditindaklanjuti, dan iterasi desain berjalan lebih efektif. Budaya feedback berkelanjutan ini menjadi kunci terciptanya inovasi yang konsisten.
1.5 Case Study Concurrent Engineering Dalam Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Produksi
Salah satu contoh nyata keberhasilan penerapan Concurrent Engineering (CE) dapat dilihat pada studi kasus industri white goods di Brasil. Perusahaan manufaktur peralatan rumah tangga ini menghadapi tantangan klasik: bagaimana mempercepat waktu pengembangan produk, menekan biaya produksi, dan tetap menjaga kualitas yang kompetitif di pasar global?
Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan mengadopsi prinsip Concurrent Engineering dengan menekankan kolaborasi lintas fungsi sejak tahap awal, serta menggunakan pendekatan Design for Manufacturing (DFM) dan Design for Assembly (DFA). Alih-alih mengikuti pola sequential tradisional, di mana desain selesai dahulu baru masuk ke tahap manufaktur, perusahaan menjalankan proses secara paralel dengan melibatkan tim desain, produksi, kualitas, hingga pemasok sejak fase perencanaan.
Hasilnya? Proses pengembangan produk berjalan jauh lebih efisien. Iterasi desain berkurang signifikan karena masukan dari manufaktur dan pemasok sudah dipertimbangkan sejak awal. Hal ini tidak hanya mempercepat siklus time-to-market, tetapi juga mengurangi potensi kesalahan yang biasanya muncul di tahap akhir. Dengan cara ini, risiko teknis maupun biaya rework dapat diminimalkan.
Lebih jauh, pendekatan ini tidak hanya mempercepat pengambilan keputusan, tetapi juga meningkatkan kualitas inovasi. Desain komponen yang dihasilkan lebih ramah terhadap proses produksi dan perakitan, sementara tingkat cacat produk menurun. Efisiensi meningkat melalui pemanfaatan material yang lebih optimal, biaya dapat ditekan, dan kualitas produk mencapai standar yang lebih tinggi.
Studi kasus ini membuktikan bahwa CE bukan hanya konsep manajerial, melainkan praktik nyata yang mampu menghadirkan keunggulan kompetitif. Melalui integrasi lintas fungsi, penerapan DFM/DFA, serta keterlibatan pemasok sejak awal, perusahaan white goods di Brasil berhasil membangun ekosistem pengembangan produk yang lebih inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.
Frequently Asked Questions (FAQs)
- Apa yang membuat concurrent engineering unik dibanding metode lain?
CE bekerja secara paralel, bukan bertahap. Seluruh stakeholder dilibatkan sejak awal, sehingga proses lebih cepat, adaptif, dan efisien. - Bagaimana memastikan kolaborasi antar divisi tidak menjadi penghambat?
Kuncinya ada pada budaya komunikasi terbuka, penggunaan tools manajemen proyek bersama, serta penetapan tujuan yang jelas dan disepakati. - Bagaimana batasan peran stakeholder dan supplier dijaga?
Dengan menetapkan peran dan tanggung jawab sejak awal melalui dokumen proyek, serta melakukan mekanisme review yang transparan. - Divisi apa saja yang sebaiknya terlibat dalam tim lintas sektoral?
Minimal meliputi: desain, produksi, quality control, R&D, procurement, dan after-sales service. - Apa saja manfaat utama dari concurrent engineering?
Manfaat utamanya adalah percepatan waktu pengembangan, peningkatan kualitas, efisiensi biaya, serta adaptasi yang lebih baik terhadap perubahan pasar.
Concurrent Engineering adalah pendekatan strategis yang memungkinkan organisasi meningkatkan kecepatan, kualitas, dan efisiensi dalam pengembangan produk. Melalui kolaborasi lintas fungsi dan pelibatan stakeholder serta supplier sejak tahap awal, CE mampu menciptakan sinergi yang mempercepat inovasi sekaligus mengurangi risiko. Namun, keberhasilan CE sangat bergantung pada kesiapan budaya organisasi. Tanpa komunikasi terbuka, koordinasi yang solid, dan peran yang jelas, metode ini justru berpotensi menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin mengadopsi CE perlu menyiapkan struktur yang mendukung kerja lintas sektoral, membangun budaya feedback, serta menginternalisasi prinsip continuous improvement. Dengan demikian, CE bukan hanya menjadi alat teknis, melainkan sumber keunggulan kompetitif jangka panjang.
Referensi
Lee, S. (2025, June 11). Concurrent Engineering in Lean Manufacturing. numberanalytics.com. Retrieved August 8, 2025, from Concurrent Engineering in Lean Manufacturing
Martin, J. W. (2008). Operational Excellence: Using Lean Six Sigma to Translate Customer Value Through Global Supply Chains. Taylor & Francis.
Silva, E. A., Pikosz, P., & Rozenfeld, H. (2010). A case study of concurrent engineering application on the development of parts for the white goods industry in Brazil. Concurrent Engineering: Research and Applications, 18(2), 147–158. https://doi.org/10.1177/1063293X10369673
